THOUGHT&BOOK

September 18, 2019

Fiksi Kilat

by , in
Saya masih ingat ketika fiksi mini cukup populer menjadi topik di jagat twitter, dan sebetulnya 140 karakter di setiap cuitan inilah yang menjadi media untuk merangkai cerita-cerita yang sangat singkat, bernas, dan mencangkup unsur intrinsik penulisan sastra, seperti penokohan, latar, konflik, dan ceritanya memang benar-benar memiliki ending.

Tetapi, saya gak pernah berhasil membuat satu pun. Karena, menulis jenis fiksi kilat atau fiksi pendek betul-betul membutuhkan kepiawaian menggunakan kata-kata yang tepat. Sementara saya paling sulit untuk mempersingkat satu kalimat dengan hanya beberapa kata yang dianggap sudah mewakili pesan tulisan. 

For Sale: Baby shoes, never worn. Ernest Hemingway


Fiksi kilat ataupun juga fiksi mini, rupanya cukup menantang untuk dibaca dalam waktu singkat. Tidak heran jika salah satu dari jenis sastra ini mampu mempengaruhi generasi muda untuk tetap membaca, dan dalam beberapa tahun terakhir fiksi kilat menjadi pilihan para penulis muda Indonesia. Gayung bersambut, karya mereka pun berulang-ulang naik cetak.

Mereka juga sangat kreatif, buku fiksi menjadi lebih beragam; misalnya buku seni grafis yang dipadupadan dengan fiksi pendek. Seperti karya-karya Marchella FP. 

Ada beberapa hal mengenai fiksi kilat, yaitu: 
  • Ditulis hanya dengan 100-1000 kata saja.
  • Terfokus hanya pada tema dan alur cerita, dimana di dalamnya sudah mencakup prolog, konflik, dan epilog.
  • Tulisan fiksi kilat bukanlah sebuah kutipan namun terbangun dari satu cerita memiliki yang unsur kepenulisan sastra.
  • Sejarah singkat kemunculan fiksi kilat ini adalah di tahun 1920, oleh Ernest Hemingway. Namun sebenarnya jauh sebelum itu fiksi kilat sudah sangat dekat dengan dunia sastra.
Seperti yang tengah tumbuh di dunia literasi kita, dimana karya fiksi ditulis lebih ringan, dan menggunakan pemikiran yang lebih dekat dengan kehidupan dan permasalahan kita.

Hal ini membuat kita menjadi sangat berminat untuk memiliki buku dengan tampilan yang berbeda, misalnya dengan ilustrasi keren, cerita yang langsung to the point dan pesan yang mengena. Sehingga minat baca bisa terus meningkat meskipun di tengah gempuran berbagai kecanggihan teknologi.

Hm, mungkin lain kali saya akan membahasnya lebih panjang lagi, dengan referensi yang berbeda dan lebih spesifik. Topik yang sama tentang dunia kepenulisan dan buku, seperti sebelumnya saya menulis tentang Sastra atau Fiksi Populer? Atau barangkali teman-teman bisa share di 'comment' ya...  :)



*)Source Imange: Pinterest, *)Referensi: Google.

August 31, 2019

Review Buku: Rainbirds yang terkisah dari Clarissa Goenawan

by , in

Rainbirds yang ditulis oleh Clarissa Goenawan pernah meraih The Bath Novel Award 2015, sebuah prestasi yang membuat saya penasaran untuk membaca tulisannya.

Singkat cerita, saya mendapatkan buku ini pada tumpukan buku-buku di Gramedia. Tak sabar membacanya, tau-tau saya sudah menyelesaikannya dalam tiga hari nyambi ngantor dan mengurus rumah. Sebuah kejutan bagi saya yang biasanya paling tidak satu buku dalam dua minggu baru tamat,  untuk ketebalan buku seperti Rainbirds, hal ini tentu saja menarik.

Baiklah, kita masuk dalam pembahasan buku yang ditulis oleh Clarissa Goenawan, Rainbirds. Tulisannya cukup ringan mudah dipahami dengan pilihan-pilihan kata yang menarik namun terangkai apik. Alur cerita yang maju-mundur terasa sangat mengalir, kita tidak akan kesulitan untuk mengikutinya. 

Jika sudah pernah membaca karya-karya penulis Jepang, seperti Haruki Murakami misalnya, kita akan langsung mengerti dari mana Clarissa Goenawan mendapat inspirasi dan bagaimana ia membalut kisah dalam Rainbirds. Meskipun ia seorang penulis Indonesia, saya rasa Clarissa Goenawan cukup piawai menggambarkan pendekatannya pada kehidupan Jepang, saya larut di dalamnya. Walaupun saya akui, Rainbirds ditulis tidak cukup mendalam sehingga tidak meninggalkan kesan seperti setiap kali saya membaca buku yang menarik bagi saya.
Namun, Rainbirds sangat menghibur dengan segala yang sederhana dan mudah dicerna di dalamnya. Misal saja kota imajiner Akakawa yang menjadi setting utama dalam cerita, poin ini yang menarik bagi saya. Bagaimana Clarissa Goenawan membangun kota dan kehidupannya melalui imajinasi, sungguh suatu hal yang patut membuat saya merekomendasikan buku ini untuk dibaca.

Clarissa Goenawan membuat banyak konflik-konflik kecil untuk menuju satu konflik utama, awalnya saya kira ini adalah tentang bagaimana kita akan digiring menuju pembunuh sesungguhnya, sebuah kronologi atau barangkali trik thriller yang mencengangkan, tapi ternyata Rainbirds adalah sebuah novel yang bisa dikatakan masuk kategori novel psikologis. 

Dari semua rentetan kisah, sebenarnya hanya terpusat pada Ren Ishida dan pergolakan dalam dirinya sendiri. Rasa sayang yang tak ia pahami terhadap kakaknya yang terbunuh secara misterius dan mendatangkan rasa bersalah kemudian menghantuinya.

Yah, gak banyak yang bisa saya cerikan tentang novel Rainbirds. Silahkan baca ya, sesuatu yang berbeda dari penulis baru Indonesia.



*)Source Image: Pinterest, Google Image
August 14, 2019

Sastra atau Fiksi Populer?

by , in
Sebetulnya saya agak sedikit kebingungan memilah antara karya sastra dan fiksi populer. Tadinya saya hanya berpikir bahwa karya sastra memiliki diksi yang lebih rumit dengan mengangkat cerita yang lebih berat. 

Namun, ketika jalan-jalan ke toko buku saya menjadi tambah kebingungan.

Kenapa?

Karena buku-buku yang terpajang sudah beragam alirannya. Ada novel terjemahan, novel remaja, novel dewasa, novel metropop, puisi, fiksi religi, komik, fiksi dengan ilustrasi penuh, buku motivasi yang juga diikuti seni grafis, fiksi yang berbahasa Inggris dengan penulis Indonesia, dan lain sebagainya.

Apakah ini sebuah perkembangan? Ya, barangkali begitu.

Dulu semasa kuliah saya cukup mengenal chicklit dan teenlit, ceritanya ringan dengan bahasa yang mudah namun sangat menghibur. Sekarang mungkin berganti dengan novel metropop dan novel remaja.

Beranjak lebih dewasa, saya mulai diracuni oleh teman dengan bacaan yang lebih berat dan terkadang sulit saya pahami dan membuat saya bosan. Yaitu buku-buku yang bertema politik atau lainnya baik fiksi maupin non fiksi. Lama-kelamaan saya justru ketagihan mencari jenis fiksi serupa, saya menjadi lebih berpikir ketika harus memahami kata-kata yang tersusun, saya menemukan wawasan baru dan lebih luas.

Saya merasa dekat dengan peristiwa-peristiwa yang pernah terjadi pada suatu waktu, melalui fiksi para penulisnya mencoba menceritakan apa yang sebenarnya pernah terjadi dan membawa saya untuk lebih mendalami apa yang saya baca.
Sejak saat itu saya meninggalkan chicklit dan teenlit, ehm.

Mmh, kembali lagi pada apa yang ingin saya bahas disini, yaitu mana yang lebih menarik antara karya sastra atau fiksi populer? Nah, sebelum itu saya harusnya bisa dong membedakan keduanya.

Khususnya dalam bentuk tulisan, sastra meliputi karya-karya fiksi dan non fiksi. Namun dalam perkembangannya sastra pun mengalami periode dan melebur ke dalam beberapa bentuk. Prosa dan Puisi adalah bentuk yang familiar dalam karya populer.

Lalu, dimana posisi fiksi populer dalam dunia sastra?

