THOUGHT&BOOK

November 15, 2019

Sehari di Ubud

by , in
Perjalanan ini diawali dengan keinginan saya atau lebih tepatnya impian saya menjadi bagian dari Ubud Writers and Readers Festival @ubudwritersfest. Yah walaupun hal itu masih saja hanya sebatas impian saya :)

Ubud Ketika Itu

Sekilas tentang Ubud Writers and Readers Festival atau biasa disingkat dengan UWRF, dulu sekali saya kepengin banget jadi penulis emerging pada festival ini, karena bisa jadi undangan pada sebuah acara keren dan gratis. Mungkin dua elemen tadi menjadi sangat penting bagi saya yang memang terlalu cinta dengan buku dan menulis, juga jalan-jalan.

Namun, saya jadi bertanya pada diri sendiri apakah saya serius terhadap impian itu? Kok gak ada tindakan yang signifikan sih? Mencoba menulis tapi gak pernah selesai, saya malah kebingungan bagaimana menulis dengan standar tulisan yang bisa masuk festival.

Sempat beberapa bulan yang lalu saya juga mengikuti MIWF2019 sebagai penulis emerging, saya mengirimkan 5 judul cerpen yang entah bagaimana mampu saya selesaikan dan tepat di hari terakhir saya mengirimkan karya saya itu melalui email. Karena syaratnya hanya pengiriman melalui email saja.

Saya pikir sebelum menjadi salah satu penulis di UWRF mungkin langkah penting adalah saya harus mencoba festival yang sama namun wilayahnya lebih dekat dengan domisili saya di kawasan timur Indonesia. Motivasi yang sama sebetulnya, eksklusifnya event semacam ini membuat saya mencatat target pencapaian menulis adalah turut serta di dalamnya.

Pemenang penulis emerging MIWF 2019 akhirnya di umumkan, gak ada nama saya. Gak terlalu kecewa sih karena udah nyadar sendiri gimana kualitas tulisan saya, yang disiapkan pun terkesan tergesa-gesa dengan tema cenderung dipaksakan. Saya sempat kepo juga tulisan para pemenang, dan saya langsung merasa rendah diri.
Karena merasa belum mumpuni dan saya harus bekerja lebih keras lagi dan juga lebih tekun, lalu saya memutuskan ingin ke Ubud pada saat yang bertepatan dengan UWRF 2019, yah setidaknya bisa merasakan good vibe festival ini.

Prolognya gak lumayan panjang kan ya :)
25-26 Oktober 2019.

Aroma Dioscorea pyrifolia selalu memenuhi penciumankuDi sini akan merebak ebih pekat, dupa yang dibakar tiap persembahan. Hampir di setiap sudut pulau Bali.

Sehari di Ubud, ketika itu saya dan suami tiba di Ubud menjelang waktu magrib. Kami berangkat dari Sanur dengan menyewa motor dari sana. Dengan google map kami menyusuri jalanan Bali antar wilayah, Bali sepertinya lebih macet dari terakhir kali saya ke sana sekitar tahun 2014 kalau gak salah ingat.

Google Map sempat terhenti lantaran handphone saya dan suami kehabisan batrai, kita juga tidak membawa power bank atau batrai cadangan lainnya. Terakhir saya charge handphone sewaktu makan di sebuah warung padang deket pantai Shindu, dan itupun gak terlalu membantu.

Akhirnya bertanya saja sama penduduk yang kami temui, sebetulnya jalannya tidak rumit tapi kadang tersasar karena ada perempatan. Dan sepanjang perjalanan sebenarnya selalu ramai aktivitas penduduk dan pemukiman. Jadi tidak terasa sedang dalam perjalanan antar daerah. Hanya karena beberapa kali kesasar jadi lumayan menghabiskan waktu.

