THOUGHT&BOOK

Nayya (Sesaat Kabut Pagi)


Pagi berkabut, semburat cahaya mulai tampak dari ufuk timur, dan puncak-puncak bukit terlihat samar. Bagai kapas yang ringan menggantung dan terhampar menyentuh garis cakrawala, awan-gemawan serta kabut tipis melebur satu. 

Kukerjap-kerjapkan mata dan kantuk perlahan sirna oleh siraman air sedingin es, meskipun tidurku yang begitu pulas dengan letihnya sekujur tubuh, namun azan subuh yang dikumandangkan pak Wundaga dari ruang depan mampu membuatku bangkit melepaskan hangatnya sleeping bag.

"Nak, ini dicoba kopinya, sengaja ibu tambah sedikit gula." Bu Wundaga menghampiriku di balkon, akupun tersenyum lebar demi mendapati kepulan asap dari segelas kopi yang hitam pekat dan sepiring pisang goreng.

"Terima kasih bu, pasti kopi racikan ibu sendiri ini sangat istimewa." 
"Ya nak, ibu jarang meracik karena biasanya setelah panen ibu langsung menjual kopi-kopi ini."

"Jadi, ini benar-benar keberuntungan saya ya bu?"

Bu Wundaga tersenyum sambil mengangguk. Ia adalah wanita tua yang sangat lembut dan memiliki senyum begitu ramah. Mungkin usianya telah mencapai lebih dari enam-puluhan. Bapak dan bu Wundaga hanya tinggal berdua saja di rumah ini, rumah yang jauh di atas bukit, dimana lereng-lerengnya dipenuhi dengan perkebunan kopi.

Terkadang anak-anaknya yang tinggal di kota menjenguk
dan mengantarkan bahan-bahan makanan. Tinggal jauh begini adalah pilihan mereka sendiri, keinginan kuat itu tak bisa dibantah, jadi ya sudah. Selama bapak dan ibu berbahagia, anak-anak mereka hanya berusaha mendukung dengan apapun yang mereka mampu.

Kuhirup aroma kopi yang begitu lekat, meruak dari warnanya yang pekat. Kopi arabica yang lezat, jauh-jauh aku kemari nyatanya tak sia-sia dengan suguhan pagi yang sempurna seperti pagi ini.
Kopi ini seperti lengket di lidah, sungguh rasanya begitu kuat. Tak heran mengapa kopi Toraja menjadi favorit para pecandu kopi. Walaupun aku hanya sesekali menikmati kopi, namun cukup hanya sekedar menjadi penikmat biasa saja. Jadi tak banyak rasa-karsa kopi yang ku tahu dan ini merupakan kopi yang termewah yang pernah kucicipi.

Langit segera menjadi terang-menderang, kabut perlahan menghilang dan sinar kemerahan menerpa putihnya awan yang seakan menari-nari di pelataran langit. Aku kembali ke kamar membawa gelas kopi yang telah separuh tandas, hanya kusisakan pisang goreng untuk teman-temanku yang masih terlelap dalam dengkurnya.

Dari tirai jendela yang telah singkap dan kaca jendela yang terbuka, warna-warni indah memenuhi kamar. 

Kamar yang disediakan bapak dan ibu Wundaga berada di lantai bawah, dari jendela masih dapat kunikmati bentang alam yang indah, udara segar membawa bau-bau segala macam dedaunan masuk ke dalam kamar. 

Betah rasanya jika harus berlama-lama di sini, namun tujuanku tentu tak mengijinkan hal semacam itu bagiku. Aku hanya singgah sebentar untuk kemudian pergi lagi, dan selalu saja demikian, entah seberapa jauh lagi pelarian ini akan berakhir.

Aku duduk di tepi ranjang yang menghadap ke jendela, untuk sesaat kurasa semua baik-baik saja. Untuk sesaat, aku bisa terbangun tanpa rasa gundah yang membuatku muak. Untuk sesaat, aku dengan lahap menyantap sarapanku bersama pagi. Untuk sesaat, aku tertawa lepas sembari memejamkan mata dan membiarkan kabut tipis mengusap semua letihku. Untuk sesaat, aku merasa larut dalam keheningan yang menenangkan.

Kamar ini telah benar-benar berlimpah cahaya matahari, akupun langsung meneguk sisa kopi toraja tadi, tersadar bahwa pagi kian susut. Suara-suara burung dan ayam menjadi sangat ramai membentuk melodi mereka sendiri. Kunikmati sekali lagi kehangatan kamar ini, mataku terpejam dan ingatanku jauh mengembara menelusuri setiap perjalanan. Ada sekelebat ingatan yang segera ku hadang, jika sudah begini, aku akan mencoba mengingat sebanyak mungkin hal yang menyenangkan bagiku.

***








*)Source Image: Koleksi pribadi dan pinterest

No comments:

Post a Comment