THOUGHT&BOOK

Review Buku: Totto-Chan's Children, A Goodwill Journey to the Children of the World. Tetsuko Kuroyanagi



"Buku ini kupersembahkan kepada 180 juta anak yang meniggal karena kekurangan gizi, penyakit menular, atau perang saudara, anak-anak yang selalu memercayai orang dewasa dan tak pernah mengeluh, dalam kurun waktu tiga belas tahun selama aku menjadi Duta Kemanusiaan UNICEF sejak tahun 1984 sampai 1997. Beristirahatlah dalam damai, anak-anak."

Dalam bahasa Indonesia, buku ini berjudul "Anak-anak Totto-Chan. Perjalanan Kemanusiaan untuk Anak-anak Dunia." Seperti judulnya, perjalanan kemanusiaan yang dilakukan oleh Tetsuko Kuroyanagi ketika ia menjadi duta kemanusiaan UNICEF pada tahun 1984. 

Perjalanan ini pun dimulai dari tahun 1984 hingga 1996; di tujuh negara benua Afrika, lima negara di benua Asia, satu negara di benua Amerika, dan terakhir di benua Eropa. Kisah-kisah menyedihkan juga mengerikan mengalir langsung dari setiap pengalaman Tetsuko Kuroyanagi, bagaimana ia menggambarkan kelaparan dan penderitaan di wilayah-wilayah termiskin di dunia, di kawasan konflik yang tak berujung, dan wilayah tandus yang mengenaskan.

Tetsuko Kuroyanagi sangat perduli akan pertumbuhan anak-anak dalam kondisi-kondisi sulit tersebut, sangat alami terlihat dari jurnal perjalanan yang dibukukan ini. Ia menunjukan empati yang cukup menyentuh, tanpa mencari kambing hitam. Karena korban tetaplah korban. Dan itu yang terjadi pada anak-anak ini.

Sebelumnya ia sudah pernah menulis buku tentang masa kecilnya sebelum perang dunia kedua hingga datangnya perang, "Totto-chan Gadis Cilik di Jendela" buku ini pun sangat menyentuh dengan gaya penceritaan Tetsuko Kuroyanagi yang mengalir, tentunya didukung dengan terjemahannya yang juga bagus.

Tetsuko Kuroyanagi mengunjungi benua Afrika, dimana negara-negaranya terkenal dengan kemiskinan, kelaparan, kekeringan, wabah kolera dan konflik perang saudara. Diantaranya yang ia kunjungi ialah Tanzania, Nigeria, Mozambik, Angola, Etiopia, Sudan, dan Rwanda.

Daerah-daerah ini mengalami begitu banyak kesedihan, banyak anak-anak yang tak lagi memiliki orang tua. Anak-anak yang kekurangan gizi dan menyebabkan disfungsi kerja otak juga menghentikan pertumbuhan. Selain itu pula, padang gurun yang semakin meluas dengan suhu yang panas dan selalu rata-rata diatas 40 derajat celcius. Kematian silih berganti dan yang bisa mereka lakukan adalah bertahan, meskipun pihak pemerintah terus berusaha mengkatkan kesejahteraan mereka ketika itu. Kemiskinan pun melengkapi mereka, walaupun rata-rata Afrika memiliki banyak logam-logam langka yang penting untuk bahan teknologi canggih.

Sementara itu, di Mozambik terjadi pergolakan perang saudara yang didukung oleh pemerintahan Afrika Selatan, negara ini dikuasai oleh ras kulit putih yang kemudian menerapkan politik apartheid untuk membendung laju pemerintahan kulit hitam.

Kemudian, Tetsuko Kuroyanagi mengunjungi benua Asia, menyinggahi India, Kamboja dan Vietnam, Banglades, dan Irak. 

Ketika itu, angka kematian anak-anak jika dirata-rata dan dibandingkan dengan Afrika sekalipun, Asia ternyata menjadi yang tertinggi. Dan itu di India, dengan kematian terbanyak disebabkan oleh penyakit tetanus, diare, dan kekurangan gizi. Misalnya saja di kota Madras yang sebetulnya adalah kota yang indah dan cukup populer di kalangan wisatawan, namun korban tetanus dan kekurangan gizi menjadi yang terbanyak disini. Bakteri tetanus yang menyebar di tanah ini menjadi endemik di sana, anak-anak yang biasa bermain atau tidur di atas tanah dengan mudah menjadi terinfeksi. Penyakit ini membuat tubuh menjadi sangat kurus dan tulang terlihat jelas, kaki menjadi keras dan kering, dimana otot-otor menjadi kaku dan mengejang. Apakah ketika itu belum ada vaksin? ada, namun karena keterbatasan teknologi dan tak ada aliran listrik untuk membuat tempat penyimpanan vaksin atau lemari es. Hal ini tenyata menjadi kendala utama dalam pengobatan mereka, dan kemudian UNICEF pun mengembangkan vaksin yang tidak perlu disimpan di lemari es.

Kamboja dan Vietnam. Negara Vietnam adalah bekas jajahan Amerika dan Kamboja menjadi korban trik licik Amerika melalui Khmer merah, kedua negara inipun berbatasan cukup dekat. Di Vietnam, kekeringan dan banjir besar menyebabkan kekurangan pangan yang parah, mereka pun ketika itu baru terbebas dari jajahan dan masih berusaha bangkit. Amerika pun meninggalkan jejak bom beracun yang menyebabkan ribuan anak menjadi tuna netra. Tidak itu saja, bahkan akibat racun yang ditinggalkan Amerika, banyak bayi yang terlahir cacat.