  • Prosa Lama adalah prosa yang dibuat murni dengan bahasa Indonesia dan belum dipengaruhi oleh budaya Barat. 
  • Prosa Baru, justru kebalikannya. Prosa yang dikarang bebas tanpa aturan apapun dengan berbagai pengaruh budaya asing.
Jadi bisa dikatakan, fiksi populer merupakan bentuk Prosa Baru dalam sastra yang terdiri dari jenis-jenis novel  dan karangan lainnya yang berkembang pesat setelah era reformasi.

Dan beberapa tahun terakhir ini, menjamur karya prosa yang disandingkan dengan ilustrasi seni rupa. 

Kembali kepada fungsi sastra menurut saya, sastra memiliki sudut pandang sendiri dalam mencatat peristiwa dan waktu. Jadi, sekalipun perkembangan sastra serius kini melahirkan bentuk baru yaitu fiksi populer, haruslah tetap berpegang pada fungsi ini. Ada nilai yang berkembang dalam masyarakat, dan kita menangkapnya melalui pesan-pesan yang terkandung dalam setiap karya.

Yah, saya begitu mencintai 'kata-kata' yang mampu mendeskripsikan sesuatu, seakan-akan saya dapat melihat dan merasakan hanya dengan membaca rangkaian kata-kata. Hmm, mungkin ada literasi yang lebih tepat untuk hal ini? diskusiin yuk temen-temen...




*)source image: pinterest and canva. *)Referensi: wikipedia dan perenungan.




July 23, 2019

Nayya Nayyu di Suatu Pagi

by , in
Aku bisa mendengar angin yang begitu lirih, membawa aroma segala musim. Ada alunan nada yang lembut seperti menari bersama angin yang menerpa wajahku, dan helai rambutku pun ikut meliuk-liuk ditingkahi sinar mentari pagi.

Aku menengadah membayangkan berkas-berkas cahaya, tampak ribuan kilau permata menyilaukan. Mataku menyipit, dalam pandangan yang terbatas aku masih mencari yang ingin kulihat, namun entahlah, aku hanya mendengar suara angin serupa tetesan hujan yang jatuh.

Kemudian pelan mataku membuka kedua kelopaknya, sebetulnya, aku sangat lelah setelah semalam larut terjaga. Ah, tiba-tiba saja rasanya aku ingin terisak. Kenapa rasanya begitu kacau, aku tak sanggup membayangkan hal itu, kepalaku berdenyut bagai ditusuk-tusuk jarum.

"Nayyaaaa! udah pagi, bangun dong." 

Suara itu sebenarnya biasa saja, namun cukup membuatku terlonjak dari tempat tidur. Lalu diiringi dengan ketukan di pintu, kuhela nafas dan bergegas menarik daun pintu yang tak terkunci. Sosok ibu berdiri di sana, wajah teduhnya membuatku tertunduk, ada nyeri seketika menghantam ulu hatiku.

"Kamu lupa ya Nay? hari ini katanya mau jalan-jalan pagi sama ibu."

Aku diam saja, kepalaku masih tertunduk. Kerongkonganku tak sanggup mengeluarkan suara, tak ingin kupaksa karena hanya akan membuat tangisanku pecah. 

"Ya sudah, mandi dulu terus sarapan. Tadi Nayyu telepon, nanya kamu berapa lama di rumah ibu."

Aku hanya mengangguk, ibu tak memprotes dan ia pun berlalu. Lekas-lekas kututup kembali pintu kamar, air mata mulai menetes dalam isak yang coba kuredam. Tenggorokanku terasa sakit, kuraih segelas air putih di atas meja tulis, seteguk saja sudah membuatku seakan menelan pecahan batu yang tajam.

Kukira harapan itu akan kembali setelah pagi ini, namun akupun tak mengerti mengapa pedih itu menyayat lebih kejam ketika aku sadar akan tujuan kepulangan  kali ini. 

Suara angin terdengar begitu kasar dan cahaya terik mulai menyibak tirai tipis di jendela kamar. Mengapa pagi begitu cepat beranjak. 
"Nayya, aku gak sanggup menghadapi bapak dan ibu. Aku sudah mencoba segala cara untuk mengatasi ketakutan ini," Nayyu menatapku kosong, wajahnya tak lagi terawat beberapa bulan terakhir. Entah bagaimana ia melewati hari-hari berat dengan penuh kecemasan. 

Seperti hatinya yang hancur, dan perasaanku pun seolah menjadi lautan yang tenang namun arus deras berputar jauh di dalamnya. Ia tak punya pilihan untuk memilih satu-satunya pilihan, menyerah pada penderitaan dan kebingungan. Sementara aku di sisi lain, terluka teramat kelam, seharusnya ia tak begini jika saja aku benar-benar selalu ada sebagaimana seharusnya seorang kakak.

"Semua akan baik-baik saja Yyu..." 

Aku tak hanya mencoba menguatkannya, namun juga berusaha menegarkan hatiku. Kupejamkan kedua mataku, mencari-cari suara angin di sekitar kami, dan suara itu begitu samar justru membawaku pada ingatan suatu pagi lainnya.

Berganti-ganti bayangan wajah Nayyu dan detak jantung yang terekam dalam layar berkelebatan di depan mataku. Aku terperanjat dan nafasku memburu pelan, "aku yang akan pulang dan ngomongin semua ini sama bapak dan ibu."

Pandangan kami beradu dalam kehampaan, pagi itu tak terasa telah berganti terik. Bagaimanapun, hidup harus berlanjut dengan atau tanpa rencana. 
"Pak, bu... maafkan Nayyu, dan maafkan juga Nayya..." mataku berkaca-kaca, kukerahkan seluruh kekuatan untuk tak menangis, meskipun tak lagi jelas apa yang kurasakan. 

Melihat wajah bapak dan ibu tenggelam dalam kekecewaan yang tertahan, kegetiran hidup telah menempa mereka. Dan kali ini, mereka kembali pada kesedihan yang menganga, namun kulihat cinta mereka begitu jernih.
***




*)Source image by pinterest



July 21, 2019

Virginia Woolf dan Karya Novelnya

by , in
Bagi saya penulis-penulis klasik selalu membuat penasaran, terlebih pada penulis wanitanya. Nama dan karya mereka yang melampaui zaman, tak jarang menjadi pionir dan karya rujukan. 

Mereka terlahir dengan cemerlang di tengah keterbatasan bagi perempuan pada masa itu, mereka menulis dengan sepenuh hati dan jiwa mewakili suara-suara yang tak memiliki kesempatan yang sama untuk menyuarakannya.

Salah satu penulis hebat itu adalah Virginia Woolf, penulis berkebangsaan Inggris ini hidup antara tahun 1882-1941. Ia lahir di London dengan nama Adeline Virginia Stephen.

Karya-karyanya ketika itu menjadi yang paling inovatif dalam literatur abad ke-20. Woolf merupakan sosok yang sangat jenius dan menonjol pada masa itu.

Latar belakang keluarga menjadi pengaruh besar atas perkembangan Woolf, terutama dalam bidang sastra. Ayahnya, Sir Leslie Stephen adalah seorang penulis esai, editor, serta kritikus sastra dan ibunya, Julia Prinsep Duckworth Stephen adalah seorang model cantik yang terkenal. Keluarga ini menjadi salah satu keluarga terkemuka yang membawa mereka ke dalam lingkaran tertinggi kehidupan budaya Inggris, orang tua Woolf mengenal banyak tokoh intelektual dari era Victoria akhir seperti Thomas Hardy dan Henry James.

Sedangkan salah satu bibi buyut Woolf, Julia Margaret Cameron adalah seorang fotografer yang pernah membuat potret tokoh-tokoh terkenal seperti Charles Darwin dan Alfred Tennyson.

Perpustakaan Mammoth milik ayahnya menjadi tempat yang sangat penting bagi Woolf untuk memenuhi hasrat membaca. Ia menulis sebuah esai tentang ayahnya yang kerap melantunkan puisi ketika berjalan atau menaiki tangga. 

Pada masa mudanya, Woolf sangat aktif dalam setiap kegiatan kepenulisan terutama di bidang sastra. Ia mempelajari dan memeriksa buku-buku untuk Times Literary Supplement, menulis sejumlah artikel, kritik dan esai.

Woolf juga sempat mengajar bahasa inggris dan sejarah di Morley College London, meskipun ia tidak memiliki gelar sarjana.
Dengan reputasinya yang terus meningkat, Woolf menjadi penulis wanita yang paling sering menjadi subjek teori sastra, dimana teori-teorinya begitu menarik untuk dibahas. Tulisannya sendiri pun diminati semua kalangan dalam sastra modern.

