THOUGHT&BOOK

August 14, 2019

Sastra atau Fiksi Populer?

by , in
Sebetulnya saya agak sedikit kebingungan memilah antara karya sastra dan fiksi populer. Tadinya saya hanya berpikir bahwa karya sastra memiliki diksi yang lebih rumit dengan mengangkat cerita yang lebih berat. 

Namun, ketika jalan-jalan ke toko buku saya menjadi tambah kebingungan.

Kenapa?

Karena buku-buku yang terpajang sudah beragam alirannya. Ada novel terjemahan, novel remaja, novel dewasa, novel metropop, puisi, fiksi religi, komik, fiksi dengan ilustrasi penuh, buku motivasi yang juga diikuti seni grafis, fiksi yang berbahasa Inggris dengan penulis Indonesia, dan lain sebagainya.

Apakah ini sebuah perkembangan? Ya, barangkali begitu.

Dulu semasa kuliah saya cukup mengenal chicklit dan teenlit, ceritanya ringan dengan bahasa yang mudah namun sangat menghibur. Sekarang mungkin berganti dengan novel metropop dan novel remaja.

Beranjak lebih dewasa, saya mulai diracuni oleh teman dengan bacaan yang lebih berat dan terkadang sulit saya pahami dan membuat saya bosan. Yaitu buku-buku yang bertema politik atau lainnya baik fiksi maupin non fiksi. Lama-kelamaan saya justru ketagihan mencari jenis fiksi serupa, saya menjadi lebih berpikir ketika harus memahami kata-kata yang tersusun, saya menemukan wawasan baru dan lebih luas.

Saya merasa dekat dengan peristiwa-peristiwa yang pernah terjadi pada suatu waktu, melalui fiksi para penulisnya mencoba menceritakan apa yang sebenarnya pernah terjadi dan membawa saya untuk lebih mendalami apa yang saya baca.
Sejak saat itu saya meninggalkan chicklit dan teenlit, ehm.

Mmh, kembali lagi pada apa yang ingin saya bahas disini, yaitu mana yang lebih menarik antara karya sastra atau fiksi populer? Nah, sebelum itu saya harusnya bisa dong membedakan keduanya.

Khususnya dalam bentuk tulisan, sastra meliputi karya-karya fiksi dan non fiksi. Namun dalam perkembangannya sastra pun mengalami periode dan melebur ke dalam beberapa bentuk. Prosa dan Puisi adalah bentuk yang familiar dalam karya populer.

Lalu, dimana posisi fiksi populer dalam dunia sastra?

  • Prosa Lama adalah prosa yang dibuat murni dengan bahasa Indonesia dan belum dipengaruhi oleh budaya Barat. 
  • Prosa Baru, justru kebalikannya. Prosa yang dikarang bebas tanpa aturan apapun dengan berbagai pengaruh budaya asing.
Jadi bisa dikatakan, fiksi populer merupakan bentuk Prosa Baru dalam sastra yang terdiri dari jenis-jenis novel  dan karangan lainnya yang berkembang pesat setelah era reformasi.

Dan beberapa tahun terakhir ini, menjamur karya prosa yang disandingkan dengan ilustrasi seni rupa. 

Kembali kepada fungsi sastra menurut saya, sastra memiliki sudut pandang sendiri dalam mencatat peristiwa dan waktu. Jadi, sekalipun perkembangan sastra serius kini melahirkan bentuk baru yaitu fiksi populer, haruslah tetap berpegang pada fungsi ini. Ada nilai yang berkembang dalam masyarakat, dan kita menangkapnya melalui pesan-pesan yang terkandung dalam setiap karya.

Yah, saya begitu mencintai 'kata-kata' yang mampu mendeskripsikan sesuatu, seakan-akan saya dapat melihat dan merasakan hanya dengan membaca rangkaian kata-kata. Hmm, mungkin ada literasi yang lebih tepat untuk hal ini? diskusiin yuk temen-temen...




*)source image: pinterest and canva. *)Referensi: wikipedia dan perenungan.




August 05, 2019

Imajinasi Sebuah Toko Buku

by , in
Namaku Freya Anaya, tak banyak yang menarik dariku yang bisa kukatakan. Tapi banyak hal yang menarik bagiku, seperti aroma teh melati pada pagi hari, hujan yang meninggalkan drama pada jendela kamarku yang berkabut, atau suara desau angin menyapa dedaunan. 

Yah, begitulah aku mencintai hari-hariku, tak ada yang lebih sempurna selain menghabiskan sepanjang waktu di toko buku warisan nenek. 

Tanpa rencana, bau musim gugur yang jauh membawaku ke suatu kota dan entah bagaimana, aku mau saja untuk membuka kembali toko buku ini. 

Papa dan mama dengan berat hati mengijinkan ku tinggal di kota ini, sendirian. Mereka tak pernah menyangka aku akan tertarik akan gagasan itu, aku pikir, kita selalu butuh ruang sendiri dan merenung akan banyak hal tentang diri.
Aku seperti orang yang putus asa, kata mereka yang telah mengenalku begitu dekat. Keceriaan dan kegemaranku akan perjalanan sepertinya tidak mungkin akan membuatku bertahan di satu tempat dengan rutinitas yang sama, apalagi itu sendirian. Aku menyukai suasana yang meriah dan orang-orang yang menjadi tempat ku berbagi apa saja.