Setiba di Ubud yang dimaksud, ketika kami sudah melewati patung Arjuna di perempatan. Di sana kami bertanya lagi tentang lokasi penginapan kami, hampir semua orang mengenail daerah yang saya sebutkan. Kutuh, karena ternyata itu nama sebuah desa, jika menyebutkan 'jln Tirtha bla bla' kebanyakan orang kurang paham.
Penginapan kami memang terletak agak sepi dari pusat keramaian Ubud, di jalan Tirtha Tawar Kutuh Ubud. Penginapannya cukup nyaman dan sepi. Resepsionisnya sangat ramah, saya saja sempat ngecharge handphone untuk ngecek kamar yang saya pesan.
Sebetulnya tidak begitu jauh dari desa Nyuh Kuning dan Art Market Ubud. Setelah melepas lelah dan mandi, saya kepingin banget jalan-jalan menikmati Ubud pada malam hari, namun badan terasa amat lelah. Jadi, saya dan suami hanya keluar sebentar ke mini market yang tidak jauh dari jalan Tirtha. Ubud tampak ramai juga pada malam hari, turis-turis, toko-toko suvenir, kafe-kafe dan restoran. Namun, tidak sehingar-bingar Kuta atau Denpasar dan sekitarnya, wajar saja karena Ubud adalah salah satu wilayah di kawasan Bali yang sangat kental tradisi budayanya dan sangat religius.
Saya liat jadwal UWRF 2019 untuk tanggal 25 itu, masih ada beberapa jadwal acara hingga malam di beberapa tempat, seperti di Bar Luna salah satunya seorang designer muda Didiet Maulana dengan Indonesian Chic, di Taman Baca ada pemutaran film terbaru Garin Nugroho 'Kucumbu tubuh indahku', dan Betelnut cafe. Tapi saya gak ada beli tiket UWRF dan gak sempat ngecek juga acara free-nya yang mana. Jadi, malem itu saya tunda dulu deh untuk observasi lokasi-lokasi kegiatan UWRF.

Malem itu berasa magis, udara dingin, penginapan yang di kelilingi petak persawahan jauh masuk ke Kutuh. Sayangnya padi-padi sedang dipangkas, jadi gak tampak indah. Dari kejauhan terdengar suara alat-alat musik tradisional dimainkan, dan nyanyian tembang atau mantra barangkali. Lantunan itu terdengar hingga jauh malam, mungkin ada yang latihan untuk sebuah pertunjukan atau ada upacara keagamaan di sekitar Kutuh, karena di sepanjang jalan tirtha saya temui beberapa pura-pura kecil.

Ada yang menarik ya dengan ciri khas rumah masyarakat Bali, atau bangunan lainnya seperti Sekolah misalnya, yaitu pintu depan rumah yang berbentuk gerbang dan biasanya jika pintu sedang dibuka, dari luar akan tampak patung-patung dalam kepercayaan mereka seperti penjaga rumah.
Besok paginya saya kepingin banget ngerasain sejuk udara perbukitan Ubud, katanya sih bukit Campuhan lumayan asik buat jogging. Saya bukan pingin jogging sih tapi motret, kebetulan juga gratis masuknya. Lokasinya kalau menurut google map sekitar 11 menit kalau gak kesasar. Dan ternyata, memang kesasar karena gak paham membaca map hahaha. Setelah puas muter-muter tersasar satu jam lebih, dan akhirnya bertanya ke penduduk sekitarlah yang menyelamatkan, setibanya di sana ada satu pura yang tampak tua dan berlumut, jadi terkesan misterius, entah pura ini bernama apa.
Udara disana terasa segar, dan banyak turis baik lokal maupun mancanegara yang jogging atau sekedar jalan-jalan saja. Pemandangan sekitar yang masih hijau dan terdapat sungai jernih yang mengalir di bawahnya, di sisi yang lain tampak jejeran rumah penduduk yang asri.
Gak tau seberapa jauh jarak track bukit campuhan ini, saya gak sampai ujung karena lumayan juga sepertinya. Puas motret, karena sudah menjelang siang pukul sembilan, perut sudah mulai merajuk karena tadi cuman sarapan roti saja. Sejujurnya saya kurang puas karena gak mendapatkan sunrise atau kabut pagi bukit campuhan, ya siapa suruh datang telat dan kesasar. Walaupun jadi keliling Ubud dan liat tempat-tempat yang unik seputar jalan yang kami lalui, bahkan jadi tau spot-spot yang jadi lokasi semua acara UWRF 2019.

