THOUGHT&BOOK

March 31, 2019

Book&Life; Efek Penting Dari Membaca

by , in


Suami saya selalu menasihati saya, "seharusnya ketika sudah membaca banyak buku-buku, sikap kita bisa selaras dengan apa yang selama ini mengisi kepala kita." Well, kenapa nasihat ini selalu ada dibenak saya? hm, saya itu orang yang punya respon sedikit buruk ketika mendengar sesuatu yang kurang menyenangkan. Tentu saja hal ini menjadi gangguan khusus buat saya, menambah stress misalnya dan yang paling menyebalkan adalah saya gak bisa berhenti dihantui akan hal tersebut untuk beberapa hari. Ada juga semacam penyesalan di akhir, "kenapa sih aku terlalu lebay menanggapinya."

Jadi, menurut suami saya buku-buku yang bertumpuk itu akan menjadi identik jika kita menyerap semua bacaan tersebut kedalam kehidupan sehari-hari. Bagaimana bersikap, bagaimana berbicara, bagaimana merespon sesuatu, bagaimana mengatur waktu, bagaimana memilah porsi berbagai hal, dan lain-lain. Namun, kenyataannya hal itu sulit dilakukan dengan sekali-dua kali latihan. Karena yang namanya karakter yah, sulit dirubah, tapi bukan berarti mutlak begitu adanya. Kita selalu punya waktu untuk menjadi lebih baik, karena sepanjang waktu kita akan dihadapkan dengan masalah yang sama, dimana kita yang perlu lebih protect sama pikiran dan sikap kita. 

Agak malu juga kan, sudah banyak baca buku tapi cara bicaranya masih serampangan. Tempramen dan sebagainya, sangat tidak elok jika disandingkan dengan semua koleksi buku-buku diperpustakaan pribadi, hanya menjadi informasi yang tidak berguna alias sampah.

Sebetulnya banyak membaca buku-buku yang berkualitas adalah penyeimbang kesehatan pikiran dan mental, agar terhindar dari paparan stress, terutama bagi perempuan nih. Karena ketika pikiran berkerja dengan baik dimana pikiran kita mendapat akses yang lebih luas sehingga memungkinkan menjadi lebih responsif dan sensitif dalam mengindentifikasi informasi yang masuk. Pikiran dan sikap menjadi lebih terbuka (seharusnya).

Bahkan pada saat saya menulis inipun saya masih dihantui sebuah peristiwa yang saya respon terlalu berlebihan, yang mana efeknya justru lebih besar ke saya. Kan gak mungkin mengulang waktu kejadian, hanya rasa sesal yang masih bercokol meresahkan. Tapi, mungkin ini adalah media latihan, yang sejatinya kita akan berproses seumur hidup, anggap saya sedang menjalani terapi dengan banyak membaca dan menuliskan apapun yang ada di kepala saya, karena seringkali terlalu banyak bicara pada orang lain justru membuat kita kehilangan kontrol diri.

See yaa di book&life next. :)

March 27, 2019

Mood Board Ketika Menulis

by , in

Minggu ini lagi-lagi saya belum menyelesaikan deadline tulisan, walaupun masih punya waktu setidaknya satu minggu, tapi dengan kesibukan yang lumayan menyita waktu, rasanya ini menjadi cukup berat. Belum lagi ketika mood sedang gak menentu, mentok aja gitu gak bisa berimajinasi cerita apapun. 

Seperti hari ini, saya hanya browsing mencoba mencari ide dan mood. Beruntung saya membaca satu artikel di Living Loving, yang membahas tentang bagaimana menyamakan persepsi dalam suatu tim kreatif ketika mengerjakan project. Lalu saya mengadaptasi sistem kerja tersebut kedalam dunia kepenulisan. Dari beberapa ulasan, saya menemukan aplikasi gratis untuk Android, yaitu Canva. Lumayan untuk design para pemula. 

Dalam ujicoba saya, mood board menjadi cukup penting ketika mengerjakan suatu project kepenulisan. Dengan design-design yang membangkitkan semangat, visualisasi dari gambar dan warna yang kita pilih sendiri, kemudian kita susun sendiri, akan membuat ide-ide kreatif lainnya bermunculan. Menulis menjadi terasa lebih menyenangkan. Semacam stimulan begitu.  
Di dunia design, mood board menjadi panduan kreativitas, perencanaan yang tertuang dalam media gambar dan beberapa item-item yang merujuk pada proses yang akan dikerjakan dan hasil yang harus dicapai. 

