THOUGHT&BOOK

July 19, 2020

Kritis Terhadap Diri Sendiri

by , in

Beberapa waktu yang lalu tiba-tiba saya terpikir untuk membolak-balik sudut pandang saya, (haha apaan ya istilahnya? merenung kali) :) Kenapa? gak tahu juga sih, mungkin dari beberapa bacaan, tontonan, atau obrolan sama suami, (dominannya sama suami kayaknya, soalnya temen diskusi), juga temen-temen kantor atau liat status-status di medsos, chit-chat sama temen-temen lama mungkin. Intinya reaksi dari apa yang dialami dari lingkungan sekitar gitu...

Mungkin karena lagi mood-nya bagus juga, pikiran jadi lebih fresh gitu :D

Emm, jadi begini... seringkali kan ya kita itu ketika ada pada posisi atau ketika melakukan sesuatu yang berbeda dari kebanyakan, (mau bilang pada batas tidak normal, tapi nanti jadinya malah generalisasi tentang sebuah kenormalan dong) ada aja tuh komentar yang agak mengganggu. Karena hal tersebut tadi berbeda. Sebetulnya kan mungkin memang wajar gitu, tiap orang kan beda-beda dan justru juga karena adanya pola yang sama tentang sudut pandang. Kebetulan nih misal kita ada di kutub yang berlawanan dari kebanyakan, maka akan timbul benturan-benturan pada dua sisi tadi.

Nah, sayangnya hal-hal semacam ini menjadi salah satu sebab kesenjangan dalam pergaulan. Kita jadi salah sangka trus menjauh dari orang-orang yang tadi beda dan menyebabkan situasi seperti itu yang mungkin bikin gak nyaman, terus ada namanya tesinggung, sakit hati, dan parahnya balas dendam dong.. heheee.

Ribet ya penggambaran saya seperti apa sih yang saya maksud, jadi misalnya gini nih... 

Saya bertanya pada diri saya sendiri, "kenapa kamu ingin punya anak? kamu siap punya anak? kamu udah merencanakan apa untuk anak kamu?" terus saya berpikir lagi beberapa alasan untuk itu, sejujur-jujurnya dan mengoreksi lagi alasan saya. "Karena malu udah beberapa tahun menikah gak punya anak? malu karena berbeda dari kebanyakan perempuan? atau memang suka sama anak kecil? atau memang seharusnya untuk memiliki keturunan karena nanti bisa ngurusin kita sewaktu tua? karena gak enak sama orang tua dan mertua, atau suami?" hemm, "iya ya, saya mikirin gak sih punya anak itu gimana dan apa yang harus saya siapin? masa melahirkan mereka untuk sesuatu yang malah nantinya akan menjadi beban buat mereka?" dan begini, "saya kebanyakan mikir yah, kalau udah takdirnya akan dikasih kapanpun Allah mau dong..."

Ya udah sih, kelar deh. Gak perlu ribet mungkin sebetulnya mikir udah kemana-mana gitu. Bukankah semua udah diatur, kenapa kita jadi protes dan nyalahin diri sendiri atau lingkungan sekitar. Kenapa harus tersinggung akan pendapat umum yang mungkin bikin kita gak nyaman. Toh, mereka bebas untuk berpendapat, itu urusan mereka dengan diri mereka sendiri. Kenapa pikiran kita harus mereka yang mengendalikan. Atau suatu kondisi, waktu dan tempat? 

Kenapa? 

Balik lagi ke diri sendiri, "eh saya mikir apaan sih? kok dibawa rumit sih? dan sebagainya dan sebagainya." Pokoknya gitulah, 

hal-hal yang tidak bersifat teknis dan sistematis yang kita terima harusnya gak berpotensi menjadi destruksi untuk diri sendiri. 

Nah, itu sih salah satu contoh masalah aja ya, dan banyak kasus-kasus serupa yang semestinya gak perlu menyita perhatian kita atau malah ya udah sih lewatin aja gitu, karena pasti sifatnya sama aja kayak masalah yang tadi saya ilustrasikan dan oleh karena pola pikir orang yang beda-beda jadi kita juga mesti punya cara pikir yang kuat. :)

Lagian kalau dipikir-pikir ya, kita akan lebih bersyukur ada di kondisi yang pada akhirnya dapat membuat kita lebih empati ketika suatu saat menemukan kondisi yang sama pada orang lain selain kita. Well, kenapa mesti tersinggung, kenapa mesti marah dan lain sebagainya. Untuk kondisi-kondisi tertentu sebetulnya emosi semacam itu bisa dikontrol kali ya, kalau kata suami saya sih, 

"kita tuh butuh jeda sebelum memberi respons atau memutuskan suatu tindakan ketika menerima tindakan."

Jeda.

Apapun yang kita pikirkan lalu menjadi perlakuan kita nanti, harusnya dapat kita kritisi terlebih dahulu pada tahap jeda ini. Hanya beberapa detik, itu sih kalau kita butuh respons yang cepet, Tapi, kalau sifatnya atau kita tahu nih hal yang akan terjadi itu repetitif, kita malah jadi bisa mengevaluasi diri kita sendiri. 

Mana yang penting mana yang tidak, baper, mood bagus apa enggak secara ilmiah ternyata bisa kita atur. 

Kayaknya buku "Seni bersikap masa bodoh" ini cocok deh, hahha... saya belum baca sih bukunya, ada punya suami sih, cuman kayak malas gitu bacanya karena lebih banyak novel yang menarik ;D

Hal ini tentunya udah dibahas habis dalam psikologi, cuman belum sempat aja cari literaturnya. Yang pasti sih, udahlah hal-hal gak penting dan itu berkaitan dengan ego mending gak usah digubris atau direspons. Apalagi potensinya menghancurkan diri sendiri, orang-orang sih sekedar komentar atau berpikir sambil lalu tentang hal-hal yang terjadi pada kita. Eh malah terkadang jadi hiburan bagi mereka ketika mereka melakukannya, sementara itu kita jadi murung merasa yang tidak-tidak, nambah lagi deh unsur-unsur penuaan dini dan sebab-musabab tidak bahagianya kita.

Jadi, jangan biarin hal-hal sekutu itu menginterupsi fokus kita yang lebih penting. Segala hal itu luas, gak sebatas pada salah satu perspektif saja dan segala kemungkinan itu terbuka. So, belajarlah santai :)

Yah, gitu deh perenungan yang menjadi penemuan saya baru-baru ini. Bahagia sekali bisa menuliskannya, meskipun penjelasannya rada-rada gak jelas kali ya. Haahaaa... 

Dan ini adalah tip saya, "Yuk, mari kritis terhadap diri sendiri?"




*)Source Image: Ria Mega Sari



July 19, 2020

Review Buku: Greta Thunberg, Tak Ada Yang Terlalu Kecil Untuk Membuat Perbedaan

by , in
"Untuk anda semua yang tak pernah memperlakukan krisis ini sebagai krisis."

Buku kecil ini adalah buku yang sangat kecil serupa buku saku dengan 59 halaman saja. Yang isinya adalah terjemahan beberapa pidato Greta Thunberg mengenai krisis iklim dari September 2018 hingga April 2019 di beberapa Negara.

Greta Thunberg, gadis kelahiran Swedia yang berusia 16 tahun ini mengidap sindrom Asperger, yaitu gangguan neurologis atau saraf yang tergolong dalam spektrum autisme. Namun kondisi ini memiliki kelebihan yang membuat pengidapnya menjadi lebih cerdas dan memahami bahasa dengan mudah, serta kesulitan dalam bersosialisasi. Keadaan khusus inilah yang membuat Greta Thunberg menjadi berbeda dari kebanyakan remaja di usianya, ia menjadi lebih kritis akan lingkungan sekitar dan lebih fokus untuk hal-hal tertentu yang membuatnya tertarik dan lebih penting secara mendalam.

Greta Thunberg sendiri mengakui bahwa, ia terinspirasi melakukan pemogokan belajar pada jam sekolah untuk menunjukan protesnya terhadap kurangnya kesadaran umum pada krisis iklim ini, dari aksi pemogokan siswa di Parkland Florida Amerika Serikat ketika terjadi penembakan pada para siswa oleh salah satu siswanya sendiri di sekolah.

Ada beberapa pidato yang menyentuh dan saya sangat terpukul dengan kata-katanya, "kita tidak pernah memperlakukan krisis ini sebagai krisis". Harus kita akui atau terkhusus untuk diri saya sendiri, kesadaran yang rendah mengenai krisis iklim yang menurut para ilmuwan hanya dalam kurun waktu kurang lebih 11 tahun kedepan dampak berantai yang berkepanjangan dari efek rumah kaca ini sudah tidak dapat di tanggulangi lagi. 