Banyak komentar para penulis besar mengenai kepiawaian serta kepekaan Woolf dalam mengolah kata, betapa kritisnya pandangan Woolf terhadap setiap karya tulis yang ia tinjau.

Melalui tulisan-tulisannya Woolf disebut-sebut sebagai salah satu tokoh feminis, mungkin karena Woolf selalu berusaha meleburkan unsur-unsur sastra ke dalam materi fisik dan sensasi, melalui pandangannya terhadap segala hal yang bersinggungan dengan wanita. 

Banyak foto profil Woolf yang diambil dari arah tatapannya ke samping, dalam sorot matanya yang penuh intensitas tersebut menggambarkan dengan jelas tentang kedalamannya berpikir, baik dalam percakapan maupun tulisan. Yaitu, tidak hanya melihat subjek namun lebih jauh lagi menggali kesimpulan dan implikasi dalam berbagai hal.

Woolf mungkin saja menggunakan laut--begitu menonjol dalam fiksinya--sebagai metafora tentang kedalaman makna yang melebihi subjek yang tampak. Ia pun tampak tak begitu tertarik pada pembicaraan yang remeh-temeh, ia selalu tampak begitu serius. Bahkan semenjak ia kecil, Woolf tak pernah betah ketika bermain.

Karya Novel Virginia Woolf

Woolf memulai novel pertamanya "Melymbrosia" pada tahun 1907, namun kemudian diterbitkan pada tahun 1915 dengan judul "The Voyage Out."

 
Pada tahun 1919, karya Woolf yang berjudul "Nigth and Day" diterbitkan. 
Menyusul kemudian, "Jacob's Room" tahun 1922. Dalam novel ini ia menerapkan bentuk tulisan yang disebut dengan stream of consciousness atau aliran kesadaran, sebuah gagasan besar yang diperkenalkan oleh Woolf dalam dunia sastra. 

Tahun 1925, aliran tulisan consciousness Woolf berikutnya diterbitkan dalam bentuk novel "Dalloway." Ini adalah karya Woolf yang paling terkenal, menceritakan rangkaian peristiwa yang terjadi dalam satu hari. 

Tahun 1927, Woolf melalui tulisannya yang mengeksplorasi tentang konsep waktu dan perubahan yang berkaitan dengan kepribadian, dan menerbitkannya "To The Lighthouse."

"Orlando" ditulis dengan karakter yang terinspirasi dari seorang teman kecilnya, Vita Sackville-West. Dimana tokoh utama diceritakan bergerak melewati beberapa waktu dan kehidupan lalu mengubah jenis kelamin. Woolf menerbitkan novel ini pada tahun 1928.

Tahun 1931, terbit karya Woolf yang paling stylized, "The Waves."

Tahun 1937, dalam buku ini "The Year" ia mengadopsi struktur tulisan yang lebih tradisional dan mengurangi struktur-struktur internal seperti pada kebanyakan karya-karya fiksi sebelumnya.

Tahun 1941, "Between The Acts" diterbitkan tak lama setelah kematiannya pada usia 59 tahun.

Virginia Woolf dan suaminya Leonard Woolf, mendirikan sebuah percetakan dan penerbit yang banyak menerbitkan novel Woolf. Mereka pun tercatat sebagai anggota aktif Bloomsbury yaitu suatu perkumpulan intelektual Inggris, yang termasuk penulis, seniman, dan kritikus.

Woolf menyebut dirinya 'gila' dan seringkali mendengar suara-suara halusinasi, kondisi mentalnya terganggu berawal dari kehilangan ibunya dan beberapa peristiwa lain. Kelelahan dan depresi membuat ia menarik diri dari kehidupan sosial dan berakhir dengan menenggelamkan diri di sungai Ouse.

Menulis adalah terapi bagi Woolf, dimana ia mencoba memahami dan mengatasi kondisi mentalnya. Ia mengatakan bahwa menulis adalah kesenangan terkuat untuk menghadapi hidup. Pada saat menulis, ia tampak bersemangat dan stabil. 
Sebetulnya banyak yang ingin saya tuliskan tentang Virginia Woolf, dan ini hanya sebagian kecil mengenai dirinya. Banyak hal yang menarik tentang penulis klasik ini, membahas Stream of Consciousness misalnya, mmh... 

"Kata-kata seperti halnya kita, untuk dapat hidup dalam ketenangannya, membutuhkan wilayah pribadi mereka. Tak diragukan mereka menginginkan kita untuk berpikir, mereka menginginkan kita untuk merasa, sebelum kita menggunakannya." Virginia Woolf







Referensi: www.literaryladiesguide.com, galeribukujakarta.com, wikipedia.&Source Image: Ria Mega Sari, Pinterest, Canva, Google










July 13, 2019

10 Tip Menyelesaikan Sebuah Novel

by , in
Menulis adalah kegiatan kreatif untuk menghasilkan karya-DEE

Salah satu cara paling simpel menentukan ide cerita adalah dengan menuliskan ide itu sebagai kejadian dalam satu kalimat-Sitta Karina.

Ide tak ditunggu dan tak dicari, tapi disusun-Agus Noor




Saya agak kebingungan nih, gimana menuangkan ide-ide yang berkelebatan di benak saya untuk dijadikan sebuah novel yang selesai. Se-le-sai. 

Dee Lestari sendiri memiliki suatu formula, yaitu untuk menyelesaikan tulisan, sebagai seorang penulis harus memiliki sensitivitas dalam mengumpulkan ide, menangkap ide, dan mampu melakukan riset. 

Ini nih beberapa tip yang saya rangkum dari beberapa penulis Indonesia, bagaimana menggarap ide menjadi sebuah tulisan utuh yang terstruktur;
  1. Memilih ide yang paling kuat. Ide yang dapat dikembangkan hingga selesai dalam sebuah tulisan. Membangun ide ke dalam bentuk tulisan awal-tengah-akhir, menjadi sebuah premis.
  2. Memiliki kemampuan visual dramatik. Bagaimana seorang penulis mampu membayangkan hal yang sederhana menjadi luar biasa, sisi dramatik dalam setiap kejadian dan tindakan yang terjadi.
  3. Riset. Informasi yang dapat membuat ide-ide seorang penulis tampak nyata dan hidup, yang dapat digambarkan dimana pembaca pun seolah masuk dalam cerita yang dituliskan. Baik dalam penggambaran latar tempat dan waktu, maupun karakter-karakter tokoh.
  4. Penokohan. Merupakan titik tentu keberhasilan sebuah tulisan fiksi, dan tokoh pun memiliki tugas utama yaitu menyampaikan pesan sang penulis kepada pembaca. Jadi, penggambaran tokoh haruslah dekat dan terjangkau oleh indera pembaca.
  5. Identifikasi permasalahan penitng yang dialami oleh tokoh utama. Penulis harus memahami persoalan yang signifikan dan mengganggu kehidupan si tokoh utama.
  6. Gali latar belakang kehidupan si tokoh utama. Hal-hal yang pernah terjadi pada tokoh utama, yang mempengaruhi dalam pengambilan keputusan, pola pikir, dan sudut pandang. Tentunya hal ini tidak lepas dari latar belakang si tokoh utama.
  7. Gabungkan masalah utama dan latar belakang diatas. Dari penggabungan ini, maka akan muncul konflik. Dan konflik diibaratkan jantung sebuah cerita. Konflik ditandai dengan munculnya pertentangan antara tokoh dengan lingkungan atau masalah yang terjadi.
  8. Kuasai awal cerita dengan tokoh protagonis cerita. Hal ini akan membuat kesan yang kuat tentang siapa tokoh utama yang akan memerankan cerita hingga selesai, buatlah perkenalan dalam 300 kata.
  9. Membangun latar waktu dan tempat. Ini merupakan hal yang sangat penting, dimana kita menetapkannya dari awal dan dengan konsisten, bagaimana cerita berlangsung pada suatu ketika dan disuatu tempat. Kendalikan pembaca dengan latar yang kita ciptakan, misalnya dengan penanda-penanda latar, suatu kejadian atau ciri yang mendukung. Dan dalam hal ini penulis membutuhkan riset yang mendalam.
  10. Susunlah draft cerita. Setelah ide matang dan digodok dengan tip-tip diatas, maka sudah saatnya menyusun draft cerita yang akan ditulis, sehingga penulis akan lebih terbantu dengan memilki acuan dan dapat menulis dengan lebih rapi untuk setiap babnya. 
Namun seringkali kita merasa, menulis fiksi adalah pekerjaan yang bebas, seharusnya tak memerlukan draft baku yang justru akan membatasi imajinasi. 