Jika dalam dunia #writing, ini barangkali bisa kita sandingkan dengan kerangka tulisan. Dimana plot-plot yang sudah kita buat lebih mudah untuk diuraikan. Namun, saya membuatnya berbeda, saya membuat mood board dengan kolase beberapa gambar yang menarik tentang buku dan aktivitas menulis. Jadi, cukup menarik perhatian saya untuk selalu memulai kembali membuka buku dan menulis. 

Jadi mood board saya lebih mirip pengarah life style sih. Mood itu muncul melalui gambar-gambar yang saya suka dan inspiratif, mungkin juga karena juga mencintai potografi. Tentunya ini dapat diterapkan dalam berbagai hal, dimana kita hendak membangkitkan kembali mood. Tanpa menggeser fungsi mood board sesungguhnya, hanya saja menurut saya memperluas manfaatnya.

Selamat Mencoba :)


*)Source Image: kreativitas sendiri dengan aplikasi CANVA dan tema-temanya.






March 22, 2019

Sampai Dimana Ya Tantangan #5 Cerita Pendek?

by , in

MIWF masih nungguin tulisan saya gak ya? haha, saya agak mumet nih berusaha mengawali paragraf pertama pada cerita pendek kedua saya. Alhamdulillah, cerpen #1 dari #5 cerita pendek yang menjadi tantangan saya udah rampung, sengaja saya endapkan sampai saya siap membacanya ulang lalu masuk proses editing. Temanya tentang apa ya? hm, jujur saya sangat menyukai dunia aktivis lingkungan hidup, HAM, dan literasi. Saya pingin banget bisa terlibat, walaupun dengan peran kecil. Dulu sih semasa kuliah saya aktif di organisasi pecinta alam universitas dan disiplin ilmu juga kebetulan sains biologi. Dan ironinya saya justru bekerja di perbankan. Haha. 

Oke, balik lagi ngomongin udah sampai mana sih tantangan MIWF ini? satu cerita pendek udah kelar dengan tema konflik agraria. Mungkin ini cara saya untuk mengambil peran kecil tadi, karena saya percaya bahwa tulisan adalah salah satu alat untuk perubahan. 

Saya akui, saya terlalu lalai dalam project ini. Saya memakai waktu begitu panjang untuk belajar menulis cerita pendek, dari membaca, nonton film, hingga surfing dari blog ke blog untuk menstimulasi kreatifitas. Tapi, saya malah kebablasan hingga sebentar lagi tengat waktu kepenulisan berakhir. Setidaknya saya masih punya waktu seminggu lebih. Belum lagi masuk proses editing, padahal target saya hanya menulis cerita pendek yang berisi 1000-1500 kata.


Pasang posternya tuh biar semangat ngebut nulisa dan kepilih ya. Aamiin. Juni saya gratisan dong ke Makassar, terutama hadir di even keren ini :) doain ya pembaca. Doain juga buku saya terbit tahun ini. 


*)Source image: http://makassarwriters.com/, https://www.elegantthemes.com/blog/resources


March 13, 2019

Make a Plan Your Dream Map (Tips Meraih Mimpi-mimpimu)

by , in

Ada hal yang menarik saya untuk menulis ini, beberapa waktu lalu saya menonton channel youtube Maudy Ayunda yang ngomongin tentang motivasi mimpi. Lalu saya menarik satu garis lurus, bahwa satu mimpi besar dapat kita rumuskan and let the dream come true. Yaitu, gimana sih membuat 'sticky note' tentang dream map dalam rencana hidup kita, seringkali kita bermimpi terlalu tinggi, terlalu besar. Sehingga kita kebingungan harus memulainya dari mana dan bagaimana make your achievement obtainable.

"There's no such as thing as too high, as long as you can foresee it. One of the things that i do is actually to lay out a plan." -Maudy Ayunda


Analoginya begini, sebuah impian sederhana tentang suatu rencana pendakian puncak tertinggi Indonesia, kita tidak bisa hanya membayangkan 'nanti kalau udah di puncak, perlu up date vlog nih' tapi yang paling penting kita ketahui di awal adalah 'bagaimana itu terjadi?' Ya udah sih, tinggal ke sana ini. Bagi yang rumahnya semeter dari puncak Cartenz sih barangkali iya, tinggal jalan doang apalagi sekalian nge-guide. Tapi kan gak bisa gitu juga. Nah, di sinilah kita membutuhkan action steps yang membuat rencana pendakian itu tampak lebih nyata di depan mata. Impian sederhana bukan berarti memiliki resiko yang sederhana juga ya, tidak ada effort yang berarti misalnya. Bisa jadi ini adalah impian yang besar jika kita lihat lagi tujuannya kemana? (apalagi buat saya). Break it down impian pendakian tersebut dengan fokus dan rencana yang jitu, biasanya yang terbaik ketika dalam suatu pencapaian besar kita harus memiliki beberapa set up yang lebih concrete. Dan untuk memotivasi tujuan tadi, break it down harus ditandai dengan milestones sebagai titik pencapaian sekian dari yang kesekian. Dimana action steps lebih mudah dijalani. Dari misal mengurus sponsorship, perijinan, kesiapan fisik dan mental, juga hal-hal lainnya.