Sekitar tahun 2030, 10 tahun, 259 hari dan 10 jam dari sekarang (16 April 2019), reaksi berantai dari efek rumah kaca dan kemungkinan dari berakhirnya peradaban. (IPCC).

Dimana kita tengah berada ditengah-tengah kepunahan massal ke-enam dengan 200 spesies akan punah setiap harinya. 10.000 kali lebih cepat dari yang dianggap normal. 

"Dan saya ingin membuat anda panik"

Ya, tentu saja Greta bisa meneriaki kita dengan cara demikian, mengingat efek dari rumah kaca ini tidak hanya akan menyebabkan pemanasan global, mencairnya es di kedua kutub di bumi, meningkatnya volume air di laut, pun laut menjadi semakin asam, dan menipisnya lapisan ozon. Artinya apa? kepunahan ekosistem di bumi, di seluruh bumi. Secara keseluruhan. Mungkin sekarang kita tidak terlalu menyadarinya atau kita merasa ini hal biasa yang terjadi, dan rentang waktu bencana itu masih lama?
Kondisi yang mungkin tak pernah benar-benar nyata kita bayangkan, seperti erosi tanah subur lapisan atas, deforestasi hutan, polusi udara beracun, hilangnya serangga dan marga satwa. Sedangkan di kutub utara akan terjadi titik kritis atau titik balik karena gas metana yang kuat dilepaskan dari pencairan permafrost.

Bagaimana jika ternyata kita salah? bukankah hari-hari semakin terik dan suhu panas yang seringkali terasa membakar, mungkin sebagian dari kita hanya merasakan sebatas itu saja. Tanpa kita sadari bahwa ekosistem di laut mulai menyusut, hutan-hutan semakin habis, industri modern semakin pesat, lalu-lintas yang menggunakan bahan bakar fosil pun semakin umum. Sementara itu, limbah rumah tangga juga menjadi sumbangan yang signifikan menghasilkan gas metana. Itu semua berdampak pada terjadinya efek rumah kaca dan kembali memberi dampak yang semakin parah dari efek rumah kaca ini.

Dalam pidato-pidatonya, Greta dibantu oleh data-data dari para ilmuwan dan sesama aktivis yang bergerak dibidang yang sama. Walaupun Greta sebetulnya bergerak secara independen. 

Johan Rockstrom, seorang profesor asal Swedia menulis bahwa kita hanya memiliki 3 tahun untuk membalikan peningkatan emisi gas rumah kaca sesuai dengan Perjanjian Paris. Namun, hal itu belum terpenuhi. Yang mana seharusnya pemanasan global dijaga tetap pada kondisi dibawah 2 derajat celcius.

Swedia sendiri termasuk ke dalam 10 negara yang memiliki jejak karbon terburuk di dunia. Dan seharusnya negara-negara seperti Swedia dan Inggris mampu mengurangi emisi sebanyak 15% per tahun agar tetap menjaga pemanasan global 2 derajat celcius. 
Greta juga mengatakan negara-negara kaya harus menurunkan emisi ke titik nol dalam 6-12 tahun kedepan, sehingga negara-negara miskin dapat meningkatkan taraf hidup dan membangun infrastruktur. Karena, negara seperti India dan Nigeria yang merupakan negara miskin tak akan perduli pada krisis iklim melihat negara kaya saja pun tak perduli. Mungkin ini yang dimaksud Greta dengan aspek ekuitas.

"Kita mengorbankan biosfer, sehingga orang-orang di negara maju seperti negaraku dapat hidup mewah."

Sementara menurut IPCC (Intergovernmental Panel on Climate Change), atau panel ilmiah tentang perubahan iklim yang terdiri dari ilmuwan di seluruh dunia,

Deskrips

pemanasan global harus turun 1.5 derajat celcius dengan mengurangi emisi karbondioksida sebesar 50% pada 2030. EU (European Unite-Uni Eropa) sendiri merencanakan untuk menurunkan emisi gas rumah kaca hingga 45% dari tahun 1990-2030, namun hal tersebut menjadi sesuatu yang sangat ambisius di mata dunia. 

Sementara Greta mengatakan hal tersebut saja belum cukup, karena masa depan anak-anak perlu diperhitungkan sehingga penurunan yang seharusnya dilakukan adalah sebesar 2 kali lipatnya, 80% jika dihitung dari tahun 1990-2030.

"Semakin besar jejak karbon anda semakin besar tanggung jawab anda."

Apa yang dikatakan Greta diatas bikin saya jadi dilema mau traveling naik pesawat dan makan banyak daging. Greta sendiri sangat idealis untuk tidak menggunakan pesawat dan menjadi seorang vegan. Mungkin saya belum bisa total, tapi saya rasa wajib untuk mempetimbangkan segala bentuk tindakan dan pilihan produk atau apapun yang dapat bersinggungan dengan aspek lingkungan.
Ada lagi nih kata-kata Greta yang bikin saya berpikir, dan termenung. "Dimana selebritis, bintang film dan bintang pop yang menentang semua ketidak-adilan tidak akan membela lingkungan kita dan untuk keadilan iklim karena hal tersebut akan memberi hak pada mereka untuk terbang ke seluruh dunia mengunjungi restoran, pantai, dan regret yoga."

Yep, kira-kira begitulah yang dapat saya inget-inget dari buku kumpulan pidato Greta Thunberg ini, bukunya sih kecil aja tapi isinya membuat saya merenung dan terus merenung. Terjemahannya pun cukup asik kok oleh Penerbit Pustaka Osiris.


*)Source Image: Ria Mega Sari, Google. *)Referensi: Google.



June 21, 2020

Review Buku: The Cuckoo's Calling by Robert Galbraith

by , in
Setelah sebelumnya saya pernah membahas The Silkworm, karya dari penulis yang sama yaitu Robert Galbraith atau nama lain dari J.K Rowling. Masih dengan detektif yang sama, Cormoran Strike dan sekretarisnya, Robin Ellacott. 

Sebetulnya The Cuckoo's Calling atau judul dalam bahasa Indonesianya yaitu Dekut Burung Kukuk, adalah buku pertama serial detektif Cormoran Strike loh, tapi saya bacanya kebalik. Hahaha...
Karena waktu itu sebetulnya pengen nyoba aja baca karyanya J.K Rowling dengan tema yang berbeda dan kebetulan di buku The Silkworm itu mengangkat kasus pembunuhan seorang novelis, jadi saya lebih tertarik ke tema itu duluan deh.

Daaan, saya cukup klik dengan Cormoran Strike dan Robin Ellacot, karakter masing-masingnya unik dan berkesan buat saya. Alurnya lumayan banyak menyimpan teka-teki dan benang-benang tersembunyi yang sebetulnya sangat berkaitan erat.

Oh ya, The Cuckoo's Calling sepertinya diambil dari nama panggilan sayang dari salah satu sahabat dekat si model yang mati terbunuh oleh kakak angkatnya. Yaitu si cuckoo.

Lula Landry, model yang sedang populer di Inggris, menghebohkan seluruh London ketika pada dini hari mayatnya diketemukan terjatuh begitu saja dari balkon apartemen mewahnya. Tidak ada spekulasi apapun yang mencurigakan, polisi pun mempublikasikan bahwa kasus tersebut adalah kasus bunuh diri.

Yah, tulisan saya agak-agak spoiler sih... hehe, karena saya ingin membahas setiap buku yang saya baca dari sudut pandang saya aja sih...
serial TV-nya nih
Siapa kira yang keukeuh bahwa itu adalah kasus pembunuhan dan melaporkannya tiga bulan setelah kejadian, John Bristow. Kakak angkat dari Lula Landry ini mendatangi detektif partikelir di jalan Denmark Street dan meminta Cormoran Strike menyelidikinya, ia rela membayarnya mahal. Dan ya, siapa kira bahwa justru dialah pembunuhnya. John Bristow.

Aneh kan, seperti yang Cormoran Strike katakan, mungkia John Bristow merasa dirinya pintar dan tak akan pernah tertangkap setelah dia pun menantang dengan pembunuhan salah satu sahabat lainnya dari Lula Landry, Rochell Onifade. Karena ia menjadi saksi wasiat terakhir dari Lula Landry, sayangnya gadis yang sedikit bermasalah kejiwaan ini pun memanfaatkan hal itu untuk memeras John Bristow. Ketika Cormoran Strike semakin dekat dengan bukti-bukti pembunuhan, Rochell terbunuh.