Ternyata kesasar gak berhenti pada pencarian bukit campuhan, karena kami berdua lebih tertarik ke Art Market Ubud ketimbang mengunjungi beberapa pura atau main ke Monkey Forrest, jadi kami langsung mengikuti map menuju ke sana. Handphone saya begitu cepat drop, dan kami kembali bertanya sana sini di mana letak Art Market Ubud.
Di Art Market Ubud, hari masih terlalu pagi dan pasar belum begitu ramai masih banyak ruko-ruko yang tutup atau sedang berkemas akan buka. Begitu juga dengan lapak-lapak yang memenuhi sisi ruas jalanan di dalam kawasan pasar. Beraneka ragam suvenir, dari pakaian hingga tas dan sandal, gelang-gelang, dan gantungan kunci. Ada juga beraneka ragam topeng dan hiasan dinding juga hiasan ruangan. Yang sangat menarik adalah warna-warni beraneka ragam jenis bunga yang masih segar pun dijual di sini. Bau dupa di mana-mana, sepertinya selalu ada sesajen di pagi hari. Pasar ini juga cukup bersih.
Puas mengambil foto dan belanja tas rajut dari bahan ate yang jadi salah satu kerajinan khas daerah Bali, saya juga tertarik dengan dream catcher berwarna putih. Ukurannya mini saja seharga 25 ribu rupiah setelah penawaran :)

Ada kejadian lucu dan menjadi sebuah pelajaran juga bagi saya, ketika saya sedang asik memotret barang dagangan seorang ibu tua, yaitu beraneka macam bentuk topeng hias dari logam dan kayu--seingat saya sih karena hasil fotonya blur--ibu itu setengah berteriak membentak saya, sempat beberapa kali ia mengatakan "hallo... hallo!" Baru saya tersadar lalu menoleh, ibu itu tampak garang di tempat duduknya, "jeprak-jeprek tak ijin."

Saya pun dengan tergagap mengucapkan maaf dan lekas kabur, suami saya baru sadar akan hal itu setelah saya cerita dan mengajaknya untuk memilih jalan yang lain. Pokoknya tidak bertemu ibu itu lagi, saya jadi trauma :D

Selanjutnya saya jadi berhati-hati untuk mengambil foto, atau saya ijin dulu ketika memotret seorang ibu yang meletakan sajen di depan rumahnya. Atau setidaknya sambil membeli barang dagangan terus sambil jepret-jepret deh.
Jam 11 siang kami harus check out dari penginapan, packing juga belum. Ya udahlah kami keliling lagi cari warung muslim, setelah itu muter-muter lagi cari jalan ke penginapan. Hahaha. Jadi ceritanya seru di muter-muter kesasarnya ajasih selama di Ubud, tapi justru karena itu saya jadi banyak melihat dan mengamati kehidupan dan bangunan-bangunan yang ada di kawasan ini.
Dan sepertinya kami sudah berulang-ulang melewati monkey forest, haha... tapi, yang asik ketika bertanya pada orang-orang yang kita jumpai, kita jadi bisa berinteraksi dengan mereka. Orang-orang lokal, tahu bagaimana mereka merespon, mendengar suara mereka yang bersahabat, atau melihat senyum mereka yang seolah mengucapkan kedekatan. Tentu tidak begitu jika sama mbak Google map. :)

Akhirnya selesai beberes kamipun pamitan untuk meninggalkan penginapan, rencananya sih kepingin liat Nyuh Kuning, salah satu desa yang sering dibicarakan para pelancong akhir-akhir ini. Keliling sebentar di kawasan Nyuh kuning? Sebuah desa asri dan bersih dengan rumah-rumah khas Bali. Kami melewati gang kecil disamping area pejalan kaki di sebuah kawasan hutan sepertinya yang dihubungkan dengan sebuah pura, di ujung gang kami justru keluar di depan pintu masuk Monkey Forest.
Saya tidak begitu jelas dengan jadwal UWRF tanggal 26, jadi kami ke lokasi aja langsung untuk melihat dan motret-motret sebentar. Masuk ke area box office, bertemu beberapa panitia namun ragu untuk menanyakan suatu hal. Hahah, beli tiket juga mungkin rugi kalau cuman sehari karena setelah ini kami langsung ke Art Market Sukawati dan mengembalikan motor ke Sanur pukul empat sore. Jadi, agak mepet ya.

Ya sudah, merasakan euforianya dari luar. Setidaknya festival keren ini real di depan mata meskipun belum tercapai. Hihii.. menurut saya UWRF sangat eksklusif, jadi teringat apa kata suami saya ketika melihat saya merasa sangat jauh dengan UWRF, "jangan merasa berjarak karena acaranya begitu eksklusif, tapi buatlah diri menjadi eksklusif."

