THOUGHT&BOOK

PLOT

"Plot adalah peta bagi seorang penulis ketika mengembara dalam belantara kata-kata." Mengutip dari seorang DEE Lestari, salah satu penulis terbaik yang dimiliki Indonesia. 

Plot yang saya maksudkan di sini adalah plot cerita dalam karya sastra. Dimana, plot atau alur cerita adalah serangkaian peristiwa yang runtut sesuai hubungan sebab-akibat. Dalam hal ini, rangkaian plot dapat disusun secara detil atau secara garis besar saja, seperti kata DEE, 70% kita dapat menulis cerita sesuai plot yang telah disusun, selanjutnya 30% adalah kejutan yang dapat ditemukan ketika proses menulis .

Penulis besar seperti DEE saja sangat membutuhkan Plot atau menyusun kerangka terlebih dahulu ketika akan menulis cerita yang cukup panjang, untuk menghindari tersesat ketika di tengah kepenulisan atau writer's block secara teknis. Lagi-lagi saya mengutip apa yang DEE katakan, dan sebetulnya saya menulis ini karena terinspirasi dari obrolan DEE ketika live di akun Instagramnya bersama Mizan tadi sore.

Ada yang cukup menggelitik saya tentang plot yang berantakan, apa itu plot yang berantakan? dan kenapa ya bisa begitu? 

Em, mungkin kira-kira begini, apa saja yang dapat dan seharusnya ada di dalam plot? barangkali fakta-fakta dari peristiwa yang akan ada dalam cerita, bagaimana cerita itu dimulai. Secara bertahap, apa saja yang harus kita tulis di dalam cerita nantinya, sudah tertuang di dalam plot tadi. 

Pendek kata, semua bahan untuk seluruh cerita yang akan kita garap sudah ada dalam plot cerita. Baik alurnya akan mundur maupun sebaliknya atau alur campuran dari keduanya, yang paling penting adalah hubungan sebab-akibat dari awal kepenulisan hingga akhir.

Bagaimana membuka cerita, mengenalkan para tokoh, meletakkan latar tempat dan waktu, menampilkan konflik hingga menggiring konflik tersebut, dan menyelesaikan konflik. 
Lalu bagaimana plot bisa dikatakan berantakan? gak tahu juga sih ya, saya belum pernah membaca cerita dengan plot yang membuat saya bingung dan merasa seperti ada yang gak beres. Tapi, khawatirnya justru ketika saya menulis, saya akan menulis dengan plot yang berantakan.

Oke, saya tarik kesimpulan, suatu plot cerita dikatakan berantakan ketika hubungan sebab-akibat terputus di beberapa bagian cerita. Atau ada beberapa konflik yang tidak saling terhubung dan membuat kebingungan bagi pembaca, ini yang mana konflik utama sih? atau, kok gak nyambung?

Pembaca tidak mendapatkan apa-apa dari yang ingin disampaikan oleh penulis, akhirnya sama-sama pada tersesat kan? ya penulis apalagi pembaca.

Ada 3 unsur penting dalam menyusun plot cerita, yaitu:

1. Tahap Awal

Umumnya pada tahap ini penulis akan mengenalkan berbagai latar cerita dan pengenalan tokoh. Memuat informasi-informasi penting yang mungkin saja akan menjadi garis hubung untuk penceritaan selanjutnya.

2. Tahap Tengah

Di sini penulis akan menyuguhkan konflik dan klimaks yang tentunya sangat berkaitan. Pada bagian ini pula akan menjadi semacam nyawa bagi cerita, di mana cerita akan digali sedalam-dalamnya melalui konflik yang terjadi dan tokoh-tokoh yang terlibat. 

Penulis akan menulis lebih panjang pada tahan ini.

3. Tahap Akhir
Bagaimana penulis akan mengakhiri konflik cerita, di mana penulis bisa membuat kejutan-kejutan untuk pembaca. Kepuasan pembaca akan di uji pada bagaimana seorang penulis menyelesaikan konflik yang ia ciptakan. Pada tahap ini, penulis harus menyusun dengan baik plotnya, karena ini akan menjadi acuan penting untuk menghindari kebablasan ketika menulis akhir cerita.

Ya, seperti itulah unsur klasik dalam penyusunan plot yang masih relevan hingga kini. Dan sebetulnya ada beberapa macam bentuk alur cerita, tapi lain kali ya saya bahas. :)




*)Source image: Pinterest&RiaMegaSariIllustration, Referensi: Google&Jurnal http://digilib.unila.ac.id/14686/7/II.pdf

No comments:

Post a comment