Dan sebetulnya lebih seru baca langsung deh, daripada menceritakannya kembali. Heheee...

Memang kemampuan Induksi dan deduksi Cormoran Strike dalam melihat suatu kasus patut diacungkan jempol, tak percuma ia mantan penyelidik cabang investigasi polisi militer kerajaan yang pernah bertugas di Afghanistan.

Novel-novel tentang detektif Cormoran Strike ini tidak hanya mencerikan alur mendebarkan setiap kasus-kasus yang ia selidiki, namun juga menceritakan konflik-konflik pribadi masing-masing tokoh penting dalam setiap bukunya. Begitupun dengan kehidupan pribadi Cormoran Strike, yang baru saja putus dari tunangannya yang cantik tapi mungkin saja mengidap Mythomania atau keadaan seseorang yang seneng banget berbohong sampe-sampe kebohongan itu ia anggap fakta.

Hubungan Cormoran Strike dan Robin Ellacot juga bikin gemes sih, tapi keliatan dikit di serial selanjutnya di the silkworm. Padahal Robin sudah tunangan dan sebentar lagi menikah dengan Matthew. Tapi kayaknya hubungan mereka gitu-gitu ajadeh di serial selanjutnya.

Nah, gitu doang sih yang bisa saya ceritain. Yang menarik adalah, kecerdasan si Robert Galraith kali ya dalam mengolah cerita misteri dan mengulasnya cukup dalam lewat karakter Cormoran Strike. Kalau soal kepenulisannya sih jangan diragukan lagi, seorang J.K Rowling imajinasinya memang luar biasa hingga bisa menulis begitu tebal.



*)Source Image: Pinterest, Reff: Google


June 21, 2020

Review Buku: Dengarlah Nyanyian Angin, Haruki Murakami

by , in
"Tidak ada kalimat yang sempurna. Sama seperti tidak ada keputusasaan yang sempurna."
Cerita ini dimulai tanggal 8 Agustus 1970, dan berakhir delapan belas hari kemudian, yakni tanggal 26 Agustus di tahun yang sama. (hal, 6).

Aku, seorang mahasiswa yang berkuliah di Tokyo begitu menggemari Derek Heartfield, sorang penulis yang bunuh diri. Namun, Derek Heartfield ini hanya sosok imajinasi dari Haruki Murakami. Aku, begitu ia membawakan narasinya dalam cerita ini, mengisahkan bagaimana ia tumbuh dewasa di kota kecil kelahirannya itu, sebuah kota kecil di tepi laut. Ia tumbuh dari seorang anak kecil yang sangat pendiam hingga menjadi seorang dewasa yang memiliki karakter tenang atau, apatis ya? entahlah, saya cuman ngerasa gak cukup hangat ketika berkenalan dengan tokoh 'aku' ini sebagai seorang pria, dia nyaris tanpa emosi yang dramatik. Tapi, cukup simpatik sebetulnya, ketika bagaimana ia memperlakukan Nezumi, sahabatnya di kota itu. Atau ketika ia menceritakan tentang kekasih-kekasihnya dan seorang teman kencan ketika ia liburan kuliah dalam delapan belas hari itu.
Mungkin, pertumbuhannya dipengaruhi oleh perkembangan masa ketika itu. Dimana Jepang baru tumbuh diantara dua budaya, yaitu tradisional dan budaya barat yang menjadi perkembangan modern setelah perang dunia II, dan ia pun mengidap penyakit saraf tulang belakang.

Ada juga cerita tentang Jay's bar, tempat minum yang biasa menjadi tempat bertemu 'aku' dan Nezumi. Di sana pula lah awal pertemuannya dengan seorang gadis misterius penjaga toko piringan hitam, yang gak sengaja menjadi teman wanitanya ketika itu.

Namun, kisah itu gak berlanjut. Gadis yang patah hati itu setelah menggugurkan kandungannya entah dengan siapa, menghilang begitu saja.

Sedangkan Nezumi adalah anak seorang hartawan yang entahlah, seperti muak dengan kehidupannya sendiri. Uniknya, Nezumi justru menjadi seorang novelis di kemudian hari, pada awalnya ia hanya terpengaruh dengan kebiasaan 'aku' yang senang membaca dan membawa-bawa buku.
Sebetulnya saya hampir lupa sih kisah dalam buku ini, karena udah beberapa bulan lalu bacanya, jadi mungkin yang saya ulas ini hanya potongan-potongan yang masih diragukan akurasinya hahaha... yah, ini hanya berdasar ingatan saya aja sih. Dan ngintip-ngintip lagi bukunya, tapi males juga ngebaca lagi ya.

Tapi, novel ini cukup tipis loh hanya 119 halaman. Yah, sedikit membosankan memang, karena ceritanya begitu hening dan terasa kosong, konfliknya sebetulnya gak ada yang harus diselesaikan atau mungkin delapan belas hari itu adalah konflik yang menjadi titik balik dalam diri 'aku'.

Seperti tulisan Haruki Murakami lainnya,  dengan gaya yang sama, selalu berhasil membuat kekosongan dan jeda hening dalam diri pembaca. Namun, selalu ada informasi yang keren dalam tulisan-tulisannya, dan saya sangat mengagumi gaya bercerita karena membuat saya larut merasakan masing-masing karakternya. Dan juga terbang jauh ke tempat yang ia ceritakan.

:)

*)source image: pribadi
April 05, 2020

Review Buku: The Geography Of Genius by Eric Weiner

by , in
Ah buku ini selesai terlalu lama, lebih dari 3 minggu. Ini menjadi buku ke 3 yang saya baca di tahun ini, hmm saya gak memenuhi target baca bulanan di awal tahun. Tadinya terjadwal 4 buku yang harus dibaca, tapi yah begitulah kesibukan selalu menjadi sebuah alasan yang sebetulnya kalau dicermati kembali, saya gak sibuk-sibuk amat kok. Hehehee.

Okay, balik lagi ke buku terakhir yang saya baca yaitu The Geography Of  Genius  yang ditulis oleh Eric Weiner seorang penulis berkebangsaan Amerika Serikat. Dalam buku ini ia menceritakan tentang serangkaian perjalanannya ke beberapa kota di beberapa negara yang pernah tercatat sebagai tempat-tempat yang melahirkan para Jenius yang terkemuka dalam sejarah.

Dimulai dari negara Yunani,  yaitu kota Athena kuno. Perpaduan kemewahan publik dan kemelaratan pribadi. Karena mereka sangat peduli akan kepentingan publik terutama negaranya ketimbang urusan pribadi, sampai-sampai ada ungkapan Thucydides bahwa, "orang yang tidak berminat pada masalah negara bukanlah orang yang memikirkan urusannya sendiri, melainkan orang yang tak punya kepentingan menjadi warga negara Athena."

Siapa yang tidak kenal Plato, Aristotle, dan Socrates? Hmm, bangsa Yunani mewariskan demokrasi, sains, dan filsafat. Dan juga banyak hal lainnya seperti; kontrak tertulis, koin perak dan perunggu, pajak, tulisan, sekolah, pinjaman komersial, buku panduan teknis, kapal layar besar, investasi berbagi resiko, dan sistem tuan tanah absente, juga inspirasi.

Bangsa Yunani percaya bahwa di mana kita berada akan mempengaruhi bagaimana kita berpikir. Dahulu Socrates menemukan ide selalu ketika ia berjalan kaki, seperti kebiasaan warga Athena , mereka suka berjalan kaki. Dan Homer adalah penulis pertama di dunia dan orang yang pertama pula mengalami kebuntuan ide, karyanya yaitu Odyssey.

Mereka hidup dengan sederhana dan menyederhanakan hidup, jadi gak heran tidak ada kuliner yang memanjakan di kota  ini. Mungkin ribuan tahun yang lalu Yunani terkenal akan kejeniusannya, cara mereka berpikir dan bertindak, namun kini? seperti yang di katakan oleh seorang Antropolog bernama Alfred Kroeber, bahwa kebudayaan tidak genetis. Sama halnya dengan kejeniusan bukanlah faktor genetik yang diwariskan.

Kemudian kita di ajak ke kota Hangzhou, Cina. Ada kutipan yang menarik, "yang membedakan orang genius dari orang gagal sebenarnya bukan berapa kali dia berhasil, tapi berapa kali dia memulai dari awal."