"Focus on making your milestones and action steps specific, measurable and obtainable. Things can you cross off and say 'done!" -Jessica Raymond MS


Make a plan your dream map, dalam hal ini analogi tadi terlalu kecil. Kita perlu mencapai batas optimal untuk mimpi terbesar dan penyelesaiannya, Break them down into milestones, dalam beberapa mimpi yang kita bagi lebih kecil mungkin akan jauh lebih mudah mendekati impossible dream in the life. 

GOAL - MILESTONE - ACTION STEP

Satu hal penting yang harus kita pahami adalah, hidup selalu memiliki berbagai impian dan target-target pencapaian. Wajar saja, karena hal itu diperlukan untuk mem-push kemampuan diri agar terus melakukan sesuatu dalam hidup. Akan tetapi, jika dalam satu waktu digunakan untuk menyelesaikan lebih dari satu mimpi,  justru akan mengganggu fokus utama dan energi banyak terbuang.

"Anything i cannot transform into something marevlous, i let go."-Anais Nin

Dan ketika mimpi masih saja terasa jauh, barangkali kita perlu kembali berpikir dan meng-evaluasi sejauh mana yang sudah kita lakukan dan apa yang benar-benar menjadi most importantly di dalamnya. Karena ada mimpi-mimpi yang sebetulnya bisa kita replace, misal saja; impian sebenarnya bukan pada suatu tujuan yang selama ini dikejar, namun justru pada satu proses perjalanan menuju kesana. Dimana hal tersebut mungkin saja sudah dilalui dengan berhasil bahkan berulang. Jadi, sejauh itu bisa saja pencapaian yang sesungguhnya telah diraih.

Sama halnya dengan semua mimpi-mimpi yang ingin digapai, yang mana dibutuhkan beberapa pencapaian pendukung sebagai penanda atau milestone. Dan ketika kita sedang mencoba membangun pecahan-pecahan mimpi dengan action steps, yang justru kemudian mengantarkan kita pada mimpi-mimpi lainnya. So, you can achieve in a different way.

"Don't stop dream big, find way to make it." -Rinda

***


*)Source Image & Information: The Red Fairy Project, Heather Buchman, Virtual Elves, https://shop.recoverywarriors.com.
March 05, 2019

Energi Positif di pagi hari

by , in


Tiga puluh menit di pagi hari, apa yang bisa kita lakukan? tentu banyak sekali. Sebagai ibu rumah tangga (walaupun saya belum memiliki anak) dan sebagai seorang pekerja di luar rumah, tentunya setiap waktu yang terlewat sangat berarti. 

Kali ini saya pingin menarik detail apa yang bisa terjadi dalam sehari kedalam tulisan tiga puluh menit ini. Saya bangun pukul 04.00 pagi, biasanya saya mulai dengan membaca sedikit artikel kemudian mempersiapkan sarapan saya dan suami, setelahnya beberes sedikit kerjaan di dapur. Membangunkan suami beberapa menit sebelum adzan Subuh, karena ia harus ke Masjid. Di sela-sela itu, saya menyempatkan menulis apapun yang terlintas dikepala saya, yah itung-itung latihan kan ya :) sembari diskusi kecil bersama suami tentang aktivitas keseharian. 

Kemudian kami berdua kembali pada laptop masing-masing, suami saya terbiasa menulis dan mengerjakan website dimulai setelah sholat subuh. Katanya, kesegaran menjelang pagi hari akan membawa energi positif dan mampu menangkap inspirasi lebih jernih. Jadi, sebetulnya suami saya adalah salah satu penulis yang saya tiru habit-nya untuk menulis, hahaha...

Saya terbiasa menulis dengan full musik dan larut dalam dunia saya sendiri. Tiga puluh menit berlalu, selanjutnya saya akan menyiapkan seragam ke kantor, lalu mandi dan bersiap. Saya terbiasa diantar oleh suami jika hendak kemana-mana, karena suami saya sudah full time freelancer jadi ia bebas mengatur waktunya dan menemani saya. Dan dalam ini, saya juga ingin menirunya, saya ingin lebih banyak waktu menulis dan membaca. 