Ya, itu betul. Imajinasi manusia sungguh tak terbatas dan karena itulah kita perlu membuat batas, yang sebenarnya hanyalah batasan maya. Penulis tentu boleh melanggarnya ketika sudah menemukan navigasi yang jelas untuk luapan imajinasi tersebut. 

Jadi, jangan merasa semua aturan dalam kepenulisan baik fiksi maupun non fiksi akan membatasi kreatifitas kita dalam berkarya. 

Seperti seorang pelaut di lautan lepas, ia tentu memerlukan panduan arah untuk mengarungi lautan tersebut. Begitupun imajinasi, kita butuh navigasi, ya navigasi. Tentu saja kita masih akan menemukan kejutan-kejutan dalam setiap detil perjalanan kreatifitas yang kita kerjakan.

Seperti saya, ide begitu banyak menari-nari di benak saya. Namun, saya butuh trik untuk menangkap salah satunya dan bagaimana mengarahkan ide tersebut lebih jauh lagi menjadi karya yang se-le-sai.






Referensi: Dee Lestari, Sitta Karina, ellenconny dan Agus Noor.&Source Image: Ria Mega Sari







July 13, 2019

Review Buku: Tetsuko Kuroyanagi dan Totto-chan Gadis Cilik di Jendela

by , in
Kisah yang berlatar ketika perang dunia 2 sedang berkobar, jauh di sudut Tokyo ada kehidupan anak-anak yang sangat sederhana dan menyenangkan. Bagaimana mereka belajar bersama Mr. Kobayashi, dengan kurikulum sekolah yang berbeda dari kebanyakan sekolah konvensional, di balik jendela-jendela kelas bekas gerbong kereta.

Hingga Totto-chan memulai dan melalui semua hari-harinya disana, di sekolah Tomoe Gakuen. Tomoe sendiri memiliki arti khusus, yaitu merupakan simbol kuno yang berbentuk koma, dua buah koma berwarna hitam dan putih yang menyatu membentuk sebuah lingkaran. Simbol suatu keseimbangan.

Totto-chan adalah anak yang menggemaskan dengan rasa ingin tahu yang berbeda dari kebanyakan anak seusianya. Mengingatkan saya pada keponakan, cerdas dan lincah. Namun, karena banyak ulah Totto-chan yang unik dan sulit dipahami, ia dikeluarkan dari sekolah dasar. Sekolah dasar lho... dan itu baru kelas satu. Kebayang kan betapa repotnya para guru menanganinya.

Mama akhirnya menemukan sekolah yang cocok untuk Totto-chan tanpa memberi tahu alasan kenapa ia harus pindah ke sekolah yang baru. Karena dampaknya mungkin saja akan membawa trauma buruk untuk anak seusianya, Mama hanya mengatakan ada sekolah yang sangat bagus.

Tomoe Gakuen memang sekolah yang luar biasa, tak ada anak yang tak betah disana kecuali ada beberapa orang tua murid yang merasa cemas akan sistem pengajaran yang diterapkan oleh Mr. Kobayashi. Padahal kepala sekolah hanya ingin anak-anak mampu berkembang dengan selaras antara tubuh dan pikiran mereka. 

Banyak hal menarik yang diajarkan oleh sekolah Tomoe Gakuen, seperti kemandirian dan sopan-santun saling menghargai. Tanpa menimbang perbedaan. Kepala sekolah sangat baik, ia menanamkan pada anak-anak didiknya tentang kepercayaan diri serta tanggung jawab, membuat mereka paham akan hal-hal sulit yang terjadi pada orang dewasa tanpa kehilangan kepolosan anak-anak.
Saya jadi mengenal apa itu euritmik yang diciptakan oleh Emile Jaques Dalcroze atau puisi yang disebut Haiku. 

Tetapi, sangat disayangkan sekolah yang terbuat dari gerbong-gerbong kereta api ini akhirnya terbakar habis oleh bom yang dijatuhkan oleh pesawat pembom B29 Amerika. Warga-warga diungsikan, begitu pula dengan Totto-chan.

Buku Totto-chan Gadis Cilik di Jendela yang ditulis oleh Tetsuko Kuroyanagi (nama asli Totto-chan) menceritakan masa kecilnya dan kenangan tentang sekolah Tomoe Gakuen. Buku ini mulai ditulis tahun 1979 dan awal terbit di tahun 1981. Edisi terjemahan bahasa Indonesianya bagus sekali dan bahasanya mudah dipahami. Saya bisa merasakan bagaimana kultur orang Jepang semasa itu, yang tak banyak berubah hingga kini.

Ada satu kalimat yang mengesankan saya,

"setiap anak dilahirkan dengan watak yang baik, yang dengan mudah bisa rusak karena lingkungan mereka atau karena pengaruh-pengaruh buruk orang dewasa. Mr. Kobayashi berusaha menemukan watak baik setiap anak dan mengembangkannya, agar anak-anak tumbuh menjadi orang dewasa dengan kepribadian yang khas."


Mr. Kobayashi selalu mengucapkan hal-hal baik kepada muridnya, seperti kepada Totto-chan, "kau benar-benar anak yang baik" lalu menekankan pada kata "benar-benar." Kalimat-kalimat baik sangat berpengaruh bagi tumbuh-kembang anak, sesuai yang ada dalam ajaran Islam, tentang bagaimana seharusnya orang tua bersikap dan berkata pada anak-anaknya.

Buku ini menjadi sangat laris ketika itu di Jepang, dan diterjemahkan pertama kali kedalam bahasa Inggris. Sementara Totto-chan (Tetsuko Kuroyanagi) menjadi begitu populer setelah mengangkat buku ini.

Buku ini sungguh mengesankan, saya jadi mengerti bagaimana pendidikan usia dini sangat mempengaruhi tumbuh-kembang pada anak. Seperti pada Totto-chan, layaknya kupu-kupu cantik yang mengalami metamorfosis sempurna.

Selamat membaca.



July 02, 2019

Kepekaan Seorang Penulis

by , in

Merujuk judul tulisan saya kali ini, saya jadi teringat tentang suatu ketika dimana saya dipermasalahkan karena meletakkan kata 'koreksi' dan 'revisi' pada makna yang berbeda. 

Saya pun membuka KBBI, dan sekilas lalu saat itu saya merasa keliru dan ya udah deh... berusaha berlapang dada menerima kekalahan ketika mencoba berargumen tentang makna dari dua kata tersebut.

Tapi, saya tidak lega begitu saja. Saya yakin sekali bahwa kata 'koreksi' dan 'revisi' diletakkan pada konteks yang berbeda dan masing-masing memiliki spesifikasi.

Saya dan suami mencoba membahasnya, dimulai dengan saya menjelaskan apa yang saya pahami tentang perbedaan dua kata di atas, dan kami berdua mencari beberapa referensi. Kesimpulan kami adalah, dua kata tersebut adalah dua kata yang memiliki kesamaan namun dengan konteks yang berbeda.

Lalu, setelah menganalisis definisi dan tesaurus kedua kata tadi di KBBI, saya menyadari satu hal. Sebetulnya pemahaman awal saya tentang 'koreksi' dan 'revisi' tidak tepat juga sih. 

Ada identifikasi waktu dalam penggunaan dua kata tadi, bukan saja terbatas pada konteks, namun justru akan membentuk konteks. Begini;

*Koreksi artinya Pembetulan, Perbaikan dan banyak lagi||Tesaurus, salah satunya adalah Revisi.
*Revisi artinya Peninjauan (pemeriksaan) kembali untuk perbaikan||Tesaurus-nya adalah Perbaikan.

Kesimpulan saya, peletakan dua kata tersebut seharusnya adalah dikoreksi dulu kemudian direvisi. Revisi adalah bentuk hasil dari proses koreksi.
Kata suami, inilah yang dinamakan kepekaan terhadap makna kata, yang mana seorang penulis harusnya memiliki kepekaan-kepekaan semacam ini. Kepekaan itu misalnya, kepekaan secara teknis;

  1. Kepekaan Berbahasa, yaitu kemahiran dalam menggunakan gaya bahasa, teliti dalam setiap ejaan, kiasan, diksi, juga peletakan paragraf. Saya ambil contoh beberapa penulis favorit saya, seperti tulisan-tulisan DEE, Ayu Lestari, dan Andrea Hirata.                                                                                                                                     
  2. Kepekaan Materi, yaitu bagaimana mengemas materi tulisan dengan gaya kepenulisan dan menghasilkan tulisan yang mudah dipahami dengan pesan-pesan yang tersampaikan. Yang terdapat keseimbangan dan tanpa memaksakan tentunya. Saya rekomendasikan Ahmad Tohari deh, sastrawan ini dapat mengolah materi sederhana menjadi sangat indah dan mudah untuk diresapi dengan gaya kepenulisannya yang khas.

