THOUGHT&BOOK

February 12, 2023

Samarinda Mood #1

by , in
Jl. Dr. Sutomo

Februari sudah memasuki minggu ke-3, gak kerasa ya? Udah waktunya nih ngecek agenda dan review. Apa saja yang sudah dilakukan dan sejauh mana proses yang dijalankan. Atau malah belum tersentuh sama sekali ya 😄 


Katanya nih, kalau hari-hari terlalu cepat berlalu dan rasanya banyak hal yang tiba-tiba dan tanpa kita sadari... Itu pertanda bahwa kita sedang tidak menikmati hidup dengan benar. Kurang mindfulness dalam keseharian kita, banyak momen-momen yang sebetulnya bermakna terlewat begitu saja. Kita gak benar-benar fokus dengan waktu yang bergerak dan ada perasaan di dalamnya. Ya, hari-hari yang sibuk menjadi penyebab utama. Namun, bagaimana mungkin menghindari kesibukan di hari-hari yang sudah berubah seperti sekarang ini?


Jl. Dr. Sutomo


Banyak saran terbaik dari para pakar yang konsen pada topik ini, mereka menyarankan untuk melatih kemampuan mindfulness atau meditasi. Salah satunya dengan melatih pernafasan dan mengamati pikiran, karena traffic pikiran manusia yang begitu sibuk dan padat seringkali membuat kita benar-benar tidak berada pada tempat kita berada. 


Random menuju Pasar Segiri dan Mall Lembuswana

Saya mencoba melakukan hal yang acak saja karena dorongan impulsif sih, ketika dalam perjalanan mencari sesuatu di pasar. Mata fotografi saya tiba-tiba saja tertarik dengan rangkaian gambar yang melintas sepanjang jalan yang saya lalui. Entahlah, ketertarikan itu muncul begitu saja saat saya larut melamun di boncengan motor bersama suami saja. Momen sederhana yang ingin saya nikmati, sesuatu yang mampu bercerita tentang waktu dan emosi. 


Saya menyertakan bebera kolase yang sempat saya tangkap dengan kamera ponsel sederhana, dengan memanfaatkan cahaya dan momentum waktu seadanya. Mungkin tanpa komposisi yang benar, dan bahkan secara teori tidak menarik. Tetapi, saya melihatnya berbeda. Ada serangkaian cerita yang tertutur dari gambar-gambar yang saya lihat. 


Seputaran Mall Lembuswana

Jl. Kadrie Oening, M. Yamin dan Rumah Makan Sakera
February 07, 2023

Musim Duren dan Cerita Klasiknya

by , in
Musim duren 2023 telah tiba, beberapa bulan terakhir buah berduri dan berlemak ini sudah tampak berjejeran di lapak-lapak pinggir jalan. Dan puncaknya dalam bulan sekarang ini, memasuki Februari harga duren yang tadinya melonjak mahal drastis turun ke harga obral dari harga 10ribu hingga ratusan ribu. 

Duren Melak yang memang selalu populer tiap musimnya, sekarang semakin merata di lapak manapun di seputaran Samarinda-Tenggarong. Entah apakah memang durian dari Melak Kutai Barat atau hanya memakai kepopulerannya saja untuk menarik pasar. Hahaa.. 

Karena memang tidak semua duren yang berlabel Duren Melak ini rasanya enak seperti yang digembar-gemborkan. Memang kalo pas dapet duren Melak, sejauh yang pernah saya cicipin sih enak yaa.. Tapi duren dari beberapa daerah lain juga gak kalah enak loh.. 


Nah, saya pingin cerita nih kalau buah duren atau durian ini gak cuman enak dimakan pada saat dimakan apa adanya. Tetapi, bisa dijadiin beberapa varian makanan dan dicicipi dengan cara yang sebagian orang akan bilang "kok bisa ya? " 

Ibu saya adalah asli suku Kutai, beliau punya kebiasaan unik makan buah duren bersama nasi putih. Jadi semacam lauk gitu tambah diolah dulu lho ya.. Katanya rasanya enak, gak kebayang kan nasi putih sama buah duren yang manis ini? Haha, saya juga gak kebayang sih. Masih suka ngerasa unik aja nih my mom, cuman ibu bilang rata-rata orang Kutai udah biasa sama kebiasaan seperti ini. 

Selain itu, ada yang namanya tempoyak durian, bentuk fermentasi buah durian yang bisa dicicipi kapan saja dan biasanya diolah lagi menjadi sambal goreng. 

Selain itu sambal goreng buah duren langsung tanpa proses fermentasi juga bisa lho dan gak kalah lezat. Nah, ini enak banget dimakan sama nasi dan lauk-pauk lainnya. 

Bubur kacang ijo durian juga lezat lho.. Cuman yang agak aneh adalah kolak pisang campur duren. Haha. Oh ya, akhir-akhir ini buah duren udah banyak varian olahannya nih, misalnya susu durian, sop durian, es krim durian, dan macem-macem lagi yang sudha dimodifikasi jadi makanan kekinian. 
Jadi misal gak bisa langsung makan buahnya, bisa nih menyantap berbagai olahan lainnya yang enak dan gak lagi berbau ekstrem. 

Saya sendiri lebih suka buah durennya dimakan pas baru dibuka gitu, dengan daging yang tebal dan tekstur yang pulen. Daging duren yang lembut dan manis, dan mirip mentega gitu warna dan ketebalan dagingnya. 

Ada mitos nih kalo habis makan duren, kulitnya itu di isi air minum trus langsung diminum dari wadah tersebut kayak gelas gitu. Katanya perlakuan tersebut adalah penangkal, yang tadinya duren bisa berbahaya kalo kebanyakan makan dan lain-lain dijamin aman bagi tubuh. 

Yuk berburu duren mumpung lagi rame di mana-mana, khususnya daerah Kalimantan ya.