THOUGHT&BOOK

Nayya Nayyu di Suatu Pagi

Aku bisa mendengar angin yang begitu lirih, membawa aroma segala musim. Ada alunan nada yang lembut seperti menari bersama angin yang menerpa wajahku, dan helai rambutku pun ikut meliuk-liuk ditingkahi sinar mentari pagi.

Aku menengadah membayangkan berkas-berkas cahaya, tampak ribuan kilau permata menyilaukan. Mataku menyipit, dalam pandangan yang terbatas aku masih mencari yang ingin kulihat, namun entahlah, aku hanya mendengar suara angin serupa tetesan hujan yang jatuh.

Kemudian pelan mataku membuka kedua kelopaknya, sebetulnya, aku sangat lelah setelah semalam larut terjaga. Ah, tiba-tiba saja rasanya aku ingin terisak. Kenapa rasanya begitu kacau, aku tak sanggup membayangkan hal itu, kepalaku berdenyut bagai ditusuk-tusuk jarum.

"Nayyaaaa! udah pagi, bangun dong." 

Suara itu sebenarnya biasa saja, namun cukup membuatku terlonjak dari tempat tidur. Lalu diiringi dengan ketukan di pintu, kuhela nafas dan bergegas menarik daun pintu yang tak terkunci. Sosok ibu berdiri di sana, wajah teduhnya membuatku tertunduk, ada nyeri seketika menghantam ulu hatiku.

"Kamu lupa ya Nay? hari ini katanya mau jalan-jalan pagi sama ibu."

Aku diam saja, kepalaku masih tertunduk. Kerongkonganku tak sanggup mengeluarkan suara, tak ingin kupaksa karena hanya akan membuat tangisanku pecah. 

"Ya sudah, mandi dulu terus sarapan. Tadi Nayyu telepon, nanya kamu berapa lama di rumah ibu."

Aku hanya mengangguk, ibu tak memprotes dan ia pun berlalu. Lekas-lekas kututup kembali pintu kamar, air mata mulai menetes dalam isak yang coba kuredam. Tenggorokanku terasa sakit, kuraih segelas air putih di atas meja tulis, seteguk saja sudah membuatku seakan menelan pecahan batu yang tajam.

Kukira harapan itu akan kembali setelah pagi ini, namun akupun tak mengerti mengapa pedih itu menyayat lebih kejam ketika aku sadar akan tujuan kepulangan  kali ini. 

Suara angin terdengar begitu kasar dan cahaya terik mulai menyibak tirai tipis di jendela kamar. Mengapa pagi begitu cepat beranjak. 
"Nayya, aku gak sanggup menghadapi bapak dan ibu. Aku sudah mencoba segala cara untuk mengatasi ketakutan ini," Nayyu menatapku kosong, wajahnya tak lagi terawat beberapa bulan terakhir. Entah bagaimana ia melewati hari-hari berat dengan penuh kecemasan. 

Seperti hatinya yang hancur, dan perasaanku pun seolah menjadi lautan yang tenang namun arus deras berputar jauh di dalamnya. Ia tak punya pilihan untuk memilih satu-satunya pilihan, menyerah pada penderitaan dan kebingungan. Sementara aku di sisi lain, terluka teramat kelam, seharusnya ia tak begini jika saja aku benar-benar selalu ada sebagaimana seharusnya seorang kakak.

"Semua akan baik-baik saja Yyu..." 

Aku tak hanya mencoba menguatkannya, namun juga berusaha menegarkan hatiku. Kupejamkan kedua mataku, mencari-cari suara angin di sekitar kami, dan suara itu begitu samar justru membawaku pada ingatan suatu pagi lainnya.

Berganti-ganti bayangan wajah Nayyu dan detak jantung yang terekam dalam layar berkelebatan di depan mataku. Aku terperanjat dan nafasku memburu pelan, "aku yang akan pulang dan ngomongin semua ini sama bapak dan ibu."

Pandangan kami beradu dalam kehampaan, pagi itu tak terasa telah berganti terik. Bagaimanapun, hidup harus berlanjut dengan atau tanpa rencana. 
"Pak, bu... maafkan Nayyu, dan maafkan juga Nayya..." mataku berkaca-kaca, kukerahkan seluruh kekuatan untuk tak menangis, meskipun tak lagi jelas apa yang kurasakan. 

Melihat wajah bapak dan ibu tenggelam dalam kekecewaan yang tertahan, kegetiran hidup telah menempa mereka. Dan kali ini, mereka kembali pada kesedihan yang menganga, namun kulihat cinta mereka begitu jernih.
***




*)Source image by pinterest



2 comments:

  1. Ngena ke hati pas dibaca. Tapi itu cerita ibu sama bapak nya belum ngerti hehe

    ReplyDelete