THOUGHT&BOOK

Review Buku: Dengarlah Nyanyian Angin, Haruki Murakami

"Tidak ada kalimat yang sempurna. Sama seperti tidak ada keputusasaan yang sempurna."
Cerita ini dimulai tanggal 8 Agustus 1970, dan berakhir delapan belas hari kemudian, yakni tanggal 26 Agustus di tahun yang sama. (hal, 6).

Aku, seorang mahasiswa yang berkuliah di Tokyo begitu menggemari Derek Heartfield, sorang penulis yang bunuh diri. Namun, Derek Heartfield ini hanya sosok imajinasi dari Haruki Murakami. Aku, begitu ia membawakan narasinya dalam cerita ini, mengisahkan bagaimana ia tumbuh dewasa di kota kecil kelahirannya itu, sebuah kota kecil di tepi laut. Ia tumbuh dari seorang anak kecil yang sangat pendiam hingga menjadi seorang dewasa yang memiliki karakter tenang atau, apatis ya? entahlah, saya cuman ngerasa gak cukup hangat ketika berkenalan dengan tokoh 'aku' ini sebagai seorang pria, dia nyaris tanpa emosi yang dramatik. Tapi, cukup simpatik sebetulnya, ketika bagaimana ia memperlakukan Nezumi, sahabatnya di kota itu. Atau ketika ia menceritakan tentang kekasih-kekasihnya dan seorang teman kencan ketika ia liburan kuliah dalam delapan belas hari itu.
Mungkin, pertumbuhannya dipengaruhi oleh perkembangan masa ketika itu. Dimana Jepang baru tumbuh diantara dua budaya, yaitu tradisional dan budaya barat yang menjadi perkembangan modern setelah perang dunia II, dan ia pun mengidap penyakit saraf tulang belakang.

Ada juga cerita tentang Jay's bar, tempat minum yang biasa menjadi tempat bertemu 'aku' dan Nezumi. Di sana pula lah awal pertemuannya dengan seorang gadis misterius penjaga toko piringan hitam, yang gak sengaja menjadi teman wanitanya ketika itu.

Namun, kisah itu gak berlanjut. Gadis yang patah hati itu setelah menggugurkan kandungannya entah dengan siapa, menghilang begitu saja.

Sedangkan Nezumi adalah anak seorang hartawan yang entahlah, seperti muak dengan kehidupannya sendiri. Uniknya, Nezumi justru menjadi seorang novelis di kemudian hari, pada awalnya ia hanya terpengaruh dengan kebiasaan 'aku' yang senang membaca dan membawa-bawa buku.
Sebetulnya saya hampir lupa sih kisah dalam buku ini, karena udah beberapa bulan lalu bacanya, jadi mungkin yang saya ulas ini hanya potongan-potongan yang masih diragukan akurasinya hahaha... yah, ini hanya berdasar ingatan saya aja sih. Dan ngintip-ngintip lagi bukunya, tapi males juga ngebaca lagi ya.

Tapi, novel ini cukup tipis loh hanya 119 halaman. Yah, sedikit membosankan memang, karena ceritanya begitu hening dan terasa kosong, konfliknya sebetulnya gak ada yang harus diselesaikan atau mungkin delapan belas hari itu adalah konflik yang menjadi titik balik dalam diri 'aku'.

Seperti tulisan Haruki Murakami lainnya,  dengan gaya yang sama, selalu berhasil membuat kekosongan dan jeda hening dalam diri pembaca. Namun, selalu ada informasi yang keren dalam tulisan-tulisannya, dan saya sangat mengagumi gaya bercerita karena membuat saya larut merasakan masing-masing karakternya. Dan juga terbang jauh ke tempat yang ia ceritakan.

:)

*)source image: pribadi

1 comment:

  1. Wah ini malah jadi buku favorit kesukaaanku dari bbrpa bukunya haruki kak 😅. Emang sih konfliknya kayak gak ada ya, tapi sesuai dgn judulnya

    ReplyDelete