Kamboja pun menderita kekurangan pangan akibat perang dan genosida, ketika Khmer Merah  berkuasa selama kurang lebih tiga tahun pada tahun 1976. Dibawah kekuasaan Pol Pot terjadi pembantaian manusia yang sangat mengerikan, rezim yang ingin memusnahkan kebudayaan dan peradaban Kamboja. Dan anak-anak yang tersisa pun menjadi yatim-piatu.

Tetsuko Kuroyanagi mengunjungi Bangladesh dan menemukan Bank Grameen yang didirikan oleh Dr. Muhammad  Yunus. Bank ini adalah bank yang hanya khusus memberikan pinjaman modal usaha untuk para wanita.

Ketika itu Bangladesh sudah menjadi negara termiskin di dunia, negara yang juga sering mengalami bencana banjir dan menghancurkan pertanian. Negara ini pernah dijajah Inggris dan Pakistan. Di wilayah yang disebut Komolaphr, penduduk-penduduk miskin bermukim di atas gundukan sampah, ironisnya di perkampungan-perkampungan miskin ini mereka tetap harus membayar sewa. Tercatat anak-anak korban penyakit yang berhubungan dengan diare sangat tinggi disini, anak-anak kecil harus bekerja membantu mencari nafkah. Namun ketika itu, sudah berdiri rumah sakit terbaik di dunia untuk Diare,  yang merupakan bagia dari International Center for Diarrheal Disease Research, adalah pusat penelitian internasional untuk diare.
Irak pada tahun 1991, setelah perang Persia, Amerika dan sekutu melancarkan serangan udara secara besar-besaran. Bahan makanan menipis tanpa bisa memproduksi dan sanksi ekonomi diberlakukan  dan membuat inflasi di titik ekstrem. Pasar gelap merajalela bahkan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Pengeboman tepat sasaran yang dilakukan pada saat itu benar-benar menghancurkan yang mereka tuju, seperti instalasi listrik dan bangunan-bangunan penting lainnya. Ini sangat berpengaruh pada keadaan masyarakat Irak, tidak ada listrik, tidak ada air, pipa saluran pembuangan pun pecah dan hancur, feses manusia menggenangi rumah-rumah penduduk. Tentu dampak buruk bagi bayi dan anak-anak adalah kekurangan gizi dan tipus.

Tetsuko Kurayanagi pun mengunjungi Haiti pada tahun 1995. Negara yang masuk di benua Amerika ini adalah negara kecil di Laut Karibia, yang pada awalnya dikuasai oleh Spanyol. Setelah kondisi politik yang tidak stabil, hampir 80% tercacat pengangguran di negara ini dan menjadi salah satu wilayah termiskin. Dan terdapat begitu banyak anak jalanan yang tidur di pinggiran jalan, mereka adalah anak terlantar dari ayah yang terkadang mereka sendiri tidak tahu, karena di Haiti wanita dengan lebih dari satu pasangan dianggapa biasa. Kemudian anak-anak ini di usir dari rumah setelah berumur delapan tahun. Haiti ketika itu pun sudah terkenal dengan prostitusi anak-anak berumur 12-an tahun entah laki-laki ataupun perempuan, namun dengan pelanggan nyaris semua laki-laki, ini menyebabkan 72 % pelacur di sini sudah terjangkit virus HIV. 

Ada percakapan yang sungguh tragis; "Tidakkah kau takut tertular AIDS?" "Aku memang takut, tapi kalauupun aku tertular AIDS, aku masih bisa hidup beberapa tahun lagi, kan? Kau tahu, keluargaku tidak punya makanan untuk besok."

Tentu mereka, anak-anak dan para bayi mengalami berbagai penyakit selain atau yang disebabkan karena kekurangan gizi. 

Ditengah semua itu, presiden Aristide membuka hotline telepon khusus antara yayasan untuk keluarga dan anak-anak yang didirikannya langsung tersambung padanya. Pak presiden membolehkan mereka untuk meneleponnya kapan saja untuk menyampaikan sesuatu yang hendak mereka sampaikan.

Terakhir adalah Bosnia-Herzegovina. Negara ini adalah salah satu negara Eropa, yang terdahulu disebut Yugoslavia dengan gabungan enam republik. Hal ini menyebabkan terjadinya perselisihan dan perang saudara antara orang-orang Serbia yang anti kemerdekaan dan muslim Kroasia yang pro kemerdekaan. Mereka hanya menginginkan satu suku bangsa, hingga perempuan dan anak-anak menjadi sasaran pemerkosaan dan pembunuhan. Pada tahun 1993, 97% anak-anak pernah mengalami serangan granat, menyebabkan mimpi buruk, trauma, dan cacat secara fisik. Kebengisan itu bahkan menaruh bom dalam boneka kesayangan anak-anak yang meledak ketika mereka memeluknya.
"Kita tidak dilahirkan untuk saling membenci, kita dilahirkan untuk saling mengasihi."


*)Sumber Gambar: Dokumen Pribadi.

No comments:

Post a comment