THOUGHT&BOOK

Review Buku: Kisah Klasik dari Louisa May Alcott, #LittleWomen

Yihaa! ini buku #1 yang saya selesaikan di awal tahun ini. 2020. Semoga pertanda baik ya, untuk menyelesaikan lebih banyak lagi buku-buku dalam tahun ini :)
LITTLE WOMEN.

Saya jatuh cinta ketika hanya baru mendengar obrolan tentang buku ini di podcast Coming Home with Leila S Chudori. Sebuah acara bincang buku dengan para penulis atau pun seorang tokoh publik yang gemar membaca, gratis di spotify setiap hari rabu. Tahun 2020 adalah tahun kedua dari acara ini, yang di gagas oleh penulis Indonesia terkemuka yaitu mbak Leila S Chudori.

Wah, jadi nge-review podcast-nya Coming Home deh. Karena memang berawal dari acara tadi saya jadi penasaran bagaimana sih kepenulisan Louisa May Alcott, yang katanya mbak Petty Fatimah deskripsinya sangat dekat dengan imajinasi kita. Bagian seperti ini adalah favorit saya banget.
Film Little Women tahun 1994
Lalu, ketika beberapa halaman pertama saya mulai terbawa hingga bab-bab selanjutnya. Tapi, buku yang saya baca adalah Little Women terjemahan dan berbeda dari filmnya sendiri di tahun 1994 yang dimainkan oleh Winona Ryder. Kenapa berbeda? karena versi film ini, kisah hidup ke empat gadis March dibuat tidak hanya berdasarkan dari novel Little Women, namun di bundling dengan novel lanjutannya yaitu Good Wives, dimana kehidupan mereka masing-masing telah menginjak dewasa dan masalah hidup yang semakin rumit. Oh ya, saya lagi PO loh untuk Good Wives terjemahan Gramedia yang akan terbit besok, 13 Januuari 2020 dengan cover yang lebih menarik.  :))

Louisa May Alcott adalah penulis Amerika yang hidup di tahun-tahun menuju pertengahan tahun 18-an. Tepatnya lupa, hehehee... dan buku ini pertama kali terbit sekitar tahun 1860-an, lagi-lagi lupa sih tepatnya. Any way, buku ini adalah novel klasik yang wajib di baca. Versi yang saya baca sih ketebalannya sekitar 382 halaman. Yakin deh kalau gak banyak kerjaan, sehari semalem bisa selesai nih. Karena kehidupan mereka dalam novel ini digambarkan yang asik banget gitu. Katanya juga sih, ini adalah semacam autobiografi Louisa May Alcott yang di gambarkan dalam karakter Jo.
Hm, kita masuk ke bagian ceritanya gimana sih?

Jadi ketika itu, di Pennsylvania Amerika hiduplah sebuah keluarga sederhana. Mereka di tinggal sang ayah ke medan perang. Dan di dalam rumah mereka yang hangat dan religius, Mrs. March memiliki 4 orang putri yang masing-masing memiliki daya tarik. Dari Meg 16 tahun, yang cantik dan dewasa namun memiliki impian menjadi lady yang terhormat sementara ia sendiri harus bekerja sebagai pengasuh dan guru pribadi di sebuah rumah kelas menengah-atas. Lalu, Jo 15 tahun yang sangat suka membaca dan menulis, ia seperti anak tomboi  kalau istilah kita sekarang. Di bawahnya lagi, ada Beth yang lembut dan paling pemalu diantara saudari-saudarinya, ia sangat menyukai musik dan piawai memainkan piano, usianya 13 tahun. Terakhir adalah Amy, berusia 12 tahun, ia agak cerewet seorang gadis kecil yang selalu ingin tampak dewasa, satu hal yang menarik darinya adalah bakat seni lukisnya.

Hidup dalam segala keterbatasan karena mereka jatuh miskin, tidak membuat keluarga ini lantas terpuruk dan berlaku tidak menyenangkan bagi sekitarnya. Mereka masing-masing sangat giat bekerja, dan menjadi gadis-gadis yang patuh pada ibunya. Meskipun di tinggal sang ayah bertahun-tahun dengan harapan ayah mereka akan kembali suatu saat nanti.

Ada banyak keseruan kehidupan remaja di sini, tapi juga kesedihan-kesedihan setiap keluarga. Namun, tokoh utamanya memiliki akhir yang indah dalam novel Little Women ini.:) Walaupun ceritanya masih akan berlanjut panjang.

Di sini banyak ditulis nilai-nilai moral tanpa menggurui, dari segala kejadian dan tingkah masing-masing tokoh dalam novel ini. Yang paling saya suka adalah bagaimana melatih diri untuk senantiasa rendah hati dan bekerja keras. Bahwa bekerja dengan tekun, itu baik untuk diri dan sesekali bermain. Keseimbangan.

"Kesombongan selalu mendahului kejatuhan."

Lantas, bagaimana dengan gaya tulisan Louisa May Alcott sendiri? seperti yang mbak Petty Fatimah ceritakan, ia memiliki kemampuan deskriptif yang sangat menarik, dimana kita bisa membayangkan jendela bersalju di depan rumahnya, ruang makan tempat mereka berkumpul, kamar anak-anak dan kamar Mrs March, atau bagaimana keindahan rumah Laurie yang indah. Laurie sendiri adalah sahabat mereka, tetangga yang baik dan ramah.

Louisa May Alcott tidak menulis hanya terpusat pada kehidupan satu keluarga ini, ada beberapa keluarga yang ia tuliskan dan banyak tokoh yang terlibat dalam novel ini. Masing-masing memiliki peran yang jelas dan berhenti di saat yang tepat, jadi kita gak akan bertanya "eh si ini kok gak jelas gitu munculnya dan perannya apaan?" nah saya sering banger tuh kayak gitu, hahahh... suka ngerasa bingung ketika membaca satu buku yang macem-macem tokohnya, tau-tau ilang gak jelas perannya di situ apaan, apakah cuman buat manjang-manjangin cerita dan pengisi bab yang pada akhirnya malah menyisakan tanda tanya yang gak asik di akhir cerita, Hahahhaaa... serius banget buuu :D

Okeeiii, novel ini saya rekomendasiin banget deh buat teman-teman pembaca, tinggal suka apa gak aja sih dengan genre klasik begini. Hehehee... Dan, bukan cuman novel Little Women ini saja yang wajib banget dibaca, tapi juga penulisnya Louisa May Alcott. Dia jadi salah satu penulis keren favorit saya deh. :)

Oh iya nih, sebetulnya udah ada lagi nih di adaptasi ke film yang tayang Desember 2019 kemaren di Amerika, katanya sih di Indonesia baru Februari nanti. Selamat menunggu :)
Film Little Women tahun 2019



*)Source Imange: Pinterest, Referensi: Coming Home With Leila S Chudori

1 comment:

  1. Penasaran sama film nya :D , diliat dr review bukunya menarik sih

    ReplyDelete