Saya jadi semangat suatu hari bisa berada di sana, entah sebagai penulis emerging atau barangkali sebagai speaker ;) Setelah dua kali saya ke Ubud, salah satu motivasi saya tetap sama, yaitu UWRF.
Setelah puas berkeliling dan terjebak di macetnya lalu lintas di pusat keramaian Ubud, dan berpapasan dengan rombongan upacara adat, tapi tepatnya sih kesasar kali ya. Hahaha, lumayan sih dapat hasil jepretan walaupun masih kurang banyak. Ada beberapa toko buku yang saya lewatin tapi gak sempat mampir, salah satunya Ganesha Bookshop. Sedih juga gak sempat motret.
Tulisan saya kali ini panjang banget, padahal cuman cerita tentang kesasar. Hahaha. Well, rasanya saya ingin menikmati lebih lama lagi di Ubud, menikmati harmoni keramahannya, jalan-jalan yang di penuhi dengan karya seni, aroma dupa yang menyambut pagi dan suasana teduh di salah satu kafe dengan segelas kopi atau minuman coklat dingin dengan lelehan krim. Yah, dilain kesempatan  mungkin, ataaau ketika menghadiri undangan resmi UWRF 2020 :)
November 04, 2019

Review Buku: RESIGN! versi Almira Bastari

by , in
Sebetulnya gak ada niat sih untuk menulis resensi buku dengan sungguh-sungguh, cuman mau menandai buku apa aja yang sudah selesai saya baca. Terutama di tahun ini, saya punya targetan baca buku setidaknya lebih dari 20 buku. Namun, saya selalu saja merasa sibuk untuk meluangkan waktu membaca buku sampai tuntas. 

Well, ada satu buku yang cukup asik dibaca nih, ceritnya yang ringan dan pemilihan katanya juga enak dipahami. Seperti novel metropop pada umumnya, novel ini menceritakan tentang lika-liku kehidupan pekerja ibu kota. Yah, emang terasa jauh sih jika dibandingkan dengan kehidupan kerja saya sehari-hari.

Yang membuat saya betah membaca novel ini hingga selesai justru karena cerita dunia pekerjaan ditulis begitu renyah. Terbayang gak sih mendapat pekerjaan impian dengan gaji yang wow tapi pun punya atasan yang super suka-suka? Suka-suka dalam segala hal aturan kerja dan hasil kerja yang malah cenderung mekekang kebebasan pribadi. 

Nah, masalah yang diangkat jadi cukup serius ya? Dan secara umum hampir semua pekerja pernah mengalami hal ini. 

Justru di sinilah kepiawaian Almira Bastari cukup kental, emosi saya pun larut dalam narasi yang diurai jelas dan rapi. Saya gak bisa berhenti membaca, dengan segala kesibukan saya bisa menuntaskan novel Resign ini dalam 2 hari. 
Hal menarik lainnya adalah, menurut saya banget nih ya... Almira Bastari yang berangkat dari penulis wattpad dan akhirnya menerbitkan dua buah buku yang laris di pasaran. Jujur, saya memandang agak sebelah mata loh sama penulis-penulis akun media semacam ini, entah kenapa. Mungkin karena media ini terlalu terbuka untuk umum, dan siapa saja bisa menulis di sana tanpa kriteria apapun yang mengindikasikan berkualitas apa gaknya sebuah tulisan.

Namun, saya juga udah punya akun wattpad loh... malah nulis juga di situ. Hehehe. Usut punya usut, haha kalimat itu jadul banget kan ya, banyak cerita-cerita yang ditulis dengan bagus di situ. 

Selain itu juga, sudah banyak tulisan yang akhirnya diterbitkan oleh penerbit-penerbit terkemuka atau penerbit indi. Keren banget kan sebenernya.

Oke, balik lagi ke topik awal yaitu tentang novel kedua Almira Bastari, saya rekomendasiin deh sebagai buku yang ringan dan sangat menghibur. Namun tata bahasanya gak serampangan dan juga yang paling penting banyak informasi umum yang menambah wawasan kita.

Sementara yang agak bikin saya kurang pas gitu, ada beberapa hal seperti dipaksain untuk masuk dalam inti cerita yang pada akhirnya kita ngeblank sendiri kayak 'itu apasih hubungannya, emang apa aja sih yang terjadi, kok bisa ya..'