Selain itu pula kepekaan yang tak kalah penting adalah penjiwaan dan kematangan emosional,  sehingga dapat mempengaruhi pembaca. Dan kepekaan terhadap permasalahan-permasalahan sosial terutama di lingkungan sekitar. Karena setiap karya hendaknya mampu membawa sebuah perubahan, paling tidak menjadi sebuah corak pada waktu tertentu.

Nah, untuk bisa terlatih memiliki kepekaan-kepekaan tersebut, sebaiknya kita belajar untuk lebih perduli dengan apa yang terjadi di sekitar lingkungan kita, isu-isu yang menarik minat kita, lebih banyak mengamati, lebih banyak mendengar, lebih banyak lagi membaca, dan terus-menerus latihan menuangkannya dalam tulisan.



Referensi: KBBI, Tulisan Ismail Marahimin,dan Pernyataan Nawal el Saadawi.&Source Image: Pinterest.



June 30, 2019

Review Buku: Cerita Andrea Hirata tentang Orang-Orang Biasa

by , in

Kesan pertama saya ketika membaca bab awal dalam novel ini adalah, tertawa. Lalu, terbayangkan dengan jelas apa yang diceritakan oleh Andrea, dengan begitu mudahnya. 

Sudah lama saya tidak membaca karya penulis asal Bangka Belitung ini, sejak buku tetralogi laskar pelangi menjadi sangat populer ditengah-tengah dunia sastra Indonesia. Andrea Hirata membawa warna tersendiri yang menjadi ciri khasnya dan mengantarkan dunia literasi kita lebih dikenal di dunia Internasional, lewat berbagai penghargaan atas karya-karyanya.
Di buku ini, ia menceritakan tentang kehidupan di sebuah kota yang bernama Belantik, keseharian yang terasa nyata dengan kehidupan masyarakat Indonesia pada umumnya. Dengan sederhana Andrea menggambarkan seluk-beluk rutinitas masyarakatnya, dimulai dari masa kecil segerombolan bocah-bocah yang seringkali menjadi korban bulan-bulanan dari segerombolan bocah-bocah tengik yang berlagak. Hingga mereka beranjak dewasa dan memiliki kehidupan masing-masing, lepas dari bangku sekolah dan berjuang untuk alasan hidup. Waktu tak banyak mengubah nasib mereka, segerombolan bocah-bocah yang diremehkan akhirnya tetap pula menjadi orang-orang yang tak diperhitungkan, begitu pun dengan segerombolan bocah-bocah berandal yang menjadi semakin berandal saja. 

Melalui diksi-diksi yang elok dan renyah untuk dibaca, Andrea mampu mengemas kritik-kritik sosial yang sangat mengena dan sarat makna. Dari maraknya budaya bullying, mahalnya biaya pendidikan,  sulitnya penanganan kesehatan untuk orang miskin, tipikal warga kita yang suka pamer, hingga benih-benih kolusi, juga trik-trik korupsi yang melibatkan beberapa elemen di masyarakat. 

Tapi yang menggemaskan saya adalah klimaks cerita, sungguh menjadi kejutan yang kocak dan menggembirakan. Namun, diluar dugaan. 

Misalnya, saat sekawanan "kacung kampret" merencanakan perampokan pada sebuah bank, bagaimana mungkin segerombolan bocah-bocah yang dulu hingga masa dewasanya masih saja dungu dapat melakukan hal itu dengan hanya mencontoh film-film yang mereka tonton. Atau seorang polisi dengan dedikasi tinggi dan kejujuran yang tak diragukan lagi, dapat terkecoh praktik-praktik kejahatan di kotanya yang terkenal aman tenteram. 

Benar, seperti kata Andrea Hirata, buku ini menceritakan tentang orang-orang biasa. Orang-orang yang biasa kita jumpai setiap harinya, bahkan kita pun termasuk di dalamnya. Judul yang ringan, cover buku yang menarik berwarna kuning dan ilustrasi unik dengan pesan yang tersembunyi namun menggambarkan isi keseluruhan novel ini.

Membacanya pun dapat diselesaikan dalam waktu singkat karena selain memang seru dan bukunya tidak begitu tebal. Saya saja menyelesaikannya sambil bekerja di kantor. Yang kadang membuat heran teman-teman saya, kenapa saya sebentar-sebentar cekikikan.

Selamat membaca, banyak kejutan yang tidak saya ceritakan lho :)






June 23, 2019

Review Buku: The Other Einstein, oleh Marie Benedict

by , in
Saya mau ngomongin perihal sebuah novel memoir THE OTHER EINSTEIN. Ini adalah buku pertama yang berhasil saya baca hingga selesai, dalam tahun ini, setelah beberapa buku yang dibaca secara random dan terabaikan. Tapi saya optimis akan sanggup melebihi target baca dari tahun kemarin. :) 

Buku ini adalah spekulasi tentang kisah lain di balik kehidupan Einstein yang berkilauan, yang nyaris menggeser minat saya terhadap salah satu ilmuwan keren pada abad ke-20 ini. Albert Einstein sesungguhnya telah membungkam ide besar dari sosok Mileva Maric, seorang teman sekelas di perguruan tinggi yang menjadi istri pertamanya dan memberikan Einstein 3 orang anak. Perempuan Serbia yang mendobrak perilaku umum pada masanya, pergi dari wilayahnya untuk menuntut ilmu Matematika dan Fisika di Zurich dan menjadi satu-satunya perempuan dalam komunitas kelas yang terkenal dengan Heinrich Friedrich Weber. 

Mileva tumbuh dengan kecerdasan yang melebihi anak-anak diantaranya, awalnya semua berjalan baik-baik saja seperti harapan Ayahnya, juga harapannya, harapan yang menjadi satu-satunya yang ia miliki sebagai seorang yang kelak akan tumbuh menjadi perempuan pincang yang cacat. Menjadi Ilmuwan dan tidak perlu menikah. 

Akan tetapi, pertemuan dan kedekatannya dengan Einstein menjadi hambatan yang tak mampu ia taklukkan, ia hamil dan melahirkan dan kemudian anak itu meninggal karena demam scarlet, Einstein yang egois tak pernah sekalipun menemui putrinya, walaupun ia bersedia menikahi Mileva. 

"Sains memang membutuhkan orang-orang praktis, tetapi sains juga membutuhkan pemimpi. Sepertinya suamimu jenis pemimpi semacam itu. Dan pemimpi membutuhkan pengurus, kan?"  

Penilaian Marie Curie ini membuat Mileva tersadar, begitu dalam ia telah tenggelam dari permukaan mimpi-mimpi ilmiahnya, dan kenyataan bahwa ia hanyalah seorang ibu rumah tangga yang tak memiliki pengakuan apapun. Sementara Einstein begitu bersinar dengan ide-ide yang ia akui sendiri, karya keilmuan Mileva dicuri secara terang-terangan.

Dokumen-dokumen sejarah telah mencatat Mileva dan Einstein tidak hanya saling tertarik sebagai pasangan kekasih, namun mereka sangat jenius dalam mendiskusikan berbagai hal tentang perkembangan dan perdebatan dunia Fisika ketika itu. Belakangan beberapa fakta ini baru terkuak, namun tidak ada yang menyatakan dengan jelas akan keterlibatan penting seorang Mileva Maric dalam gagasan besar teori Relativitas Albert Einstein tahun 1905 yang dianugerahi Nobel, ataupun pada gagasan-gagasan lainnya.

Meskipun begitu, Marie Benedict menghadirkan perspektif yang berbeda tentang konflik-konflik seorang ilmuwan. Ia meramu rangkaian fakta dan kisah-kisah yang beredar tentang kehidupan pasangan ini kedalam sebuah novel fiksi yang memperjelas keberadaan sosok Mileva Maric. Tentu saja kisah ini menjadi sangat khas bagi perempuan, dimana kekuatan perempuan justru akan tumbuh ketika harus menekan perasaannya sendiri dan mengutamakan anak-anak dan keluarganya. Dimana harga diri tidak lagi menjadi urutan prioritas, namun pada titik tertentu, momentum selalu memecah waktu yang seakan membeku, dan titik tolak atau titik balik menjadi bagian yang tak terpisahkan.

