THOUGHT&BOOK

"Pernikahan Saya"


         



"Bagaimana saya berpikir tentang sebuah Pernikahan, setelah saya menikah?"

Mari membicarakannya setelah lebih dari tujuh bulan saya menikah, tepatnya 18 Juni 2018, dihari Senin. Ketika itu hanya prosesi akad saja dengan mengundang beberapa warga dari kampung yang dianggap penting untuk hadir, begitu juga dengan beberapa sahabat terdekat yang selama ini ada dalam perjalanan hidup kami masing-masing atau dalam hubungan kami dimana mereka pernah mempertemukan saya dan suami. 
Calon suami diantar untuk prosesi Akad Nikah, 18 Juni 2018.
Saya dan suami satu angkatan semasa SMP dikampung sebelah, sebenarnya kami berdua dari kampung yang cukup berdekatan yang hanya terpisah beberapa kampung-kampung kecil dan terbelah oleh sungai Mahakam. Tak banyak yang saya kenang tentang suami dimasa-masa remaja itu karena beda pergaulan, suami merupakan salah satu anak yang pintar dan dikenal 'culun' sedangkan saya terlibat beberapa kebandelan dan masalah dengan guru. Ini terus terjadi hingga saya di bangku kuliah, bahkan ditempat kerja sekarang. Itu membuat saya menjadi karyawan yang tidak cukup potensial dalam hal jenjang karir. (Lain kali saya akan membahas dunia pekerjaan).

Kira-kira tujuh belas tahun berlalu, kami pun saling menyapa digrup Whatsapp Alumni SMP, yang kebetulan baru dibuat. Setelahnya, terjalin kedekatan kira-kira tiga bulan sebelum kami benar-benar memutuskan untuk menikah.  
Mahar hias karya saya.
Tanpa pertimbangan yang rumit untuk alasan kenapa mengambil keputusan tersebut. Mungkin itulah yang dinamakan 'Jodoh' semua berlangsung begitu saja dan tak terduga, apa-adanya seperti matahari pagi yang selalu terbit atau ketika senja mengakhiri hari. 

Saya punya analisis sendiri mengenai 'Jodoh' ini, selalu ada yang menandainya. Misal, dari  kecocokan topik-topik perbincangan, kesamaan sudut pandang, kemiripan latar belakang keluarga, persamaan kegemaran dan hobi, juga beberapa corak personal yang mengidentifikasi kepribadian masing-masing. Dan hal-hal tersebut dapat mem-verifikasi pola visi dan misi yang satu hingga pada akhirnya berujung pada kemantapan hati. 



Sebuah perni
kahan tidak membutuhkan segala hal yang menjadi ciri umum, ketika pernak-pernik ekspektasi justru menjadi terlalu imajinatif. Dimana pada kondisi tertentu tuntutan tradisi terhadap proyeksi kelompok sosial tertentu menjadi begitu naif. 

Meskipun tidak sesederhana yang saya ungkapkan, karena semuanya hanya perlu terjadi seperti seharusnya dan menjadi apa yang benar-benar kita butuhkan.

Pakaian adat Bugis 
Saya menikah diusia 31 tahun. Banyak hal yang bisa saya pahami dan tentu saja saya tidak menyesalinya, ada sesuatu yang lebih mendalam.

"Cinta itu adalah suami saya"

Akan tetapi dalam kultur sosial Indonesia yang mengikat khususnya menikah diusia yang cukup matang baik bagi perempuan maupun laki-laki memberi cukup tekanan moril yang tanpa disadari akan membebani situasi psikologis individu dan sebagian masyarakat. Namun dibutuhkan pandangan terbuka yang dari sana akan terbentuk ruang tanpa batas yang mendidik kita memiliki rasa empati yang lebih dan kesepahaman yang rendah hati.

Prosesi dan Selebrasi Pernikahan.

Lebih spesifik untuk beberapa detail yang penting, salah satunya ketika itu saya menyiapkan dan merampungkan sendiri Hantaran hias, Kotak cincin hias dan Mahar hias, awalnya karena pertimbangan lebih murah dan saya selalu merasa bisa mengerjakan sesuatu yang cantik dan unik. Nah disini nih poinnya, karena ini adalah kali pertama saya mengerjakan hal tersebut dan dalam waktu juga kesibukan pekerjaan yang singkat dan padat, sehingga pada beberapa tahapan dan trik membuat saya cukup kewalahan dan mengabaikannya. Resikonya, biaya menjadi lebih mahal bahkan setara dengan pemesanan pada jasa-jasa pembuatan khusus. Tapi, saya tetap sangat puas pada hasilnya karena dikerjakan sendiri dan dihibur oleh suami bahwa dalam setiap prosesnya ada kursus gratis yang sangat bermanfaat. 