Kebiasaan orang Cina adalah minum teh, mereka begitu menikmati minuman ini seperti bagaimana mereka mendalami apa saja yang mereka tekuni. Pada abad ke-11 seorang genius bernama Shen Kuo menuliskan semua ide-idenya dalam sebuah buku catatan, layaknya Leonardo Da Vinci. Salah satu yang telah ia temukan adalah kompas magnetik. Sementara masa moderen ini, kita mengenal Jack Ma, yang dapat menyangi star up di dunia barat.

Apa yang menyebabkan mereka dikenal sebagai salah satu Negara yang memiliki kegeniusan? Salah satunya adalah habit yang ditularkan oleh kalangan atas, para penguasa-penguasa yang ada ketika itu, mereka sangat mencintai membaca, menulis, dan melukis.
Florence, kota yang dalam sejarahnya dikenal dengan peradapannya yang tinggi di daratan Eropa, melahirkan Leonardo Da Vinci, Michelangelo, Botticelli, Rosseli, Filippino Lippi, Cosimo de' Medici dan banyak lagi.

Cosimo adalah patron seni terkemuka yang memiliki bank Medici, pada masanya mungkin ia bisa disamakan dengan Bill Gates pada masa kini. Bangunan yang terkenal adalah Duomo karya Brunelleschi. Namun, kejayaan Florence masa lampau runtuh oleh materialistik dan konsumeristik. Pada akhirnya kegeniusan Florence kini hanya menjadi kenangan sejarah.

Edinburg, Scotlandia. Apa yang akan kita temui di kota ini bersama Eric? hm, Adam Smith adalah filsuf yang membawa pemikiran Kapitalisme. Dan begitu termasyur dalam bidang sastra di seluruh Eropa pada masanya.

Jadi apa kesimpulan untuk kegeniusan bangsa Skotlandia ini? mereka lebih fokus pada perbaikan.Yah, hal itu juga membuat mereka lebih kreatif dan praktis. Aturan baku bisa mereka langgar untuk tujuan yang lebih penting dan memudahkan. Misalnya saja kulkas dan sepeda, atau anestasi? Selain itu mereka juga sangat menyukai buku-buku yang berkualitas.

Kolkata, India. Negara ini adalah negara jajahan Inggris, namun mereka menyerap dan menyulap kegeniusan negara Eropa itu dengan baik, dengan situasi yang semrawut, orang-orang di Kolkata sudah terbiasa fokus di tengah-tengah distraksi. Atau "kemampuan melihat keteraturan dalam kekacauanlah yang mencirikan semua orang hebat." Karena setiap orang di sana sangat cuek dengan urusannya sendiri meskipun ia di tengah kesibukan kelompok-kelompok sosial yang lain atau keadaan hingar-bingar lainnya. Misalnya saja, seseorang bisa sangat fokus membaca atau menulis novel di tengah keriuhan pasar dan bau pipis orang yang sembarangan.

Kita akan bisa menikmati Scotlandia rasa India di sini, seperti ungkapan Eric. "Sejarah India adalah sejarah akulturasi tanpa asimilasi, merespons pengaruh asing dengan tidak menolaknya maupun menyerapnya dengan membabi buta, tapi sebagai gantinya, mereka meng-india-kannya." Misalnya saja India punya Bollywood sementara di barat punya Hollywood :D

Sebut saja, Rabindranath Tagore, seorang penyair, penulis esai, penggubah drama, dan pemenang hadiah nobel. Namun, bagi Eric masa-masa genius itu hanya menjadi pembicaraan lampau seperti karya-karya Tagore yang senantiasa wajib mereka baca.
Wina, Austria.  Di sini kita akan mengenal Beethoven, Mozart, dan Freud? Ada yang lain? banyak tentunya. Genius itu tentang selera, tentang arus budaya yang saling membaur dan menciptakan lingkungannya. Pada masa itu, Wina adalah arus budaya karena merupakan persimpangan Internasiobal, bangsa lain-lain membaur di sini. Seperti dari bangsa Slavia, Hungaria, Spayol, Italia, Prancis, dan Flemish.

Ada yang menarik, dalam buku ini seorang warga Wina menggambarkan bahwa Wina adalah seperti Hedonisme yang lembut. Pada hari jum'at diatas jam dua siang mereka tak ada yang terlihat begitu sibuk bekerja, selain itu pekerjaan atau bagaimana seseorang mendapatkan sumber nafkah bukanlah urusan orang lain. Mereka tidak akan membicarakannya, karena hal tersebut bukan hal yang akan dibicarakan. Menarik lainnya adalah, mereka tetap memainkan musik dengan indah.             

Silicon Valley, California. Yang terjadi di Silicon Valley pun sama, genius itu menular. Tahun 1971, seorang jurnalis memberi nama satu kawasan dalam jurnal Electronic News, dengan nama Silicon Valley.
Di sinilah hidup industri-industri modern, siapa yang tidak kenal Apple dan Google? pemuda-pemuda kreatif dan inovatif tumbuh di sini, sejauh ini mereka begitu mapan dan menjadi spotlight bagi dunia teknologi masa kini.
***

Nah, gitu deh sekilas yang bisa saya review dari buku yang lumayan tebal ini. Dua bulan lalu saya bacanya, jadi banyak yang terlupa. Tulisan-tulisan Eric selalu menarik, perjalanannya yang selalu berisi dan membawa wawasan baru bagi pembaca, dengan bahasa yang sangat ringan dan mudah dipahami. Ia memiliki cara bercerita yang santai dan mengalir, saya merasa seperti mengikuti perjalananya kemana saja :)

See yaa...


*)Source Image: Doc.Pribadi&Google.
April 02, 2020

PLOT

by , in
"Plot adalah peta bagi seorang penulis ketika mengembara dalam belantara kata-kata." Mengutip dari seorang DEE Lestari, salah satu penulis terbaik yang dimiliki Indonesia. 

Plot yang saya maksudkan di sini adalah plot cerita dalam karya sastra. Dimana, plot atau alur cerita adalah serangkaian peristiwa yang runtut sesuai hubungan sebab-akibat. Dalam hal ini, rangkaian plot dapat disusun secara detil atau secara garis besar saja, seperti kata DEE, 70% kita dapat menulis cerita sesuai plot yang telah disusun, selanjutnya 30% adalah kejutan yang dapat ditemukan ketika proses menulis .

Penulis besar seperti DEE saja sangat membutuhkan Plot atau menyusun kerangka terlebih dahulu ketika akan menulis cerita yang cukup panjang, untuk menghindari tersesat ketika di tengah kepenulisan atau writer's block secara teknis. Lagi-lagi saya mengutip apa yang DEE katakan, dan sebetulnya saya menulis ini karena terinspirasi dari obrolan DEE ketika live di akun Instagramnya bersama Mizan tadi sore.

Ada yang cukup menggelitik saya tentang plot yang berantakan, apa itu plot yang berantakan? dan kenapa ya bisa begitu? 

Em, mungkin kira-kira begini, apa saja yang dapat dan seharusnya ada di dalam plot? barangkali fakta-fakta dari peristiwa yang akan ada dalam cerita, bagaimana cerita itu dimulai. Secara bertahap, apa saja yang harus kita tulis di dalam cerita nantinya, sudah tertuang di dalam plot tadi. 

Pendek kata, semua bahan untuk seluruh cerita yang akan kita garap sudah ada dalam plot cerita. Baik alurnya akan mundur maupun sebaliknya atau alur campuran dari keduanya, yang paling penting adalah hubungan sebab-akibat dari awal kepenulisan hingga akhir.

Bagaimana membuka cerita, mengenalkan para tokoh, meletakkan latar tempat dan waktu, menampilkan konflik hingga menggiring konflik tersebut, dan menyelesaikan konflik. 
Lalu bagaimana plot bisa dikatakan berantakan? gak tahu juga sih ya, saya belum pernah membaca cerita dengan plot yang membuat saya bingung dan merasa seperti ada yang gak beres. Tapi, khawatirnya justru ketika saya menulis, saya akan menulis dengan plot yang berantakan.

Oke, saya tarik kesimpulan, suatu plot cerita dikatakan berantakan ketika hubungan sebab-akibat terputus di beberapa bagian cerita. Atau ada beberapa konflik yang tidak saling terhubung dan membuat kebingungan bagi pembaca, ini yang mana konflik utama sih? atau, kok gak nyambung?

Pembaca tidak mendapatkan apa-apa dari yang ingin disampaikan oleh penulis, akhirnya sama-sama pada tersesat kan? ya penulis apalagi pembaca.