Novel ini cukup menarik untuk dibaca, dan mudah untuk diselesaikan. Selamat membaca :)
June 08, 2019

Pagi dan Hujan

by , in

Hujan semalam, membaui bumi menjadi begitu basah. 
Dini hari telah turun di balik cahaya yang kedinginan, kumatikan lampu, berkas-berkas sinar sayup merambat pada renggang dinding-dinding rumah. 
Kulihat bayanganku mendekati jendela, menyibak tirainya yang lusuh lalu menghela udara yang semerbak. 

Segar dan aroma kabut tipis. 

Bulir-bulir hujan membentuk irama dan warna pada rerumputan yang menjadi seperti menari-nari. 
Kurasa, kali ini hujan begitu betah berlama-lama di halaman rumahku, hujan tak tampak ingin mereda, namun aku tak akan kemana-mana minggu pagi ini.

Kupejamkan mata mencoba larut dalam aliran hujan pada tanah yang kecoklatan, aku bercengkerama dalam benak, di sana kulihat langit yang memutih menyatu bersama awan-awan. 

Hidup begitu sederhana pagi ini. 

Suara air tertuang dalam gelas kaca di tanganku, aku meneguknya seolah teramat sangat kehausan, bukan, bukan. 
Aku hanya benar-benar menyukai rasa air putih, melihatnya dalam gelas-gelas bening membuatku bersemangat dan melupakan rasa manis secangkir coklat hangat, atau juga secangkir teh melati, atau kopi pagi. 


Air putih saja cukup.
Cukup sederhana, seperti pagi dan hujan.




*)sourceimage: riamegasari


May 25, 2019

Hannaya #ceritalima

by , in

Aku menyimpan kegelisahan pada batas abu-abu yang kusentuh, dan seringkali kegelisahan itu mempengaruhi beberapa keputusan yang kusikapi, dan adakalanya tindakan-tindakanku bak kalimat rancu. Tepatnya, aku tak pernah benar-benar memiliki pemikiran sendiri, aku terbawa kemana saja situasi yang terjadi padaku. 

Semasa kuliah, aku tumbuh menjadi aktivis kampus yang kerap mengkritik kebijakan elemen pemerintahan yang diterapkan atau ketika mereka justru melanggarnya sendiri, atas nama perjuangan kami untuk alam dan lingkungan hidup. Kami, ya, aku dan organisasi kampus yang kugeluti.

Aku lulus melampaui waktu pada umumnya, aku terlalu asik dengan euphoria pergaulan sesama aktivis kampus dan kecintaanku pada pendakian gunung.

Mungkin yang terjadi padaku hanyalah semacam kamuflase dari idealisme yang menebar pada saat itu, dimana reformasi sedang mulai tumbuh menjadi balita. Tak jarang pemerintah masih begitu represif, beberapa kawan seperti mengalami kecanduan sehingga seolah biasa saja bolak-balik penjara. Bermalam barang sehari-dua, namun ide-ide itu tak membuatku mampu melihat persoalan yang sebenarnya.

Masih kuingat, dengan kepolosan anak pinggiran kota memasuki kampus dan melihat satu simbol yang identik dan dominan dibeberapa kalangan mahasiswa yang kutemui. “Itu lambang apa seperti daun singkong? Lalu gambar siapa itu?” belakangan aku mengetahui apa yang selama ini selalu kupertanyakan, lambang rasta, warna-warni rasta dan seseorang yang bernama Che Guavara. Ketika itu aku telah mulai bersentuhan dengan kehidupan malam yang diisi dengan rapat-rapat koordinasi berbagai kegiatan gerakan.

Menjadi mahasiswa membuatku memiliki identitas, yang sesungguhnya juga tak kukenali. Kemudian aku berkembang dengan kontaminasi yang akut dari ideologi yang kuperjuangkan selama aktif sebagai pengurus organisasi, yaitu penolakanku untuk terlibat dalam segala bentuk pengrusakan lingkungan.

Aku menghindari peluang pekerjaan-pekerjaan di sektor pertambangan dan perkebunan sawit. Sekalipun, Ayah menyekolahkan aku dan adik-adikku dengan bekerja di perusahaan kayu lapis dan pertambangan. Bahkan, ada support dana dari beberapa senior organisasi yang juga membuka lahan tambang. Kami memang terpecah tak kasat mata, dimana kami berjuang menolak pertambangan yang semakin meluas tak lagi bijak terhadap alam dan lingkungan, diantaranya pula beberapa dari kami justru terjun menentang dalam diam. Idealisme yang awalnya mengalir deras entah bagaimana menjadi aliran-aliran beku dan hilang begitu saja.

Namun, ada satu ikatan yang membuat kami tak saling menuding, yaitu persaudaraan tanpa syarat.

Ironi?

Ironi menjadi sebuah kiasan antitesis yang khusus hadir dalam setiap kehidupan, kita tak perlu kompromistis, terus saja berlawan namun berjalan beriringan. Aku menyadarinya di sepanjang kehidupan yang kulalui, saat aku berkubang di dalamnya atau ketika hanya berperan mengamati, ironi menjadi semacam benturan yang tak terhindari.

Lantas apakah hidup memang penuh ironi?

Kadang akupun berpikir, sikap realistis pun menjadi sebuah ironi yang lain. Elemen yang sama dalam sebuah ruang, namun tentu saja bukan menjadi satu kesatuan pasangan yang menciptakan realitas atau identitas. Kita hanya perlu bergejolak, ketika nurani kita tersentak, disitulah kemampuan melihat ironi sebagai genderang perang tersingkap. Menghadirkannya untuk menantang diri sendiri.

Ah, aku justru sepakat jika ironi sangatlah kontradiktif ketimbang hanya menjadi sebuah antitesis. Bukan sekedar kiasan, namun begitulah, semua menjadi unsur-unsur yang membuat kehidupan terasa ada dan nyata.

Bagiku, idealisme kami semasa kuliah seperti sebuah paradoks disaat semua orang butuh pengakuan dan keakuan. Akupun, tidak benar-benar menjadi seperti apa yang kugaung-gaungkan, aku hanya melewatinya sebagai sebuah proses masa muda menuju kehidupan selanjutnya yang entahlah.

Kemudian Dipo Ariangga menghampiriku dengan segala mimpi-mimpinya tentang perdamaian dalam setiap sendi-sendi kehidupan, mulanya kami menemukan dunia yang sama, buku-buku dan diskusi panjang yang selalu menarik hingga akhirnya menjadi candu untuk kami selalu bertemu dan bertemu. Bukannya kami tak pernah mengantisipasi bahwa dunia kami yang bersisian bahkan beririsan justru akan bergesekan menimbulkan friksi, aku tahu Dipo cukup moderat dan ia pun mengerti bahwa aku sepertinya tak pernah benar-benar satu dengan apa yang orang lihat tentangku, oh aku hanya ikut-ikutan. Aku sadar label itu melekat padaku, bahkan kukira juga begitu.
*
Hujan sedari pagi kian menderas, ruas-ruas jalan begitu basah. Air hujan mengaliri dataran yang menurun dan terdengar riuh aliran selokan di bawah-bawah jalanan utama. Tak tampak payung-payung atau satupun kendaraan yang melintas, kopi hitam yang kusesap lekas menjadi dingin oleh lamunanku yang melayang di langit yang memutih.

Aku teringat nyonya Melinda pernah bercerita padaku, pernah suatu ketika di musim salju yang dingin, seorang gadis cantik berasal dari London tinggal di rumahnya beberapa malam. Kala itu Hallstatt yang diselimuti salju memutih seperti negeri dalam dongeng animasi Walt Disney, gadis itu datang sendiri bukan untuk berlibur, ia mengatakan sedang lari dari segala persoalan yang membuatnya sempat mengalami depresi berat, nyonya Melinda tak keberatan ia tinggal lebih lama di rumahnya. Namun setelah beberapa hari ia memutuskan kembali ke London, pagi itu sang gadis lebih bersemangat dan tersenyum, “nyonya, aku harus kembali dan menyelesaikan semua persoalan ini. Keheninganku disini memberi sedikit jarak yang membuatku memahami satu hal, semesta telah memilihku untuk terlibat dalam hal yang paling kuhindari.” Sang gadis mengecup kedua pipi nyonya Melinda di tepi danau, dingin yang menusuk membuat pipi mereka bersemu.

Salzburg yang basah, hujan itupun seperti jatuh dalam cangkirku. Apa yang harus kulakukan? Tanya itu mengambang memenuhi kota ini, bergema pada gedung-gedung tuanya, berusaha menjelma dalam tangga nada yang pernah diciptakan oleh Mozart.

Hm, hidup ini adalah kumpulan waktu dan peristiwa yang akan terjadi seperti yang seharusnya terjadi. Mungkin aku tak perlu sembunyi. Aku adalah realitas dan yang kualami hanyalah sebuah ironi. Toh danau tenang sekalipun pernah bergejolak pada suatu masa, lalu kembali tenang sesuai urutan waktu.