Semua itu berubah?

Entahlah, waktu dan perjalanan telah membawaku pada keputusan yang sulit dimengerti, bahkan oleh diriku sendiri. Aku hanya merasa harus berhenti, mungkin sesaat atau disinilah tempatku yang selama ini kucari dalam setiap perjalanan.

Book Shop, toko buku yang dibuka setelah perang dunia I oleh kakek dan nenek. Awalnya mereka hanya ingin menyediakan tempat untuk buku-buku yang mereka koleksi lalu dapat dibaca oleh banyak orang sambil menikmati teh dan kopi. Sesekali berdiskusi barangkali. 
Seiring waktu berganti, teman-teman kakek dan nenek justru menitipkan buku-buku mereka untuk dijual. Ekonomi saat itu memang belum kembali pulih, jadi apapun yang bisa dilakukan untuk menambah pemasukan, akan mereka lakukan.

Meskipun begitu, minat warga kota akan buku-buku tak pernah surut. Silih berganti pengunjung yang datang untuk sekedar membaca atau kemudian menawar buku yang mereka minati. Buku-buku tak pernah kehabisan cara untuk membangkitkan kembali semangat setelah begitu banyak luka di kota ini, bagi mereka yang ditinggalkan dan yang kehilangan. 

Banyak pula tulisan teman-teman kakek dan nenek yang mereka bundel dan dibiarkan di toko buku ini, karena tak sempat diterbitkan atau ditolak oleh penerbit.

Buku-buku dan jutaan kata di dalamnya adalah gairah paling murni yang menjaga kakek dan nenek untuk tetap hidup penuh harapan, mereka senang berkumpul dan mendiskusikan tulisan demi tulisan kala itu, dan lahirlah perkumpulan pecinta buku.

Book Shop akhirnya menjadi tempat berkumpul setiap akhir pekan, mereka dengan kritis dapat membahas sebuah buku hingga fajar dan itu hanya salah satu bagian dari bab-bab saja. Aku tak bisa membayangkan bagaimana berada diantara orang-orang yang menjadikan buku begitu penting. Dulu nenek kerap menceritakan kisah itu dengan matanya yang selalu cemerlang, sambil tertawa riang. Ada saja yang membuatnya bahagia setiap kali mengulang-ulang ingatannya akan hal itu, barangkali itu adalah kenangan terbaik yang ia jaga hingga akhir usianya.
***
"Anaya!"

Sebuah suara melengking memanggilku dari belakang, aku menoleh. Setengah terkejut kuletakan seikat bunga kering yang menarik perhatianku, setiap pagi aku senang berkunjung kemari. Kios bunga kecil yang menjadi favoritku.

"Hai, ini roti pesananmu."

Ia menyodorkan sekantong roti yang masih hangat, baunya meruap keluar. Sangat khas dan tentu saja kelezatannya tak usahlah diragukan lagi. Aku tersenyum lebar menerima roti itu dari Eddy, ia sungguh pembuat roti yang baik hati.

"Kupikir tadi kau tak keluar dari Book Shop,"
"Ya, aku terlalu siang keluar Ed. Aku hanya ingin membeli bunga-bunga kering."
"Hm. Oh ya, bagaimana toko buku mu? tak terasa kau sudah enam bulan disini An."
"Benar, waktu begitu cepat berlalu. Book Shop mulai menampakkan kuncup bunganya Ed, aku senang satu-dua pengunjung yang datang tiap harinya."
"Buku-bukumu mungkin perlu yang terbaru An, terlalu banyak buku yang cukup rumit disana."

Aku terdiam, Eddy sudah mengenal Book Shop sejak ia kecil walaupun tak sempat melihat Book Shop buka sebelum aku datang kemari. Beberapa kali ia mampir ke Book Shop dan melihat-lihat koleksi kakek dan nenek. Ia pun sangat mengerti tentang buku.

Pernah suatu kali ia mengeluhkan minat baca para pemuda-pemudi kota yang semakin menurun, itu bukan tradisi kota ini, katanya. Mereka sudah kecanduan terhadap internet dan lebih banyak menghabiskan waktu dengan permainan online dari pada ke toko buku.
***
Pagi seperti biasa, sinar lembut matahari mulai membangunkan kota kecil ini, kota yang teduh di balik pegunungan. Aku mulai membuka semua tirai jendela, kain tile putih berbunga-bunga kecil melambai-lambai terembus angin yang juga membawa wewangian tumbuhan.

Hari ini Book Shop buka lebih pagi, aku ingin menyantap roti dan segelas teh melati sembari membaca satu buku lagi hari ini. Lambat laun aku mulai mencintai buku-buku dan aromanya, memang buku di sini adalah koleksi kakek dan nenek yang sama tuanya dengan toko ini, bahkan kukira lebih tua dari itu.

Buku-buku ini dirawat dengan baik oleh orang kepercayaan kakek nenek setelah toko ini mereka tinggalkan. Kata nenek, ia yakin suatu hari toko ini akan kembali menjadi tempat berkumpul para pecinta buku-buku. 


next...



Source Image by pinterest