Ada 3 unsur penting dalam menyusun plot cerita, yaitu:

1. Tahap Awal

Umumnya pada tahap ini penulis akan mengenalkan berbagai latar cerita dan pengenalan tokoh. Memuat informasi-informasi penting yang mungkin saja akan menjadi garis hubung untuk penceritaan selanjutnya.

2. Tahap Tengah

Di sini penulis akan menyuguhkan konflik dan klimaks yang tentunya sangat berkaitan. Pada bagian ini pula akan menjadi semacam nyawa bagi cerita, di mana cerita akan digali sedalam-dalamnya melalui konflik yang terjadi dan tokoh-tokoh yang terlibat. 

Penulis akan menulis lebih panjang pada tahan ini.

3. Tahap Akhir
Bagaimana penulis akan mengakhiri konflik cerita, di mana penulis bisa membuat kejutan-kejutan untuk pembaca. Kepuasan pembaca akan di uji pada bagaimana seorang penulis menyelesaikan konflik yang ia ciptakan. Pada tahap ini, penulis harus menyusun dengan baik plotnya, karena ini akan menjadi acuan penting untuk menghindari kebablasan ketika menulis akhir cerita.

Ya, seperti itulah unsur klasik dalam penyusunan plot yang masih relevan hingga kini. Dan sebetulnya ada beberapa macam bentuk alur cerita, tapi lain kali ya saya bahas. :)




*)Source image: Pinterest&RiaMegaSariIllustration, Referensi: Google&Jurnal http://digilib.unila.ac.id/14686/7/II.pdf

January 21, 2020

Review Buku: Dua Dini Hari, oleh Chandra Bientang

by , in
Apa yang kamu bayangkan ketika mengetahui pembunuhan terhadap anak-anak yang mereka sebut 'anak jalanan,' yang mereka lakukan di sebelah kamar kos mu? "Ternyata selama ini aku bertetangga dengan mayat?"

Beneran deh novel ini bikin saya teringat-ingat untuk beberapa hari, dan sampe kebawa mimpi dong. Gak sampe mengguncang banget sih, cuman kejutan-kejutan dalam cerita ini bikin saya sakit hati. Dan kayaknya saya gak cocok deh sama akhir ceritanya, karena bagi saya akhir sebuah cerita yang sempurna adalah kisah yang memberi harapan dan semangat baru pada pembaca. Namun, kisah dalam novel ini sungguh pesimis. Bukan hal yang buruk sebenarnya, karena jenis akhir cerita kan macem-macem ya, cuman saya-nya aja kurang berkenan. Hehehee

Karena keburaman dari novel ini, saya berhenti dulu untuk baca fiksi dan beralih ke non fiksi. Karena 2 buku yang ada di waiting list saya selanjutnya juga tentang misteri dan penderitaan hidup seorang anak kecil. Nanti yah saya ceritain lagi. Karena gak mau shock-nya beruntun haha, bagi saya setiap cerita ada unsur-unsur yang melekat di alam bawah sadar saya dan seringkali mempengaruhi sudut pandang atau cara saya bersikap. Hihi, tapi gak seserius itu kok :)

Tapi, suami saya masih menunda ijin ngebaca The Catcher In The Rye, JD Salinger. Gegara suka kebawa mimpi dan hal-hal absurd lainnya :D. Berlebihan ya sayanya.

Chandra Bientang. Penulis novel ini, dia adalah salah satu pemenang penulis emerging di UWRF 2019 kemarin, jadi itulah yang membuat saya tertarik dan penasaran 'gimana sih tulisan si mbak Bientang ini?" Tapi, pada even itu Chandra Bientang menulis sebuah cerita pendek atau beberapa cerita pendek ya, lupa sih. Yang pasti bukan karya yang ia terbitkan ini. Saya pun menyusuri jejak karya si mbak Bientang, yang ternyata juga seorang penulis di Wattpad, wuhuuu :) Walaupun novelnya bukan terbitan Gramedia, tapi sudah beredar di toko  buku Gramedia dan juga sudah ada dalam bentuk ebook-nya.

Novel ini gak tebal sih, cuman sekitar 200-an lebih halaman aja. Karena cukup seru, sehari pun sebetulnya sudah selesai. Ngomong-ngomong, ini adalah novel pertama Chandra Bientang, dengan gendre Urban Thriller dia berhasil dapat beberapa penghargaan dari penerbit atau dari media online. Kalau gak salah sih begitu.

Dua Dini Hari, kepenulisannya cukup bagus untuk penulis pemula dengan novel pertamanya yang ia terbitkan. Ide ceritanya juga berbeda, dengan setting yang cukup dekat dengan kehidupan kita sekarang, deskripsinya menarik, mudah untuk di visualisasikan. Namun, ada juga yang saya sulit ngebayanginnya gimana.
Mungkin, kalau misal editornya agak ketat dan jeli, novel ini bisa lebih digali lagi. Kayak misal siapa sih dalang utama di balik rencana keji pembunuhan, kalau pun di sini kita dapat menebak-nebak, cuman harusnya lebih gamblang dari itu dengan alasan yang lebih politis mungkin. Kalau untuk ketertiban kota, rasanya terlalu sederhana aja gitu kenapa pembunuhan harus dilakukan. Atau barangkali deskripsinya yang terlalu ringan.

Intinya menurut saya, novel ini bisa bercerita lebih jauh lagi dan mengguncang. Denger-denger sih waktunya cukup singkat untuk menyelesaikan tulisan ini, mungkin itu salah satu sebab kenapa novel ini di beberapa bagian seperti terburu-buru.

Selamat ya mbak Chandra Bientang! Karyanya cukup bagus dan menambah variasi novel-novel karya penulis Indonesia. :)

Pilihan yang bagus untuk di baca, dan kamu akan kaget terus bertanya-tanya "Kenapa?"


*)source image: Google.






January 12, 2020

Review Buku: Kisah Klasik dari Louisa May Alcott, #LittleWomen

by , in
Yihaa! ini buku #1 yang saya selesaikan di awal tahun ini. 2020. Semoga pertanda baik ya, untuk menyelesaikan lebih banyak lagi buku-buku dalam tahun ini :)
LITTLE WOMEN.

Saya jatuh cinta ketika hanya baru mendengar obrolan tentang buku ini di podcast Coming Home with Leila S Chudori. Sebuah acara bincang buku dengan para penulis atau pun seorang tokoh publik yang gemar membaca, gratis di spotify setiap hari rabu. Tahun 2020 adalah tahun kedua dari acara ini, yang di gagas oleh penulis Indonesia terkemuka yaitu mbak Leila S Chudori.

Wah, jadi nge-review podcast-nya Coming Home deh. Karena memang berawal dari acara tadi saya jadi penasaran bagaimana sih kepenulisan Louisa May Alcott, yang katanya mbak Petty Fatimah deskripsinya sangat dekat dengan imajinasi kita. Bagian seperti ini adalah favorit saya banget.
Film Little Women tahun 1994
Lalu, ketika beberapa halaman pertama saya mulai terbawa hingga bab-bab selanjutnya. Tapi, buku yang saya baca adalah Little Women terjemahan dan berbeda dari filmnya sendiri di tahun 1994 yang dimainkan oleh Winona Ryder. Kenapa berbeda? karena versi film ini, kisah hidup ke empat gadis March dibuat tidak hanya berdasarkan dari novel Little Women, namun di bundling dengan novel lanjutannya yaitu Good Wives, dimana kehidupan mereka masing-masing telah menginjak dewasa dan masalah hidup yang semakin rumit. Oh ya, saya lagi PO loh untuk Good Wives terjemahan Gramedia yang akan terbit besok, 13 Januuari 2020 dengan cover yang lebih menarik.  :))

Louisa May Alcott adalah penulis Amerika yang hidup di tahun-tahun menuju pertengahan tahun 18-an. Tepatnya lupa, hehehee... dan buku ini pertama kali terbit sekitar tahun 1860-an, lagi-lagi lupa sih tepatnya. Any way, buku ini adalah novel klasik yang wajib di baca. Versi yang saya baca sih ketebalannya sekitar 382 halaman. Yakin deh kalau gak banyak kerjaan, sehari semalem bisa selesai nih. Karena kehidupan mereka dalam novel ini digambarkan yang asik banget gitu. Katanya juga sih, ini adalah semacam autobiografi Louisa May Alcott yang di gambarkan dalam karakter Jo.
Hm, kita masuk ke bagian ceritanya gimana sih?

Jadi ketika itu, di Pennsylvania Amerika hiduplah sebuah keluarga sederhana. Mereka di tinggal sang ayah ke medan perang. Dan di dalam rumah mereka yang hangat dan religius, Mrs. March memiliki 4 orang putri yang masing-masing memiliki daya tarik. Dari Meg 16 tahun, yang cantik dan dewasa namun memiliki impian menjadi lady yang terhormat sementara ia sendiri harus bekerja sebagai pengasuh dan guru pribadi di sebuah rumah kelas menengah-atas. Lalu, Jo 15 tahun yang sangat suka membaca dan menulis, ia seperti anak tomboi  kalau istilah kita sekarang. Di bawahnya lagi, ada Beth yang lembut dan paling pemalu diantara saudari-saudarinya, ia sangat menyukai musik dan piawai memainkan piano, usianya 13 tahun. Terakhir adalah Amy, berusia 12 tahun, ia agak cerewet seorang gadis kecil yang selalu ingin tampak dewasa, satu hal yang menarik darinya adalah bakat seni lukisnya.

Hidup dalam segala keterbatasan karena mereka jatuh miskin, tidak membuat keluarga ini lantas terpuruk dan berlaku tidak menyenangkan bagi sekitarnya. Mereka masing-masing sangat giat bekerja, dan menjadi gadis-gadis yang patuh pada ibunya. Meskipun di tinggal sang ayah bertahun-tahun dengan harapan ayah mereka akan kembali suatu saat nanti.

Ada banyak keseruan kehidupan remaja di sini, tapi juga kesedihan-kesedihan setiap keluarga. Namun, tokoh utamanya memiliki akhir yang indah dalam novel Little Women ini.:) Walaupun ceritanya masih akan berlanjut panjang.

Di sini banyak ditulis nilai-nilai moral tanpa menggurui, dari segala kejadian dan tingkah masing-masing tokoh dalam novel ini. Yang paling saya suka adalah bagaimana melatih diri untuk senantiasa rendah hati dan bekerja keras. Bahwa bekerja dengan tekun, itu baik untuk diri dan sesekali bermain. Keseimbangan.

"Kesombongan selalu mendahului kejatuhan."

Lantas, bagaimana dengan gaya tulisan Louisa May Alcott sendiri? seperti yang mbak Petty Fatimah ceritakan, ia memiliki kemampuan deskriptif yang sangat menarik, dimana kita bisa membayangkan jendela bersalju di depan rumahnya, ruang makan tempat mereka berkumpul, kamar anak-anak dan kamar Mrs March, atau bagaimana keindahan rumah Laurie yang indah. Laurie sendiri adalah sahabat mereka, tetangga yang baik dan ramah.

Louisa May Alcott tidak menulis hanya terpusat pada kehidupan satu keluarga ini, ada beberapa keluarga yang ia tuliskan dan banyak tokoh yang terlibat dalam novel ini. Masing-masing memiliki peran yang jelas dan berhenti di saat yang tepat, jadi kita gak akan bertanya "eh si ini kok gak jelas gitu munculnya dan perannya apaan?" nah saya sering banger tuh kayak gitu, hahahh... suka ngerasa bingung ketika membaca satu buku yang macem-macem tokohnya, tau-tau ilang gak jelas perannya di situ apaan, apakah cuman buat manjang-manjangin cerita dan pengisi bab yang pada akhirnya malah menyisakan tanda tanya yang gak asik di akhir cerita, Hahahhaaa... serius banget buuu :D

Okeeiii, novel ini saya rekomendasiin banget deh buat teman-teman pembaca, tinggal suka apa gak aja sih dengan genre klasik begini. Hehehee... Dan, bukan cuman novel Little Women ini saja yang wajib banget dibaca, tapi juga penulisnya Louisa May Alcott. Dia jadi salah satu penulis keren favorit saya deh. :)

Oh iya nih, sebetulnya udah ada lagi nih di adaptasi ke film yang tayang Desember 2019 kemaren di Amerika, katanya sih di Indonesia baru Februari nanti. Selamat menunggu :)
Film Little Women tahun 2019



*)Source Imange: Pinterest, Referensi: Coming Home With Leila S Chudori

January 11, 2020

Laut Biru, Pasir Putih, dan Debur Ombak Nusa Penida

by , in
Apa yang bisa saya ceritakan tentang Nusa Penida?
Hmm, saya begitu terpukau dengan debur ombak yang pecah menghantam tebing-tebing terjal yang angkuh. Buih memercik ke wajah dan membuat saya terpekik kagum dan setengah ngeri.

Well, intronya puitis apa lebay ya? Haha.

Tapi beneran deh, pengalaman ke pantai-pantai bertebing di Nusa Penida meninggalkan kesan yang magis bagi saya. Bagaimana intensitas ombaknya yang seakan-akan ingin menghancurkan tebing-tebing yang perawan, bagaimana lautnya yang biru lalu toska lalu pasirnya yang putih, juga teriknya matahari Nusa Penida yang membakar.  Saya jadi item banget ketika pulang dari sana, yah ya gak tanggung-tanggung saya total banget berjemurnya gak pake sunblock.

Hm, bukan saja soal pantai, ombak, pasir, laut, dan tebingnya, Nusa Penida benar-benar 80% masih alami. Saya katakan begitu, karena rata-rata kawasan wisata yang sempat saya kunjungi adalah kawasan yang sebetulnya tidak cukup aman jika kita tidak berhati-hati. Jalan menuju lokasinya pun adalah jalan-jalan yang menanjak mengitari perbukitan dan berkelok-kelok, indah memang. Sangat menakjubkan buat saya, melihat rumah-rumah penduduk di pedesaannya, diboncengi motor bersama suami yang sepanjang perjalanannya adalah laut dan nelayan, perahu-perahu cadik penuh warna, belum lagi tiba-tiba pemandangan berubah menjadi pepohonan di dataran-dataran tingginya.

Lagi-lagi, tidak hanya itu. 

Saya pun melihat keterbatasan di beberapa desa yang kami lalui untuk mengunjungi lokasi wisata. Mungkin cukup signifikan beberapa lokasi wisatawan seperti resort-resort yang tersebar, terhadap peningkatan perekonomian masyarakat Nusa Penida. Namun, saya pikir belum cukup merata, mungkin masih ada wilayah-wilayah perekonomian penduduk yang belum tersentuh atau dalam aspek-aspek yang lain.

Tapi Pulau ini sangat cantik, serpihan tanah dewata, Bali. Saya ingin kembali suatu hari, untuk menikmati suasana dengan lebih santai lagi di sini. Karena dalam waktu satu malam dan dua hari menjadi terlalu tergesa-gesa untuk saya yang pada dasarnya suka menikmati suasana tempat dan waktu. Untuk menyatu dengan getarannya :)

Perjalanan Menuju Nusa Penida

Dari Bandara APT Pranoto Samarinda langsung ke Denpasar. Setibanya di Bali, saya dan suami ingin segera istirahat sebelum menyusun  rencana selanjutnya selama liburan kali ini. Ingin mencoba sendiri petualangan-petualangan kecil selama perjalanan, kami pun tak mencoba mandiri keluar bandara untuk mencari makan siang yang lebih murah dan kendaraan yang juga lebih murah.

Keluar bandara cukup jauh di tengah terik siang itu, kami tiba sekitar jam 11an siang lah. Ada beberapa makanan ramah muslim dan cukup terjangkau di luar area bandara Ngurah Rai yang sangat luas.

Setelahnya kami mencari-cari kendaraan online setelah tidak mendapatkan motor sewaan sehari untuk dibawa ke Sanur. Dengan alasan cukup jauh, bapak yang punya motor tidak setuju untuk menjemput motor di Sanur, ia minta diantar kembali ke area mangkalnya di seputaran bandara. Kan repot ya, lagian agak rugi juga sih karena motor gak bisa dibawa ke Nusa Penida karena di sana pun sudah ada penyewaan khusus.
Setelah mendapatkan layanan mobil online, kami pun minta diantar langsung ke hotel. Tapi, dengan keluguan sepasang suami istri ini, kami mengiyakan saja untuk diantar ke pelabuhan membeli tiket fast boat untuk besok pagi. Kata si bapak yang ramah ini, khawatir tidak dapat tiket jika tidak booking dulu sehari sebelumnya. Baiklah, tapi setelah muter-muter ternyata tiketnya agak mahal Rp 150,000/orang, tidak sesuai dengan review para pejalan lainnya. Jadi kami meminta untuk kembali ke hotel saja karena udah capek banget. Dan, perasaan saya dan suami udah kurang enak nih, sebetulnya dari pertama dia ajak muter-muter sih. Cuman karena si pak supir ramah banget jadi gak tega menolak. Setibanya di hotel saya pun bertanya berapa ongkos pengantarannya, walaupun di aplikasi sudah tertera, tapi saya yakin dia meminta lebih karena sudah mengantar kami muter-muter. Dan begitulah itu terjadi :D

Setibanya di hotel, ternyata kami harus upgrade kamar karena saya salah pesan jenis hotel. Ya sudahlah, over budget di kendaraan tadi dan hotel ini.

Kami akhirnya mendapatkan tiket fast boat dari Sanur ke Nusa Penida dengan harga Rp.80.000/orang, setelah mendapat info dari seorang kawan dan nemulah tiket onlinenya di google. :)

Keesokan paginya, sekitar jam 7an kami pun berangkat mengarungi lautan menuju pulau Nusa Penida. Perjalanan sekitar 45 menit. Di Nusa Penida kami pun menyewa motor untuk dua hari dengan Rp. 70.000/hari. Tenang aja, di pelabuhan udah banyak yang nyewain motor dan ketika mengembalikannya pun gak usah repot-repot karena bisa langsung tinggal aja di pelabuhan dengan kunci menggantung. Aman.

Setelah sarapan dan ceck in di cottage yang ternyata cukup menyenangkan dengan pelayanan yang ramah. Kemudian kami pun bersiap menuju pantai-pantai di daerah Nusa Penida barat, yang sempat kami kunjungi hanya beberapa pantai saja yaitu,:
  • Kelingking beach
Perjalanan cukup jauh dengan jalan yang berkelok-kelok membelah perbukitan dan dataran tinggi, ada beberapa titik jalan yang agak sulit karena belum di aspal. Tapi sepanjang perjalanan sungguh indah, aku menikmati sepanjang jalan yang di kiri-kanannya tumbuh pepohonan. Aku merasa ada dimanaaa gitu, meskipun tampaknya jalanan ini berbahaya jika tidak berhati-hati. Di Nusa Penida sangat panas, dengar-dengar sudah 9 bulan tidak hujan, padahal di Samarinda dan sekitarnya sudah kerapkali hujan deras.
Dalam perjalanan di daerah barat ini, kami lebih banyak disuguhi pemandangan permukiman penduduk yang hidup di tengah hutan dataran tinggi. Rumah-rumah mereka cukup rapi yang terbuat dari batako dan khas rumah-rumah orang Bali yang berdiri dengan beberapa bagian bangunan rumah. Rumah di sini cukup berjarak dan tampak sepi. 
Nah, akhirnya tiba di lokasi wisata yang indah ini. Sungguh mendebarkan ketika melihat warna biru di kejauhan di bawah sana, namun juga terasa dekat. Pasir putihnya sungguh menggoda dengan gradasi warna laut bak batu-batu mulia entah apa namanya :D Tebing-tebing tinggi mengitari, ada tangga menurun yang sangat curam dan menurut saya tidak cukup aman. Lutut saya langsung menjadi lemas, ketika baru menuruni beberapa anak tangga yang tersusun dari papan dan pegangannya makin ke bawah makin tidak jelas, mungkin hanya tiang tangga yang amat berjarak dan tali dengan tebing di kiri-kanan. Entahlah, cukup mengerikan bagi saya, tapi banyak aja sih wisatawan yang berlalu-lalang turun-naik. Dengan panas yang begitu membakar, saya gak membayangkan bagaimana nanti naik kembali setelah saya nekat turun (misalnya), betapa melelahkan. Bersyukur lulut saya sudah gontai tak bisa melangkah lebih turun lagi, dan suami mendukung hal itu.

Namun, di seputaran atas tebing ini saja banyak spot-spot berfoto yang indah, dengan latar belakang bongkahan batu yang ditutupi kehijauan menjorok ke laut dan tampak seperti kelingking raksasa.

  • Broken Beach
Perjalanan menuju pantai ini dari kawasan pantai yang pertama kami kunjungi tidak terlalu jauh. Di sini pemandangannya juga sangat waw, dengan debur ombak yang perkasa menantang tebing-tebing kokoh. Broken beach sendiri adalah tebing yang bolong dan di tengahnya membentuk ceruk pantai seperti pantai yang tersembunyi. Tapi, sepertinya tidak ada jalan turun ke sana, jadi hanya melihat-lihat dari atas dan berpoto dengan latar tebing yang bolong.
Ketika itu ombaknya sangat tinggi, agak menuju sore ombak semakin menjadi sampai-sampai ombak naik menghantam tebing yang menjadi tempat wisatawan berkumpul menikmati pemandangan ke arah pantai lepas di atas tebing yang bolong. Sempat beberapa turis terkena limpahan air yang kuat itu, sampai-sampai satu orang turis wanita terjatuh dan beruntung segera di tarik bangun dan menepi ke daratan yang lebih tinggi.

Beruntung saya dan suami sudah menyingkir dari tempat itu, awalnya saya juga berdiri dan mengambil foto dari arah itu bahkan sempat duduk-duduk di rimbunan semaknya. 

Saya menyaksikan ombak yang menyambar-nyambar itu tepat di hadapan saya yang sedang berada di seberang di belakang broken beach. Karena masih penasaran melihat-lihat pantai tersembunyi di bawah sana di dalam lebing yang berlubang dari atas. Sungguh luas.

Kami tidak sempat menikmati sunset di Crystal Bay karena terlalu sore hampir senja, padahal kami sudah di pintu masuknya. Bukan tanpa sengaja kami tiba di sana, melainkan karena tersesat ketika menuju pulang dari Broken beach, seperti biasa handphone kami mati dan jalannya ternyata rumit terlalu banyak simpangan dan kami lupa menuju titik awal kami berbelok. Hahaha. 

Karena gak ingin pulang kemaleman, dan betapa mengerikan membayangkannya dengan medan jalan yang sering menyesatkan kami. Hehehe... 

Oh ya, kami juga tidak bisa masuk ke Angel Billabong, yaitu sebuah ceruk di tepi laut yang menjebak air di dalamnya sehingga membentuk kolam raksasa yang indah dengan pemandangan debur ombak (kalau lagi bersahabat).

  • Diamond Beach
Hari kedua kami meneruskan perjalanan mengunjungi pantai-pantai yang ada di daerah timur Nusa Penida. Kami sudah ceck out dan menitipkan barang di penginapan setelah sarapan nasi goreng dan secangkir kopi juga teh hangat untuk suami.

Ternyata dari penginapan kami terus saja ke timur, maka akan menemukan banyak warung-warung makan dan kios-kios serta pasar. Ini pusat keramaian Nusa Penida rupanya, sementara kemarin kami hampir putus asa mencari warung makan. 

Perjalanan di Sisi timur ini lebih santai di bandingkan perjalanan sehari sebelumnya, meskipun jarak tempuh lebih jauh namun waktu yang digunakan sepertinya lebih singkat sih. Mungkin karena jalan yang tidak berkelok-kelok mengitari perbukitan, tapi jalannya yang menyusuri garis pantai dan hanya tidak terlalu jauh jalan yang menyusuri dataran tinggi. 
Pemandangannya lagi-lagi sungguh menakjubkan. Diamond beach, seperti namanya layaknya seperti pecahan permata di last biru toska, batu yang berwarna putih di seputaran pantai, mungkin pecahan tebing dulunya. Saya dan suami kali ini berhasil menuruni pantai dan menikmati pasir putih dan buih-buih ombak di garis pantai yang indah.
Undakan tangga dari pahatan batu tebing in tidak lebih curam jika dibandingkan dengan yang di kelingking beach kemarin. Walaupun pegangannya cuman tali tambang tapi cukup merasa aman karena di sisi kanan menempel dengan tebing. Cukup ngos-ngosan ketika kembali dengan panas yang masih membakar, padahal belum terlalu siang loh. 

  • Raja Lima, Pulau Seribu dan Rumah Pohon
Sebenarnya ini masih satu kawasan saja, tapi tetap saja kita harus berkendara untuk menuju pintu masuk dan parkiran yang berbeda jalan. Ada simpang jalan di titik awal ketika masuk lokasi Diamond beach tadi, mau yang mana duluan sih gak jadi masalah. 
Tapi pilihan kami ternyata tepat untuk bersusah-Susah terlebih dahulu ketika menuruni tebing di Diamond beach, karena jalan menuju Raja Lima lebih waw karena panas dan terbuka. Tidak terlalu curam walaupun cukup menanjak tapi lumayan jauh.

Sebelum melihat  Pulau Seribu dan berfoto-foto di Raja Lima, kita akan menemui rumah pohon. Yaitu pondokan yang dibuat di atas pohon, bayar log kalau mau foot di saja. Dan tidak terlalu menarik bagi saya. 


Saya lebih terpukau dengan hamparan batu-batu raksasa di sepanjang teluk ini, memang persis seperti Raja Ampat. Pulau Seribu sendiri adalah spot foto dengan latar bongkahan-bongkahan batu Raja Lima dan patung sesembahan khas orang Bali.

Memang tidak ada debur ombak yang seolah mengamuk, namun pasir putih, laut turquois, bongkahan batu raksasa yang Putih susu, memberi keindahan dan pengalaman menakjubkan yang berbeda dan berkesan dalam.
Dan lelah yang mengguyur sepanjang menanjak kembali dengan beberapa kali istirahat akhirnya terbayar tuntas dengan air kelapa muda yang kami nikmati d spot terbaik dengan embusan angin yang meyejukkan. Badan kembali segar, dan rasanya belum puas berada di Nusa Penida karena masih banyak tempat-tempat yang harus di jelajahi.

Sayang sekali, jam 3 sore kami harus berangkat kembali ke Sanur dan meneruskan perjalanan ke Ubud. Fast boat yang kami gunakan masih sama seperti kemarin dan pesannya juga online, walaupun kami pesannya baru tadi pagi, jadi kami dikenakan charge khusus. Saya lupa sih berapa, kalau gak salah sih 10.000 per tiketnya.
pemandangan sepanjang pantai di kawasan timur.

Ohya, jangan kaget ya jika nanti di pantai Sanur, boat tidak berlabuh di dermaga tapi di tepian pantai saja. Kita akan berjalan sendiri hingga ke pantai, jadi siap-siap basah kalau tiba-tiba gelombang datang. Tapi tenang orang kapalnya baik-baik, kita tidak akan kehilangan sandal karena ada tempat khusus yang disediain dan tas-tas kita yang agak merepotkan akan dibantu oleh mereka. Waktu keberangkatan juga begitu sih. Jadi siap-siap saja dengan pakaian yang cukup ringkas.
pemandangan sepanjang pantai di kawasan timur

Hem, selain itu apa ya? oh ini, biaya masuk kawasan wisata pantai-pantai di sini cukup murah dengan hanya membayar biaya parkir 5000 untuk kendaraan bermotor. Dan air kelapa muda segar yang kami nikmati hanya 25.000. ")

Saya menyelesaikan tulisan ini terlalu lama, jadi banyak bagian-bagian yang telah terlupakan. konsep-konsep yang ingin saya tuangkan juga udah ambyar dari ingatan. Hahahaa, pelajaran buat perjalanan selanjutnya, setidaknya ditulis dulu kali ya di jurnal pribadi biar poin-poin pentingnya gak kelupaan :)

See yaaa.
January 05, 2020

Review Buku: Semua Untuk Hindia oleh Iksaka Banu

by , in
 Ini sebenarnya buku terakhir yang saya baca di tahun 2019, buku #11. Setidaknya saya berhasil menyelesaikan tantangan dari diri saya sendiri untuk membaca tuntas buku yang gak boleh kurang dari 10 buku. Dan dengan harapan di tahun ini, intensitas membacanya saya lebih meningkat ya :) Saya penasaran juga sih ada teman-teman di dunia perbukuan mampu membaca 70-100an buku dalam setahun. Waw gak sih?

Dari artikel-artikel yang saya baca mengenai budaya membaca di beberapa negara maju, setidaknya dalam seminggu kita dapat menyelesaikan membaca 1 buku. Tapi, balik lagi pada ketebalan buku ya. Jika di rata-rata setiap orang dalam suatu negara setidaknya membaca diatas 10 buku dalam setahun. 

Hari ini saya baru bisa menyelesaikan ulasan buku ini, menarik! dan saya jatuh cinta pada setting waktu yang diambil oleh Iksaka Banu. Yaitu pada masa-masa kolonial, baik sebelum maupun setelah masa penjajahan Jepang. 

13 cerita pendek yang dirangkum dalam buku yang memiliki 153 halaman ini sangat ringan untuk dibaca, sehari pun sebenarnya akan tuntas. Tetapi saya sempat mengalami kebosanan ketika telah menyelesaikan dua judul cerita di beberapa halaman pertama. Kenapa? Karena ending dari cerita membuat saya agak merasa 'kok begini saja?' tapi, saya tidak mengatakan buku ini mengecewakan saya lho ya...

Ekspektasi saya tentang ending sebuah cerita selalu tinggi, terlebih pada cerita pendek. Dimana struktur kepenulisan cerita pendek itu lebih rumit dan tentu penulis harus memiliki kepiawaian yang tinggi dalam menyusun kata-kata. Barangkali itu yang membuat saya menaruh harapan besar pada cerita yang ditulis oleh Iksaka Banu sebagai peraih Kusala Sastra Khatulistiwa 2014.
Oke, saya akan menggambarkan apa yang saya maksud di atas, dari latar waktu dan tempat saya akui ide-ide Iksaka Banu sangat keren, dialog dan diksi yang ia ramu juga membuat saya larut dalam cerita. Namun, saya berharap konflik dalam cerita akan berakhir dengan meninggalkan kesan yang mendalam, seperti paragraf-paragraf awal dan ketika memasuki area konflik dalam cerita, ini sungguh wow menurut saya dan saya berharap setiap cerita dalam buku ini dapat berkembang menjadi sebuah novel keren layaknya novel-novel sejarah Pramoedya Ananta Toer.

Sebetulnya, ada beberapa ending cerita-cerita Iksaka Banu yang sulit di tebak. Alur yang ia buat cukup menarik dan mengalir alami. Kita dengan mudah memahami pergolakan dalam cerita.

Tapi, ini mungkin bukan cerita yang endingnya dibuat rumit dengan kritikan sosial yang telak. Bagi saya ini adalah paparan sejarah yang ditulis lebih renyah dalam bentuk fiksi, ada banyak peristiwa yang bahkan tidak kita ketahui dari buku-buku sejarah yang pernah kita pelajari selama ini. Ini adalah hal yang sangat berharga, wawasan yang perlu kita kembangkan dan memperjelasnya lagi.

Inilah yang sangat menarik dari cerita-cerita Iksaka Banu, ia membentuk tokoh-tokoh protagonisnya dari pihak Belanda atau keturunan Belanda pada waktu itu. Ada pesan-pesan khusus yang ingin penulis sampaikan, ia ingin mengurutkan periode-periode sejarah yang terlompati.

Iksana Banu ingin mengangkat anomali dalam sejarah yang tidak kita ketahui, bahwa sejarah tidaklah hanya sekedar dinyatakan hitam atau putih, di pihak manapun kita berdiri itu bukanlah pihak yang mutlak benar.
Jangan kaget ya, ketika nanti membaca tentang para laskar pribumi yang juga sebenarnya kejam terhadap sesama pribumi. Atau orang Belanda yang memimpin pemberontakan terhadap kolonial dengan mengorganisir pribumi, nyai yang berselingkuh, atau Untung Suropati yang menjadi kepala rombongan perambok Belanda-Belanda Kaya. Ada juga pertikaian orang-orang Cina dengan Belanda, kekejaman yang silih berganti-ganti di pihak manapun.

Orang-orang Belanda yang miskin di negaranya tiba-tiba menjadi kaya dan berkuasa setelah datang ke Hindia Belanda, dimana budaya kejam dan serakah mereka pun tumbuh.

Oh ya, ada beberapa kritikan dari pembaca untuk Iksaka Banu tentang sudut pandangnya dalam cerita. Menyoal keberpihakannya terhadap kolonial Belanda terutama dalam cerita-ceritanya. Namun menurut saya sih anggapan itu keliru dan terlalu berburuk sangka. Seperti yang saya tulis di atas, apa yang sebenarnya ingin Iksaka Banu sampaikan pada seluruh pembaca, justru ia memberikan gambaran yang paling objektif dari literasi-literasi sejarah yang pernah ada.

Mau tidak mau kita harus mengakui, banyak hal buruk yang lahir dari penindasan. Kemiskinan yang membuat kita terkadang tak berpikir tentang masa depan atau tentang kehormatan, bukan semata karena kebodohan saja.

Hmm, dari buku ini saya jadi ingin tahu lebih banyak tentang Tuanku Imam Bonjol. Beliau digambarkan sangat menarik dalam buku ini.
Selamat memenuhi target baca di tahun 2020 :)


*)Image&Referensi: Google search & wawancara Iksaka Banu on Youtube.