Niatan awal saya hanya meminta akad nikah sederhana pada suami dan mengajukan ide tersebut pada kedua belah pihak keluarga. Namun, mengingat adat-istiadat dan karena saya juga suami adalah anak pertama dalam keluarga, maka kedua orang tua kami menyarankan adanya sebuah resepsi sesuai kebiasaan di kampung.

Dan dilaksanakanlah resepsi tersebut beberapa bulan setelah akad nikah, yaitu tanggal 07 Oktober 2018.  Acara selebrasi ini sebetulnya cukup privat bagi saya dan suami, kami membatasi undangan untuk beberapa teman-teman dan sahabat yang kami rasa memahami dengan baik bagaimana kami. Kecuali semua warga kampung saya dan suami beserta beberapa warga kampung terdekat yang merupakan kenalan keluarga.

Terima kasih setulusnya dari saya dan suami untuk semua keterlibatan dalam prosesi dan selebrasi kami berdua: Pihak keluarga dan tetangga yang dengan leluasa meluangkan waktu dan tenaga melancarkan semua kemeriahan ini, warga kampung yang dengan ceria siang dan malam mengerjakan panggung, menyiapkan hidangan, menggodok acara, menyarankan banyak hal; teman-teman juga sahabat yang penuh suka-cita hadir dan mendoakan jauh-jauh ke kampung kami, dan juga dengan rela menjadi photografer pernikahan yaitu dek nopi_paul ; dari dekorasi pelaminan, busana, dan make-up yang dikerjakan teman jauh dari kampung tetangga.


"Terkhusus Ibunda saya :) Semua keindahan ini untuk Ibuk, kemudian Abah. Ia yang memberi pandangan tegas dan logis pada saya hingga hari ini terjadi. Saya mencintai kalian"





Ketika itu saya berpikir sangat sederhana, karena yang 
sebaiknya dan yang terpenting adalah hubungan kami segera menjadi halal dan kemudian kami akan bertanggung jawab sepenuhnya pada kehidupan pernikahan tersebut. Dan saya tidak ingin ada keletihan yang lain oleh peliknya persiapan dan perhelatan resepsi. Yang pada akhirnya semua itu terlewati.

Dan gimana sih pendapat saya pribadi ketika rangkaian selebrasi pernikahan yang sekarang jadi trend dimedia sosial dan kalangan masyarakat sekitar, juga menjadi trend dunia bisnis? Sah-sah saja sebenarnya, saya kembalikan lagi kepada perspektif masing-masing untuk terlibat atau membatasi. Atau melihatnya sebagai bentuk hedonisme, dan kita sering terjebak pada batas-batas tersebut. 



Honey Moon.

Traveling adalah kecintaan saya dan suami yang lain selain terdampar di pulau atau tersesat di hutan penuh buku-buku, jadi momen manis setelah menikah inginnya mengunjungi tempat-tempat indah yang jadi destinasi pasangan pengantin kebanyakan. Namun, lagi-lagi saya dan suami mendobrak batas keinginan itu menjadi lebih bersahaja, kita berdua cuman melakukan road trip mengendarai sepeda motor scoopy menuju kota tetangga. Balikpapan. Gambaran yang bernilai, dimana khususnya saya, mengetahui batas-batas yang perlu dan tidak. 

Jadi, bagaimana Pernikahan itu setelah melewatinya sendiri? untuk saya yang baru saja membaui aromanya, 

"Sederhanakan saja, kita hanya perlu tahu dengan siapa kita menikah dan untuk apa kita menikah"





4 comments:

  1. Wah selamat atas pernikahannya mbk. Btw memang harusnya menikah itu berdasarkan kesiapan mental bukan karena efek bosan ditanyai kapan menikah

    Bhahaha gk kayak aku, usia 25 tapi sudah bingung nikah gara gara pertanyaan kapan menikah, dasar akuhhh

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih neng Arlina ^^

      ah saya juga dulu bingung klo udah ditanya2, terus sering menghindar dan menyibukan diri. Tapi, pas udah nikah, Alhamdulillah sedikitpun gk ada kilas balik penyesalan, berasa kayak udah waktu yg paling tepat aja gitu..

      Delete
  2. Selamat ya mbak atas pernikahannya? Semoga menjadi keluarga yang sakinah mawadah warrohmah selamanya.

    ReplyDelete