THOUGHT&BOOK

Review Buku: Greta Thunberg, Tak Ada Yang Terlalu Kecil Untuk Membuat Perbedaan

"Untuk anda semua yang tak pernah memperlakukan krisis ini sebagai krisis."

Buku kecil ini adalah buku yang sangat kecil serupa buku saku dengan 59 halaman saja. Yang isinya adalah terjemahan beberapa pidato Greta Thunberg mengenai krisis iklim dari September 2018 hingga April 2019 di beberapa Negara.

Greta Thunberg, gadis kelahiran Swedia yang berusia 16 tahun ini mengidap sindrom Asperger, yaitu gangguan neurologis atau saraf yang tergolong dalam spektrum autisme. Namun kondisi ini memiliki kelebihan yang membuat pengidapnya menjadi lebih cerdas dan memahami bahasa dengan mudah, serta kesulitan dalam bersosialisasi. Keadaan khusus inilah yang membuat Greta Thunberg menjadi berbeda dari kebanyakan remaja di usianya, ia menjadi lebih kritis akan lingkungan sekitar dan lebih fokus untuk hal-hal tertentu yang membuatnya tertarik dan lebih penting secara mendalam.

Greta Thunberg sendiri mengakui bahwa, ia terinspirasi melakukan pemogokan belajar pada jam sekolah untuk menunjukan protesnya terhadap kurangnya kesadaran umum pada krisis iklim ini, dari aksi pemogokan siswa di Parkland Florida Amerika Serikat ketika terjadi penembakan pada para siswa oleh salah satu siswanya sendiri di sekolah.

Ada beberapa pidato yang menyentuh dan saya sangat terpukul dengan kata-katanya, "kita tidak pernah memperlakukan krisis ini sebagai krisis". Harus kita akui atau terkhusus untuk diri saya sendiri, kesadaran yang rendah mengenai krisis iklim yang menurut para ilmuwan hanya dalam kurun waktu kurang lebih 11 tahun kedepan dampak berantai yang berkepanjangan dari efek rumah kaca ini sudah tidak dapat di tanggulangi lagi. 

Sekitar tahun 2030, 10 tahun, 259 hari dan 10 jam dari sekarang (16 April 2019), reaksi berantai dari efek rumah kaca dan kemungkinan dari berakhirnya peradaban. (IPCC).

Dimana kita tengah berada ditengah-tengah kepunahan massal ke-enam dengan 200 spesies akan punah setiap harinya. 10.000 kali lebih cepat dari yang dianggap normal. 

"Dan saya ingin membuat anda panik"

Ya, tentu saja Greta bisa meneriaki kita dengan cara demikian, mengingat efek dari rumah kaca ini tidak hanya akan menyebabkan pemanasan global, mencairnya es di kedua kutub di bumi, meningkatnya volume air di laut, pun laut menjadi semakin asam, dan menipisnya lapisan ozon. Artinya apa? kepunahan ekosistem di bumi, di seluruh bumi. Secara keseluruhan. Mungkin sekarang kita tidak terlalu menyadarinya atau kita merasa ini hal biasa yang terjadi, dan rentang waktu bencana itu masih lama?
Kondisi yang mungkin tak pernah benar-benar nyata kita bayangkan, seperti erosi tanah subur lapisan atas, deforestasi hutan, polusi udara beracun, hilangnya serangga dan marga satwa. Sedangkan di kutub utara akan terjadi titik kritis atau titik balik karena gas metana yang kuat dilepaskan dari pencairan permafrost.

Bagaimana jika ternyata kita salah? bukankah hari-hari semakin terik dan suhu panas yang seringkali terasa membakar, mungkin sebagian dari kita hanya merasakan sebatas itu saja. Tanpa kita sadari bahwa ekosistem di laut mulai menyusut, hutan-hutan semakin habis, industri modern semakin pesat, lalu-lintas yang menggunakan bahan bakar fosil pun semakin umum. Sementara itu, limbah rumah tangga juga menjadi sumbangan yang signifikan menghasilkan gas metana. Itu semua berdampak pada terjadinya efek rumah kaca dan kembali memberi dampak yang semakin parah dari efek rumah kaca ini.