Di kantor akan dimulai dengan doa pagi, aktivitas seperti biasa dan mungkin akan ada beberapa hal yang bisa memicu konflik dalam pekerjaan. Konflik di sini bukan sesuatu yang akan memecah team work ya, hanya sedikit perbedaan pendapat, karena setiap orang memiliki sudut pandang berbeda dalam menghadapi sesuatu. Justru ini yang menjadi tantangan saya setiap hari, namun dari hari ke hari saya banyak belajar dari lingkungan saya, melalui berbagai perbedaan dan kesamaan perspektif. Latar belakang dan motivasi seseorang akan membentuk karakternya, baik hal itu akan tampak ketika ia sendiri atau tanpa sadar jadi refleksi ketika dalam sebuah komunitas.

So, kita wajib banget memiliki satu cara pandang yang friendly, diantara beragam cara pandang kita yang paling identik. Dengan begitu, kita bisa selalu mendominasi dengan pikiran positif. Inilah positive vibes :)





*)Source Image: Inc.uprint.id



March 04, 2019

Trik Produktif Menulis Disela-sela Kesibukan

by , in



Wow judulnya bikin semangat ya. Kesibukan boleh saja padat di kantor atau ketika menjalani beberapa peranan. Misalnya sebagai seorang istri, mahasiswa, dan lain sebagainya yang juga punya seabrek kesibukan di luar rumah, namun tetap mampu untuk produktif menulis.

Saya ingin berbagi dari pengalaman saya pribadi, sebagai seorang karyawan sebuah perusahaan swasta yang menuntut jam kerja dari 08.00 hingga 17.00 membuat saya meninggalkan dunia menulis dan membaca cukup lama. Minimal terkadang menyempatkan diri menulis semacam jurnal pribadi untuk meregangkan syaraf-syaraf yang tegang, kita butuh mengeluarkan berbagai informasi yang kusut di kepala.

Saya pikir tidak mungkin menunggu lebih lama lagi untuk benar-benar bisa dengan leluasa menulis, jadi sebetulnya itu hanya soal prioritas dan komitmen pada diri sendiri. Saya terinspirasi dari apa yang dikatakan oleh Ahmad Tohari, "Menulis menjadi candu."

Jadi untuk itu, saya mencatat beberapa kebiasaan para penulis dan bagaimana mereka me-manage waktu mereka, dan saya menerapkannya. Menulis sangat perlu bagi saya, alasan yang sangat personal dan dari sisi kesehatan psikologis, menulis adalah terapi. Cobalah terlebih dahulu meyakinkan diri seberapa penting menulis dalam hidupmu, selanjutnya adalah bagaimana kita akan berproses tumbuh hingga menulis menjadi semacam habit. 



  • Saya terbiasa menulis ide-ide saya dalam sebuah jurnal, yang bisa saya bawa kemana-mana. Alasan saya sederhana, menulis dalam sebuah buku sebelum memindahkannya kedalam file digital atau menjadi artikel di blog; saya merasa lebih bebas menuangkan apa yang menjadi ide-ide mentah saya tanpa khawatir dengan pilihan kata dan susunannya. Dan saya bisa menulis dimana pun. Melihat buku-buku catatan membuat saya bersemangat, apalagi jika tulisan-tulisan dihiasi dengan berbagai warna spidol.
  • Sebagai moodbooster biasanya saya mengulas apapun yang menarik setelah saya membaca artikel-artikel yang menjadi minat saya, entah buku ataupun tokoh, saya akan mencoba menuliskannya kembali ke dalam jurnal pribadi.
  • Memiliki waktu khusus dua jam atau lebih setiap hari, bisa sebelum tidur atau ketika pagi sebelum ke kantor, untuk menuangkan tulisan kedalam sebuah bentuk. Misalnya diposting di blog atau file naskah tulisan. 

Kembali lagi akhirnya pada kedisplinan diri, saya terkadang kelelahan dengan berbagai kesibukan sehingga beberapa rencana menulis menjadi terabaikan. Dan jika sudah begitu, saya akan mengulang-ulang kebiasan di atas atau saya membaca tulisan-tulisan yang inspiratif baik dari buku maupun dari artikel-artikel blog yang saya sukai. Atau saya perlu jalan-jalan dulu ke toko buku atau nongkrong di perpustakaan umum. Itu jika punya cukup waktu luang ya. 

*)Source image: Heinz MarketingLivemaster