THOUGHT&BOOK

Hannaya #ceritasatu


Sudah satu jam aku memandangi saja laptop di hadapanku, kertas kosong di layarnya terbuka menunggui huruf-huruf yang akan tertulis. Aku mencoba mengingat-ingat semua yang kugilai, tentang pagi dan asap yang mengepul di secangkir teh pegunungan nan jauh, tentang bagaimana letihnya napasku disergap kabut belerang ketika menapaki puncak Kerinci, atau ketika mentari terenyuh di pelukan senja merah di tepian sepi kerisauanku. Sungguh pikiranku kusut, apa yang harus kutuliskan padahal tengat waktu yang telah diberikan untukku akan habis masanya, besok siang. Kutarik napas merasa begitu tertekan, lirik lagu telah berganti-ganti mengikuti detak jarum jam dan hembusan angin yang terasa semakin dingin dari jendela kamar yang sedikit terbuka. Malam kian meninggi, lengang mulai menyerap, dan aku masih berdiam diri seperti tadi.
*
Perlahan dengan ragu kudekati meja kosong dekat jendela besar yang menghadap ke jalan raya, pagi itu masih begitu hening dan udara masih terasa bening. Nyaris tak ada kendaraan yang melintas, hanya sepeda para mahasiswa yang dikayuh dengan santai. Pada salah satu bangkunya aku duduk dengan gelisah, di sini gerai kopi dan roti biasa buka begitu pagi, walau tak banyak yang berkunjung namun ini adalah waktu-waktu terbaik menghabiskan hari di sini. Suasana akan kembali terasa sedikit ringan dengan pemandangan yang selalu dramatis terlihat dari jendela kaca yang sangat besar hampir separuh dari ruangan ini. Aku menuggu Dipo Ariangga, kami membuat janji temu sepagi ini sebelum berpisah karena masing-masing dari kami akan meninggalkan kota ini. Aku kembali ke Indonesia dan Dipo meneruskan kampanye penggalangan dana mengelilingi Eropa. Entah kapan ia akan menyusul kembali pula ke Indonesia. Aku tak lagi menuggu, tak lagi setia menunggu.

Tiba-tiba saja gerimis turun dengan anggun, tiga puluh menit telah berlalu, hanya ada satu dua orang di sini, mereka tengah asik dengan aktivitas pagi mereka, gadget dan tumpukan kertas atau buku-buku. Dinginnya cuaca di luar tak jadi soal dengan kehangatan di sini. Aku menjadi resah, Dipo tak kunjung tiba bahkan ia belum membaca whatsapp yang kukirimkan satu jam yang lalu. Apa pria itu lupa? Ah, memang ia terlalu sibuk tahun-tahun terakhir ini. Kesibukan yang sudah ia geluti semenjak masa kuliah, Dipo begitu mencintai setiap detail aktivitasnya dan hampir tak ada yang menandinginya. Bahkan kehadiranku. Tapi, bagiku itu tak pernah menjadi rumit apalagi sampai menjadi masalah dalam hubungan kami. Karena akupun demikian, di mana saat-saat aku harus menyendiri menemukan ide-ide tulisan yang selalu saja mepet dengan tengat waktu. 

Kami adalah sepasang kekasih yang hampir tak pernah berkencan lebih dari setengah jam, aku yang selalu terburu-buru dan ia yang tak pernah fokus selain pada apa yang sedang ia kerjakan. Aku mengenalnya tak begitu dekat, kami hanya terhubung oleh, entahlah... mungkin cinta atau hanya satuan-satuan molekul yang cocok namun tak begitu signifikan. Sebenarnya perpisahan bukanlah pilihannya atau diriku, namun yang tersedia untuk kami hanya sebuah perpisahan tanpa definisi rasa. Sungguh itu terasa lebih berat dari sebuah perpisahan konkrit.

“Hannaya, maaf harus menunggu.” Suara renyah itu membuyarkan pikiranku yang tengah mengembara. Aku sedikit mendongak, memastikan wajahnya masih dapat kukenali. Tak ada yang berubah, wajah itu senantiasa periang. Aku tersenyum dan mengangguk. Ia duduk seraya menyandarkan ransel—yang isinya tampak penuh—dengan hati-hati.

Tuh ransel penuh banget isinya Dip, bawa apaan sih?”

“Biasa, bahan-bahan untuk presentasi kampanye penggalangan dana komunitas saya,” perempuan cantik datang menghampiri kami, ia menanyakan pesanan Dipo dan beralih padaku, apakah akan menambah pesanan lagi. Coklat hangatku tinggal separuh gelas, dua potong donat pun telah kulahap. Aku menggeleng sembari tersenyum tipis. Dipo seperti biasa, kopi espresso dan sepotong roti keju, ia tak banyak bicara pada perempuan asing. Seperlunya saja.

“Oh ya Han, setelah ini kamu langsung kembali ke Indonesia kan ya?”

“Ya,”

“Kamu harus sesegera itu kembali?”

“Tidak juga, tapi kelamaan di sini saya justru gak bisa menulis apa-apa Dip.”

“Yah, begitulah. Itu tantangan ketika kita mengerjakan sebuah karya yang jauh dari sumbernya. Selama ini kan tulisanmu selalu menggambarkan Indonesia dari berbagai sudut.”

“Tetapi saya gak pernah begini, semalaman tadi saya hanya memandangi laptop. Gak tahu harus mengetik susunan kata apa yang bisa dibaca.” 

Tak lama kami saling pandang, aku yang terlebih dahulu mengalihkannya. Aku teringat ketika ia memintaku menuliskan salah satu aktivitasnya ke dalam bentuk cerita fiksi, itu menjadi awal kedekatan kami yang lebih dalam. Ia mengenalku dengan baik, namun aku tidak. Pikiranku teralihkan pada gerimis yang begitu lekas menjadi hujan deras. Aku merindukan kehidupanku yang dulu, ketika tinggal beberapa malam di sebuah pulau terpencil atau di sebuah pedesaan yang masih tertingggal. Di tempat-tempat seperti itulah kepalaku membanjir oleh kata-kata. Kukira, dengan menetap di sini untuk menulis aku bisa melihat sudut-sudut fiksi lainnya.

“Siapa yang menyarankanmu kemari Han?”

“Di sini memang tempat para sastrawan dunia mengalirkan karya-karyanya. Di setiap sudut kota, di setiap rumah-rumah yang hangat oleh perapian.” 

Aku berkata-kata dengan riangnya, pikiranku menyerap setiap buliran hujan di balik kaca jendela. Aku teringat masa-masa kecilku diantara derai hujan, aku kedingin dan basah kuyup namun itu menjadi kegembiraan. Mandi hujan yang selalu membuatku lebih bahagia. Aroma hujan yang selalu saja membuat moodku lebih baik. Seperti aroma rempah-rempah terapi.
Dipo tertawa kecil melihatku, mungkin aku agak sedikit dramatis. Aku memandangnya dengan mata berbinar, seolah menemukan sesuatu. Dipo sudah hapal itu.

“Inspirasi sedang mengalir di benakmu ya?” Pria berkaca mata di hadapanku ini sudah tampak penasaran.

“Sepertinya saya gak jadi balik ke Indonesia sekarang deh Dip.”

“Oh ya?”

“Ya, ada sebuah tempat yang sepertinya harus saya kunjungi deh.”

**









*)image: canva@pinterest :)




No comments:

Post a Comment