Dalam pidato-pidatonya, Greta dibantu oleh data-data dari para ilmuwan dan sesama aktivis yang bergerak dibidang yang sama. Walaupun Greta sebetulnya bergerak secara independen. 

Johan Rockstrom, seorang profesor asal Swedia menulis bahwa kita hanya memiliki 3 tahun untuk membalikan peningkatan emisi gas rumah kaca sesuai dengan Perjanjian Paris. Namun, hal itu belum terpenuhi. Yang mana seharusnya pemanasan global dijaga tetap pada kondisi dibawah 2 derajat celcius.

Swedia sendiri termasuk ke dalam 10 negara yang memiliki jejak karbon terburuk di dunia. Dan seharusnya negara-negara seperti Swedia dan Inggris mampu mengurangi emisi sebanyak 15% per tahun agar tetap menjaga pemanasan global 2 derajat celcius. 
Greta juga mengatakan negara-negara kaya harus menurunkan emisi ke titik nol dalam 6-12 tahun kedepan, sehingga negara-negara miskin dapat meningkatkan taraf hidup dan membangun infrastruktur. Karena, negara seperti India dan Nigeria yang merupakan negara miskin tak akan perduli pada krisis iklim melihat negara kaya saja pun tak perduli. Mungkin ini yang dimaksud Greta dengan aspek ekuitas.

"Kita mengorbankan biosfer, sehingga orang-orang di negara maju seperti negaraku dapat hidup mewah."

Sementara menurut IPCC (Intergovernmental Panel on Climate Change), atau panel ilmiah tentang perubahan iklim yang terdiri dari ilmuwan di seluruh dunia,

Deskrips

pemanasan global harus turun 1.5 derajat celcius dengan mengurangi emisi karbondioksida sebesar 50% pada 2030. EU (European Unite-Uni Eropa) sendiri merencanakan untuk menurunkan emisi gas rumah kaca hingga 45% dari tahun 1990-2030, namun hal tersebut menjadi sesuatu yang sangat ambisius di mata dunia. 

Sementara Greta mengatakan hal tersebut saja belum cukup, karena masa depan anak-anak perlu diperhitungkan sehingga penurunan yang seharusnya dilakukan adalah sebesar 2 kali lipatnya, 80% jika dihitung dari tahun 1990-2030.

"Semakin besar jejak karbon anda semakin besar tanggung jawab anda."

Apa yang dikatakan Greta diatas bikin saya jadi dilema mau traveling naik pesawat dan makan banyak daging. Greta sendiri sangat idealis untuk tidak menggunakan pesawat dan menjadi seorang vegan. Mungkin saya belum bisa total, tapi saya rasa wajib untuk mempetimbangkan segala bentuk tindakan dan pilihan produk atau apapun yang dapat bersinggungan dengan aspek lingkungan.
Ada lagi nih kata-kata Greta yang bikin saya berpikir, dan termenung. "Dimana selebritis, bintang film dan bintang pop yang menentang semua ketidak-adilan tidak akan membela lingkungan kita dan untuk keadilan iklim karena hal tersebut akan memberi hak pada mereka untuk terbang ke seluruh dunia mengunjungi restoran, pantai, dan regret yoga."

Yep, kira-kira begitulah yang dapat saya inget-inget dari buku kumpulan pidato Greta Thunberg ini, bukunya sih kecil aja tapi isinya membuat saya merenung dan terus merenung. Terjemahannya pun cukup asik kok oleh Penerbit Pustaka Osiris.


*)Source Image: Ria Mega Sari, Google. *)Referensi: Google.



No comments:

Post a comment