 “Jangan ragu.” Nyonya Melinda berbisik padaku kali terakhir aku bertemu dengannya, sore itu. Ia tersenyum padaku, dan aku terpaku menatapnya. Tanpa kusadari ia telah menjauh meninggalkan dermaga.


*)source image by canva design.
May 14, 2019

Hannaya #ceritaempat

by , in

Aku berkemas, lima belas menit lagi nyonya Melinda akan mengingatkanku untuk segera menyeberangi Hallstatter See. Kusempatkan membuka laptop dan mengecek email, tak ada email masuk yang berarti. Tak ada email yang kutunggu-tunggu selama satu bulan ini, aku menghela nafas kembali gundah. Akupun segera beralih membuka salah satu website, berharap menemukan apa yang kucari, dan, benar saja. Namaku tidak tercantum dalam daftar nama penulis terpilih pada sebuah ajang internasional yang pernah ku ikuti. Pemberitahuan itu baru saja diposting, dan nama-nama penulis muda yang mulai mengenalkan karyanya, mereka mampu menggeser namaku. Kegundahan itu membuat sekujur tubuhku melemah, kelesuan terbit begitu saja.

Kabut turun selepas gerimis membersihkan udara, angsa-angsa kembali riuh berenang menjelang sore. Alunan nada Mozart, dan perapian yang meredup. Kutatap sebentar tebing tinggi yang kokoh, tampak samar oleh kabut. Desa ini seperti terjebak, begitu terpencil bak dongeng tua dengan para penambang garam di dalam gunung-gunung besar.

Jika tempat ini tak jua membuat darahku kembali mengalir, mungkin aku tak butuh ketenangan itu. Sejauh apa aku menepi, mungkin jurang kelam itu bersarang dalam dadaku, jadi tak ada guna beribu-ribu keindahan dan keselarasan yang coba kureguk.

Kulangkahkan kakiku dengan berat, nyonya Melinda sudah menunggu. Entah kemana setelah ini, aku masih seperti mengambang, kekecewaan tadi melengkapi kekosongan ini.


*)source image: canva&pinterest

May 13, 2019

Framing

by , in

Aku melompat turun dari tembok dengan gusar, “woi! siapa disana!” teriakan itu terasa sangat dekat, memicuku untuk berlari secepat mungkin menerabas semak-semak menuju jalan raya. Dalam keremangan malam disinari cahaya bulan separuh di langit yang pekat, detak jantung berdegup kencang mengiringi setiap lompatanku ketika melewati bebatuan di jalan setapak, beruntung aku tidak tersandung. Di balik sebuah pohon yang cukup besar untuk menutupi tubuhku, aku berhenti sejenak mengatur sedikit pernafasan dan memejamkan mata, karena malam semakin pekat aku harus mengatur cahaya yang bisa masuk dalam penglihatan manusia. Ini semacam orientasi untuk kornea mata, dari tempat yang cukup terang kemudian memasuki kegelapan. 
Gedung yang menjadi kantor Berita Indonesia itu sudah tampak sepi, namun pada satu ruangan terlihat cahaya yang terang. Aku memasuki beranda gedung dan menyapa sebentar pak Dullah yang ketika itu sedang berjaga, ia mengatakan Handry masih bekerja di mejanya. Kulirik arloji di tangan kiri yang sudah menunjukan pukul 22.03, apa yang sedang dikerjakan jurnalis slenge’an itu, apakah ia sedang mengejar deadline? Tapi setahuku ia tidak suka bergadang di kantor. Ah, sudahlah! Aku berlari kecil menaiki tangga menuju ruang kerjaku. Dengan nafas yang masih sedikit terengah-engah dan kekhawatiran yang tersisa, tersadar olehku tindakan tadi cukup konyol. Lalu tiba-tiba saja Handry sudah menarik lenganku ketika memasuki pintu ruangan, “hei, apaan sih!” aku melepaskan cengkeramannya setelah tiba di depan meja kerja kami. “Baca nih,” ia memutar arah monitornya menghadapku. Dan aku membaca satu artikel pendek yang membuat jantungku kembali melaju, “Bowo diserang orang-orang bertopeng selepas Isya tadi? Kamu turun meliput Han?” berondongku sekenanya. “Lha itu artikelku yang barusan aku post di website Berita Indonesia,” aku hanya menatapnya dengan nanar. Aku tidak menyangka bahwa kebenaran dari analisa kami terjadi begitu cepat. 

Bowo Pranowo adalah seorang ahli hukum dan aktivis Hak Asasi Manusia yang sangat vokal dan berani, beberapa kasus berhasil ia ungkap dan menyeret beberapa petinggi Negeri ini. Itu membuat pekerjaannya semakin berbahaya, ia kerap diteror dengan berbagai cara namun baru kali ini langsung melukai secara fisik. Bahkan terakhir kali wawancara Handry bersama Bowo Pranowo, ia dengan terang-terangan menceritakan peringatan halus dari seorang perwira kepolisian yang sesungguhnya mengandung ancaman. Dan dalam beberapa tahun terakhir, sosok dan sepak terjangnya menjadi pembicaraan khalayak luas. Bowo menurutku lebih terkesan menantang bahaya. Aku bergidik mengingat setiap aksi demonstrasi dan caranya menyampaikan kritikan pada pemerintah. dimanapun ada kesempatan di hadapan publik, sangat berapi-api dan tak terbantahkan. Seminggu yang lalu aku bersama rekan-rekan jurnalis sempat berbincang, ketika Bowo muncul di laman website utama untuk kasus-kasus HAM tingkat berat di dunia. Ia mengatakan akan segera membeberkan beberapa bukti yang mendekati terungkapnya kasus pembunuhan Bayu Anggara. “Gak lama nih bang Bowo bakalan dimangsa habis-habisan” komentarku memecah ketegangan kami setelah menyimak artikel utama tersebut. “ini nih! yang Rakyat Indonesia butuhkan Dre, yang gak takut berbicara pada seluruh dunia walaupun selalu diteror dan diancam,” Handry menimpali dengan antusias. “Kita lihat saja nanti. Saya sebetulnya takut, setiap kali menyaksikan tindakannya yang terlalu nekad. ” Gading menambahkan dan kemudian memandangi kami bergantian, lalu pergi. 

Gading sempat bertugas meliput seputar kasus Bayu Anggara beberapa tahun pertama, sebelum akhirnya ia beralih profesi sebagai jurnalis foto. Gading pernah bicara padaku, bahwa kasus Bayu Anggara adalah kasus para Jenderal, tidak mudah diselesaikan walaupun bukti-bukti yang terungkap sudah mengarah. Munculnya orang yang dituding sebagai pelaku dan kemudian ditindak pidana hanyalah trik mengelabui publik. Seolah-olah kasus itu telah selesai dan masyarakat Indonesia menjadi lupa. Bukan waktu yang sebentar, lima belas tahun yang lalu Bayu Anggara terbunuh dalam perjalanan menghadiri konferensi Dunia untuk membahas kasus-kasus pelanggaran HAM di Negara-negara berkembang. Dan ketika Ariadi memintaku untuk mengikuti perkembangan kasus ini, meliput apa saja yang berkaitan bahkan sekecil apapun hal tersebut, aku langsung menyambutnya dengan senang hati. Wajar saja beliau memiliki perhatian khusus terhadap kasus-kasus pelanggaran HAM di Indonesia, karena beliau adalah sahabat dekat Bayu Anggara, dan pada masa orde baru kantor berita ini sempat dibredel. 

“Mbak, tadi malam saya melihat langsung pak Putra Wicaksono bertemu dengan Bambang Prabu. Entah apa yang mereka bicarakan, tetapi mereka memilih tempat yang sangat tertutup?” aku berbicara lebih pelan dan mencondongkan tubuhku mendekati posisi duduk mbak Wuria, iapun mendengarkan dengan hati-hati. 

“Bagaimana kamu bisa mengikuti mereka Dre?” aku terdiam sebelum menjawab pertanyaannya, ingatanku melayang pada malam itu. Selepas magrib aku pulang dari kantor dan ada rencana makan malam di rumah istri mendiang Bayu Anggara, perjalanan menempuh sekitar 10 menit dengan mengendarai sepeda motor, namun pada jarak 100 meter sebelum aku tiba, tampak beberapa mobil terparkir di sisi jalan. Tempat itu sangat sepi dan gelap. 

“Beruntung kamu berhasil lolos Dre, kalau tidak kamu bisa didor” seloroh mbk Wuria masih dengan suara pelan. 

“Memangnya jaman orde baru mbak.” Aku menghela nafas agak ngeri juga. 

Tiba-tiba percakapan kami terhenti karena kedatangan Handry Atmaja, dari wajah teman sekantorku itu tampak amat sangat kusut. “Andrea Endian dan Wuria Asary, ada apa kalian memanggil saya kemari?” suaranya yang tengil memaksakan diri untuk tersenyum. “Ada yang perlu kita bahas Han,” sahut mbak Wuria datar. Aku tahu Handry sejak tadi malam sangat sibuk dengan liputan kasus terbaru Bowo Pranowo, tetapi karena itulah kami perlu membicarakannya. 

“Jadi, kalian merasa dua orang pejabat penting itu ada di balik kasus Bowo Pranowo?” sergah Handry sebelum sempat aku menyelesaikan cerita yang tadi kusampaikan pada mbak Wuria. 

“Tepat sekali! Karena rentang waktunya cukup dekat dan jenderal yang satu ini seringkali muncul dalam tulisan Andrea terkait kasus Bayu Anggara.” Pungkas Wuria. 

Kami bertiga saling pandang. Sebagaimana kami sama-sama mengerti apa yang sesungguhnya terjadi. Dan kepada siapa seharusnya kami mengarahkan kecurigaan. Selang beberapa menit keterdiaman kami, handphone Handry bergetar, ia meraihnya dari saku jaket. Sementara aku masih hanyut dalam analisa yang rumit dikepalaku, tanpa perduli ekspresi Handry yang tiba-tiba saja berubah. Kemudian ia berdiri dengan tergesa dan meraih ranselnya, “Dre, kita ketemu di rumah sakit pusat ya, Bowo Pranowo ditemukan tewas tanpa jejak pelaku sedikitpun” aku dan mbak Wuria belum sempat berkata sepatah kata apapun ketika sosok Handry sudah menjauh dari pandangan kami. Kepalaku mendadak berdenyut, kejadian dalam 24 jam ini terjadi seperti tokoh superhero flash yang berlari kencang. 
** 
Sore itu aku menemui Handry di teras rumahnya, “Han,” sapaku singkat dan ia menyilakanku duduk. “Dre, saya mundur dari Berita Indonesia” Aku sudah mengetahui hal ini, secara singkat, Ariadi menjelaskan duduk persoalan itu sebelum aku menemuinya. Aku diam memandangi kaki meja, pikiranku menebak-nebak apa yang membuat jurnalis bandel ini melakukan hal yang tak pernah sama sekali kami singgung. Ia bukan orang yang mudah menyerah.

“Ke…” 

“Pak Ariadi meminta saya berhenti Dre,” Handry memotong kalimatku yang belum selesai dengan suara serak. Matanya berkaca-kaca. 

Kuamati seluruh reaksi tubuh itu, Handry dalam keadaan shock. Aku terkejut mendengar itu, “kenapa?” semakin tajam kutatap kedua bola matanya. 

“Pembunuhan Bowo Pranowo menjadi sangat rumit. Jika saya meneruskan semua liputan dan melaporkan segala bentuk investigasinya, imbas selanjutnya akan mengancam saya dan kantor berita kita.” 

“Apa yang sebetulnya kamu ketahui?” 

“Itu yang dikatakan pak Ariadi Dre, bukan alasan saya.” 

“Apakah kamu sudah semakin dekat dengan bukti-bukti pembunuhan?” aku mencoba menganalisa. 

“Ya.” Jawabnya singkat dan gugup. 

Mendadak ia terisak membuat tubuh itu bergetar menahan tangisan yang lebih keras. Aku mendekatinya, kuraih segelas air putih di meja dan kusodorkan padanya. 

“Tenang Hen, aku yang akan meneruskan liputan ini. Mungkin aku bukan wartawan yang berbahaya sepertimu, akan mencurigakan jika tiba-tiba berita Bowo Pranowo mendadak kita stop.” 

Mendadak aku paham, mengapa Ariadi memilihku menggantikan Handry. Kukira selama ini masih pada batas kewajaran, setiap kali wawancara dan tulisanku yang dimuat mengkuti arahannya. Ariadi Wicaksono. Kepala Redaksi Berita Indonesia. Memang mulanya aku keberatan, tapi kukira alasan Ariadi ada benarnya. Untuk mengikuti kasus Bayu Anggara kita harus tampak bersahabat dengan semua pihak, kasus ini harus tetap ditulis namun terkontrol. Begitu selalu Ariadi mengingatkanku. 

“Aku mencemaskan sesuatu yang buruk bisa saja terjadi. Dre. yang kutemukan adalah dua korelasi fakta, antara kasus Bowo dan Bayu.” Ia menyeka sisa-sisa air matanya dan meneguk air putih yang tadi kusodorkan. 

“Ariadi sengaja memancingmu masuk ke dalam kasus ini, dengan begitu ia lebih mudah menutup dua kasus sekaligus dan menekan efek negatif seminim mungkin terhadap Berita Indonesia. Kemudian ia menyingkirkan kamu sama seperti saya, ketika sudah tidak layak lagi untuk dipelihara.” 

Ia meneruskan perkataannya dengan pandangan yang kosong dan nada suara yang sinis. 

“Tentu saja, karena ia masih berpikir saat ini lebih bisa mengendalikan saya ketimbang kamu.” 

Kami berbarengan memandangi pohon mangga yang sedang berbunga, ada kegeraman yang sama. 
*** 
Malam itu Wuria menungguku dikantornya, ada yang ingin ia sampaikan dan kebetulan pula aku ingin bertemu dengannya. Ia adalah sekjen salah satu organisasi penting yang selalu berdiri bersama korban-korban tindak pelanggaran HAM di Indonesia. 

“Dre, kecurigaan kami spesifik mengarah kepada Bambang Prabu sebagai dalang dibalik pembunuhan Bowo.” Ia berbicara sangat pelan setengah berbisik, pikiranku mendadak semakin berkecamuk saja. 

“Bagaimana mbak Wuria bisa yakin?” ia lalu menunjukan secarik kertas yang sudah diremas-remas. Ada beberapa nama yang tertulis di sana dan aktivitas rutin Bowo Pranowo, yang mencurigakan adalah kronologi singkat perjalanan Bowo dari sebuah acara yang ia hadiri sesaat sebelum kejadian penyerangan terhadapnya, pada kertas itu juga dituliskan alat penyerangan dan habisi saja. Jantungku seakan berhenti berdetak ketika selesai membaca secarik kertas tersebut. 

“Dimana mbak menemukan secarik kertas ini?” Tanyaku setelah bisa menguasai diri kembali. Wuria lalu menceritakan bahwa kertas itu diberikan oleh istri Bowo ketika mereka melayat tadi siang, itu ia temukan disaku celana suaminya. 

“Tapi ini tidak membuktikan apa-apa tentang keterlibatan Bambang Prabu mbak,” Wuria menarik tubuhnya dan bersandar pada tembok. 

“Inisial itu ditulis dengan sangat khas Dre, saya bahkan memiliki testimoni yang pernah ditulis tangan oleh Bambang Prabu ketika perayaan ulang tahun organisasi ini. Sangat mirip. 

“Lalu apa yang bisa kita lakukan dengan bukti yang tidak lengkap ini?” sahutku dingin, aku mulai merasa tertekan. 

“Mbak, Bambang Prabu itu adalah perwira tinggi Kepolisian yang sangat dekat dengan orang-orang kepercayaan Presiden, mbak ingin saya menulis ini?” dan aku menjadi gusar. 

”Entahlah! apa yang terjadi pada kalian? Handry pun menolak untuk membicarakan hal ini.


” Wuria mulai tampak kesal dan menatapku penuh selidik. Aku tidak perduli. “Handry sudah mengundurkan diri dari Berita Indonesia.” Ia membelalakan matanya dan berdiri tegak dihadapanku, “kalian menyembunyikan sesuatu?” kali ini aku terlihat menghindar dan Wuria tajam menangkap hal itu. 

“Hei! coba kalian berdua baca ini.” Seorang anggota organisasi lainnya tiba-tiba mendekati mereka, Azhar setengah berteriak lalu memperlihatkan layar tablet-nya kepada kami berdua, salah satu judul berita yang muncul di laman utama google chrome menuliskan; Handry Atmaja Gantung Diri Setelah Ditemui Oleh Andrea Endian, Keduanya Merupakan Wartawan Yang Dipecat Karena Diduga Menutupi Bukti-bukti Kematian Bowo Pranowo. 
****



*)source image by google, pinterest