THOUGHT&BOOK

Imajinasi Sebuah Toko Buku

Namaku Freya Anaya, tak banyak yang menarik dariku yang bisa kukatakan. Tapi banyak hal yang menarik bagiku, seperti aroma teh melati pada pagi hari, hujan yang meninggalkan drama pada jendela kamarku yang berkabut, atau suara desau angin menyapa dedaunan. 

Yah, begitulah aku mencintai hari-hariku, tak ada yang lebih sempurna selain menghabiskan sepanjang waktu di toko buku warisan nenek. 

Tanpa rencana, bau musim gugur yang jauh membawaku ke suatu kota dan entah bagaimana, aku mau saja untuk membuka kembali toko buku ini. 

Papa dan mama dengan berat hati mengijinkan ku tinggal di kota ini, sendirian. Mereka tak pernah menyangka aku akan tertarik akan gagasan itu, aku pikir, kita selalu butuh ruang sendiri dan merenung akan banyak hal tentang diri.
Aku seperti orang yang putus asa, kata mereka yang telah mengenalku begitu dekat. Keceriaan dan kegemaranku akan perjalanan sepertinya tidak mungkin akan membuatku bertahan di satu tempat dengan rutinitas yang sama, apalagi itu sendirian. Aku menyukai suasana yang meriah dan orang-orang yang menjadi tempat ku berbagi apa saja.

Semua itu berubah?

Entahlah, waktu dan perjalanan telah membawaku pada keputusan yang sulit dimengerti, bahkan oleh diriku sendiri. Aku hanya merasa harus berhenti, mungkin sesaat atau disinilah tempatku yang selama ini kucari dalam setiap perjalanan.

Book Shop, toko buku yang dibuka setelah perang dunia I oleh kakek dan nenek. Awalnya mereka hanya ingin menyediakan tempat untuk buku-buku yang mereka koleksi lalu dapat dibaca oleh banyak orang sambil menikmati teh dan kopi. Sesekali berdiskusi barangkali. 
Seiring waktu berganti, teman-teman kakek dan nenek justru menitipkan buku-buku mereka untuk dijual. Ekonomi saat itu memang belum kembali pulih, jadi apapun yang bisa dilakukan untuk menambah pemasukan, akan mereka lakukan.

Meskipun begitu, minat warga kota akan buku-buku tak pernah surut. Silih berganti pengunjung yang datang untuk sekedar membaca atau kemudian menawar buku yang mereka minati. Buku-buku tak pernah kehabisan cara untuk membangkitkan kembali semangat setelah begitu banyak luka di kota ini, bagi mereka yang ditinggalkan dan yang kehilangan. 

Banyak pula tulisan teman-teman kakek dan nenek yang mereka bundel dan dibiarkan di toko buku ini, karena tak sempat diterbitkan atau ditolak oleh penerbit.

Buku-buku dan jutaan kata di dalamnya adalah gairah paling murni yang menjaga kakek dan nenek untuk tetap hidup penuh harapan, mereka senang berkumpul dan mendiskusikan tulisan demi tulisan kala itu, dan lahirlah perkumpulan pecinta buku.

Book Shop akhirnya menjadi tempat berkumpul setiap akhir pekan, mereka dengan kritis dapat membahas sebuah buku hingga fajar dan itu hanya salah satu bagian dari bab-bab saja. Aku tak bisa membayangkan bagaimana berada diantara orang-orang yang menjadikan buku begitu penting. Dulu nenek kerap menceritakan kisah itu dengan matanya yang selalu cemerlang, sambil tertawa riang. Ada saja yang membuatnya bahagia setiap kali mengulang-ulang ingatannya akan hal itu, barangkali itu adalah kenangan terbaik yang ia jaga hingga akhir usianya.
***
"Anaya!"

Sebuah suara melengking memanggilku dari belakang, aku menoleh. Setengah terkejut kuletakan seikat bunga kering yang menarik perhatianku, setiap pagi aku senang berkunjung kemari. Kios bunga kecil yang menjadi favoritku.

"Hai, ini roti pesananmu."

Ia menyodorkan sekantong roti yang masih hangat, baunya meruap keluar. Sangat khas dan tentu saja kelezatannya tak usahlah diragukan lagi. Aku tersenyum lebar menerima roti itu dari Eddy, ia sungguh pembuat roti yang baik hati.

"Kupikir tadi kau tak keluar dari Book Shop,"
"Ya, aku terlalu siang keluar Ed. Aku hanya ingin membeli bunga-bunga kering."
"Hm. Oh ya, bagaimana toko buku mu? tak terasa kau sudah enam bulan disini An."
"Benar, waktu begitu cepat berlalu. Book Shop mulai menampakkan kuncup bunganya Ed, aku senang satu-dua pengunjung yang datang tiap harinya."
"Buku-bukumu mungkin perlu yang terbaru An, terlalu banyak buku yang cukup rumit disana."

Aku terdiam, Eddy sudah mengenal Book Shop sejak ia kecil walaupun tak sempat melihat Book Shop buka sebelum aku datang kemari. Beberapa kali ia mampir ke Book Shop dan melihat-lihat koleksi kakek dan nenek. Ia pun sangat mengerti tentang buku.

Pernah suatu kali ia mengeluhkan minat baca para pemuda-pemudi kota yang semakin menurun, itu bukan tradisi kota ini, katanya. Mereka sudah kecanduan terhadap internet dan lebih banyak menghabiskan waktu dengan permainan online dari pada ke toko buku.
***
Pagi seperti biasa, sinar lembut matahari mulai membangunkan kota kecil ini, kota yang teduh di balik pegunungan. Aku mulai membuka semua tirai jendela, kain tile putih berbunga-bunga kecil melambai-lambai terembus angin yang juga membawa wewangian tumbuhan.

Hari ini Book Shop buka lebih pagi, aku ingin menyantap roti dan segelas teh melati sembari membaca satu buku lagi hari ini. Lambat laun aku mulai mencintai buku-buku dan aromanya, memang buku di sini adalah koleksi kakek dan nenek yang sama tuanya dengan toko ini, bahkan kukira lebih tua dari itu.

Buku-buku ini dirawat dengan baik oleh orang kepercayaan kakek nenek setelah toko ini mereka tinggalkan. Kata nenek, ia yakin suatu hari toko ini akan kembali menjadi tempat berkumpul para pecinta buku-buku. 


next...



Source Image by pinterest






No comments:

Post a Comment