Selamat membaca yaa, emm agak mirip sih sama nonton ftv hehehee. Tapi, masing-masing media punya apresiasi sendiri.


*)Source Image: Google.




September 18, 2019

Fiksi Kilat

by , in
Saya masih ingat ketika fiksi mini cukup populer menjadi topik di jagat twitter, dan sebetulnya 140 karakter di setiap cuitan inilah yang menjadi media untuk merangkai cerita-cerita yang sangat singkat, bernas, dan mencangkup unsur intrinsik penulisan sastra, seperti penokohan, latar, konflik, dan ceritanya memang benar-benar memiliki ending.

Tetapi, saya gak pernah berhasil membuat satu pun. Karena, menulis jenis fiksi kilat atau fiksi pendek betul-betul membutuhkan kepiawaian menggunakan kata-kata yang tepat. Sementara saya paling sulit untuk mempersingkat satu kalimat dengan hanya beberapa kata yang dianggap sudah mewakili pesan tulisan. 

For Sale: Baby shoes, never worn. Ernest Hemingway


Fiksi kilat ataupun juga fiksi mini, rupanya cukup menantang untuk dibaca dalam waktu singkat. Tidak heran jika salah satu dari jenis sastra ini mampu mempengaruhi generasi muda untuk tetap membaca, dan dalam beberapa tahun terakhir fiksi kilat menjadi pilihan para penulis muda Indonesia. Gayung bersambut, karya mereka pun berulang-ulang naik cetak.

Mereka juga sangat kreatif, buku fiksi menjadi lebih beragam; misalnya buku seni grafis yang dipadupadan dengan fiksi pendek. Seperti karya-karya Marchella FP. 

Ada beberapa hal mengenai fiksi kilat, yaitu: 
  • Ditulis hanya dengan 100-1000 kata saja.
  • Terfokus hanya pada tema dan alur cerita, dimana di dalamnya sudah mencakup prolog, konflik, dan epilog.
  • Tulisan fiksi kilat bukanlah sebuah kutipan namun terbangun dari satu cerita memiliki yang unsur kepenulisan sastra.
  • Sejarah singkat kemunculan fiksi kilat ini adalah di tahun 1920, oleh Ernest Hemingway. Namun sebenarnya jauh sebelum itu fiksi kilat sudah sangat dekat dengan dunia sastra.
Seperti yang tengah tumbuh di dunia literasi kita, dimana karya fiksi ditulis lebih ringan, dan menggunakan pemikiran yang lebih dekat dengan kehidupan dan permasalahan kita.

Hal ini membuat kita menjadi sangat berminat untuk memiliki buku dengan tampilan yang berbeda, misalnya dengan ilustrasi keren, cerita yang langsung to the point dan pesan yang mengena. Sehingga minat baca bisa terus meningkat meskipun di tengah gempuran berbagai kecanggihan teknologi.

Hm, mungkin lain kali saya akan membahasnya lebih panjang lagi, dengan referensi yang berbeda dan lebih spesifik. Topik yang sama tentang dunia kepenulisan dan buku, seperti sebelumnya saya menulis tentang Sastra atau Fiksi Populer? Atau barangkali teman-teman bisa share di 'comment' ya...  :)



*)Source Imange: Pinterest, *)Referensi: Google.

August 31, 2019

Review Buku: Rainbirds yang terkisah dari Clarissa Goenawan

by , in

Rainbirds yang ditulis oleh Clarissa Goenawan pernah meraih The Bath Novel Award 2015, sebuah prestasi yang membuat saya penasaran untuk membaca tulisannya.

Singkat cerita, saya mendapatkan buku ini pada tumpukan buku-buku di Gramedia. Tak sabar membacanya, tau-tau saya sudah menyelesaikannya dalam tiga hari nyambi ngantor dan mengurus rumah. Sebuah kejutan bagi saya yang biasanya paling tidak satu buku dalam dua minggu baru tamat,  untuk ketebalan buku seperti Rainbirds, hal ini tentu saja menarik.

Baiklah, kita masuk dalam pembahasan buku yang ditulis oleh Clarissa Goenawan, Rainbirds. Tulisannya cukup ringan mudah dipahami dengan pilihan-pilihan kata yang menarik namun terangkai apik. Alur cerita yang maju-mundur terasa sangat mengalir, kita tidak akan kesulitan untuk mengikutinya. 

Jika sudah pernah membaca karya-karya penulis Jepang, seperti Haruki Murakami misalnya, kita akan langsung mengerti dari mana Clarissa Goenawan mendapat inspirasi dan bagaimana ia membalut kisah dalam Rainbirds. Meskipun ia seorang penulis Indonesia, saya rasa Clarissa Goenawan cukup piawai menggambarkan pendekatannya pada kehidupan Jepang, saya larut di dalamnya. Walaupun saya akui, Rainbirds ditulis tidak cukup mendalam sehingga tidak meninggalkan kesan seperti setiap kali saya membaca buku yang menarik bagi saya.
Namun, Rainbirds sangat menghibur dengan segala yang sederhana dan mudah dicerna di dalamnya. Misal saja kota imajiner Akakawa yang menjadi setting utama dalam cerita, poin ini yang menarik bagi saya. Bagaimana Clarissa Goenawan membangun kota dan kehidupannya melalui imajinasi, sungguh suatu hal yang patut membuat saya merekomendasikan buku ini untuk dibaca.

Clarissa Goenawan membuat banyak konflik-konflik kecil untuk menuju satu konflik utama, awalnya saya kira ini adalah tentang bagaimana kita akan digiring menuju pembunuh sesungguhnya, sebuah kronologi atau barangkali trik thriller yang mencengangkan, tapi ternyata Rainbirds adalah sebuah novel yang bisa dikatakan masuk kategori novel psikologis. 

Dari semua rentetan kisah, sebenarnya hanya terpusat pada Ren Ishida dan pergolakan dalam dirinya sendiri. Rasa sayang yang tak ia pahami terhadap kakaknya yang terbunuh secara misterius dan mendatangkan rasa bersalah kemudian menghantuinya.

Yah, gak banyak yang bisa saya cerikan tentang novel Rainbirds. Silahkan baca ya, sesuatu yang berbeda dari penulis baru Indonesia.



*)Source Image: Pinterest, Google Image
August 14, 2019

Sastra atau Fiksi Populer?

by , in
Sebetulnya saya agak sedikit kebingungan memilah antara karya sastra dan fiksi populer. Tadinya saya hanya berpikir bahwa karya sastra memiliki diksi yang lebih rumit dengan mengangkat cerita yang lebih berat. 

Namun, ketika jalan-jalan ke toko buku saya menjadi tambah kebingungan.

Kenapa?

Karena buku-buku yang terpajang sudah beragam alirannya. Ada novel terjemahan, novel remaja, novel dewasa, novel metropop, puisi, fiksi religi, komik, fiksi dengan ilustrasi penuh, buku motivasi yang juga diikuti seni grafis, fiksi yang berbahasa Inggris dengan penulis Indonesia, dan lain sebagainya.

Apakah ini sebuah perkembangan? Ya, barangkali begitu.

Dulu semasa kuliah saya cukup mengenal chicklit dan teenlit, ceritanya ringan dengan bahasa yang mudah namun sangat menghibur. Sekarang mungkin berganti dengan novel metropop dan novel remaja.

Beranjak lebih dewasa, saya mulai diracuni oleh teman dengan bacaan yang lebih berat dan terkadang sulit saya pahami dan membuat saya bosan. Yaitu buku-buku yang bertema politik atau lainnya baik fiksi maupin non fiksi. Lama-kelamaan saya justru ketagihan mencari jenis fiksi serupa, saya menjadi lebih berpikir ketika harus memahami kata-kata yang tersusun, saya menemukan wawasan baru dan lebih luas.

Saya merasa dekat dengan peristiwa-peristiwa yang pernah terjadi pada suatu waktu, melalui fiksi para penulisnya mencoba menceritakan apa yang sebenarnya pernah terjadi dan membawa saya untuk lebih mendalami apa yang saya baca.
Sejak saat itu saya meninggalkan chicklit dan teenlit, ehm.

Mmh, kembali lagi pada apa yang ingin saya bahas disini, yaitu mana yang lebih menarik antara karya sastra atau fiksi populer? Nah, sebelum itu saya harusnya bisa dong membedakan keduanya.

Khususnya dalam bentuk tulisan, sastra meliputi karya-karya fiksi dan non fiksi. Namun dalam perkembangannya sastra pun mengalami periode dan melebur ke dalam beberapa bentuk. