THOUGHT&BOOK

Review Buku: The Doll That Took A Detour (Buku keempat seri Hyouka) oleh Yonezawa Honobu


The Doll That Took A Detour. Boneka Yang Mengambil Jalan Memutar. Judul sebuah novel dari penulis Jepang Yonezawa Honobu, di dalam novel ini ada tujuh cerita pendek tentang seputar kehidupan empat orang anggota Klub Sastra Klasik. Ketika itu mereka masih di masa-masa SMA kelas 1, meskipun dengan tokoh yang sama, namun masing-masing menceritakan waktu dan tempat yang berbeda-beda. Satu cerita dengan cerita lainnya tidak saling berhubungan sebetulnya, masing-masing cerita memiliki plot yang berbeda namun dibangun sesuai urutan waktu yang secara halus menceritakan bagaimana perkembangan hubungan kedekatan mereka satu sama lain. Dari mereka yang canggung, hingga mereka menjadi saling terhubung dan seperti cerita remaja-remaja lainnya, diam-diam mereka sebenarnya saling jatuh cinta. Fukube Satoshi dan Ibara Mayaka, Oreki Hotaro dan Chitanda Eru. 

Seperti yang dikatakan oleh penulisnya, Yonezawa Honobu, pada catatan tambahan di bagian lembar-lembar terakhir novel ini, ia membagi beberapa periode waktu selama tahun-tahun pertama mereka di SMA Kamiyama untuk menggambarkan perubahan jarak diantara ke empat tokoh utama secara agak perlahan. Itulah alasan di balik pemilihan judul novel ini "Boneka Yang Mengambil Jalan Memutar." 

Boneka Yang Mengambil Jalan Memutar adalah cerita pendek ke tujuh atau cerita pendek yang terakhir dari novel ini. Menceritakan tentang festival Hinamatsuri di kuil Mizunashi, ini adalah perayaan setiap tanggal 3 Maret untuk mendoakan pertumbuhan anak perempuan, keluarga yang memiliki anak perempuan akan memasang satu set boneka yang disebut hina ningyo (boneka hina).

Pada festival itu, Chitanda Eru menggunakan kostum permaisuri dan Oreki Hotaro menjadi petugas yang membawa payung cukup besar untuk si permaisuri, sebenarnya ia hanya menggantikan petugas dari di desa itu atas permintaan Chitanda Eru. Yang menarik pada perayaan kali ini, arak-arakan dari kuil terpaksa harus melewati jalan yang menurut riwayatnya adalah batas yang tidak boleh dilalui atas alasan religius. Lalu bermunculanlah spekulasi Oreki Hotaro dan juga Chitanda Eru, bahwa seorang pemuda desa yang sedang pulang dari belajar di Osaka, ia adalah seorang fotografer, sengaja mengacaukan rute arak-arakan boneka Hina demi melihat boneka permaisuri yang mengenakan junihitoe yaitu kimono dua belas lapis lalu berjalan di bawah pohon sakura yang bunganya sedang mekar berwarna merah muda. Sungguh pemandangan yang menakjubkan kata mereka, dan hal itu jelas sekali jarang terjadi.
Buku ini adalah novel keempat dari seri Hyuoka, sebuah novel misteri remaja yang terkenal. Tapi, saya cuman baru baca yang ini, tadinya karena tertarik dengan kehidupan masyarakat Jepang. Ada beberapa buku dari penulis-penulis Jepang, lalu saya memilih tahun lahir penulis yang saya nilai tidak muda lagi, karena tentu ia menulis dengan lebih serius.

Ternyata saya salah, buku ini dengan cerita-ceritanya yang sangat ringan dan kehebatan penulis ketika menjabarkan bagian-bagian yang begitu rinci sehingga mudah dibayangkan. Namun, tidak sulit untuk mengikuti kisah-kisah para tokoh di dalamnya, meskipun tidak membaca buku-buku sebelumnya. Yonezawa Honobu membawa kita mengenal lebih dekat dengan tradisi budaya Jepang, suasana kota Kamiyama dan gang-gangnya mungkin sekitar tahun 2005 ke bawah. Selain itu, Yonezawa Honobu juga mengajak kita untuk berpikir tentang misteri-misteri kecil yang menjadi tema kunci dalam setiah kisah pada novel ini, dimana Oreki Hotaro dan teman-temannya selalu berusaha untuk memecahkan misteri-misteri tersebut, hal itu tak lepas dari rasa penasaran Chitanda Eru yang besar.

Meskipun Oreki Hotaro memiliki prinsip "Kalau tidak perlu dikerjakan, lebih baik tidak usah dikerjakan. Tapi, kalau harus dikerjakan, lakukan dengan praktis." Tapi ia tak pernah bisa mengelak dari rasa penasaran Chitanda Eru, ia selalu merasa diminta untuk memecahkan hal itu.

Satu judul yang paling berkesan bagi saya adalah judul ketiga, Melihat Penampakan. Ini ketika mereka berempat sedang berlibur ke sebuah desa di dataran tinggi yang memiliki sumber air panas terkenal. Yaitu desa Zaizen. Saya suka cerita ini karena saya jadi terbawa larut ke dalam cerita dengan begitu mudahnya, saya bisa membayangkan tempat pemandian air panasnya, udara berkabut yang menyimpan misteri, penginapan yang hening, suasana festival yang terjadi di desa itu, atau apa yang mereka rasakan ketika berada dalam kendaraan umum yang menempuh jalan yang berbatu. Perjalanan yang meletihkan untuk menuju desa yang sangat indah. :)

Ini adalah novel remaja yang masih bisa dinikmati orang dewasa, tulisan Yonezawa Honobu cukup apik dalam menggambarkan tiap-tiap detail dan membangun cerita dengan dialog-dialog yang natural.
Buku ini diterbitkan oleh penerbit HARU, yang memang concern pada penerbitan karya-karya sastra negara-negara Asia. Khususnya, buku-buku untuk kalangan kaum muda namun juga bisa menjadi bacaan bagi kaum dewasanya, atau sebaliknya. Mereka memang menerbitkan dan mencari buku-buku bacaan untuk kaum muda yang beranjak dewasa.

Oh ya, saya sempat mencatat kutipan yang saya simpulkan dari salah satu judul cerita dalam novel ini, "bahwa kita harus mengetahui penyebab dari setiap kemarahan kita, bahkan kita seharusnya juga mengetahui apa yang menyebabkan terjadinya hal-hal yang bisa membuat kemarahan tadi."  Misalnya begini, saya marah pada adik saya yang menumpahkan gelas di atas meja makan, tanpa mengetahui terlebih dahulu kenapa gelas itu bisa tumpah. Apakah yang terjadi tersebut, wajar untuk kemarahan kita? So, apa yang membuat kita? kenapa...? kira-kira begitu.

Eh, ini ada serial animenya juga.

Jepang terkenal dengan budayanya yang maju, hal itu mungkin juga menyebabkan bangsa ini menjadi salah satu bangsa yang unggul di dunia dengan penguasaan teknologi yang canggih.

Hm, saya jadi tertarik membaca buku-buku dari penulis Jepang lainnya deh. ^.^


*)SourceImage: pinterest, google search*)Referensi: Wikipedia, The Doll That Took A Detour, Podcast Kepo Buku 



No comments:

Post a comment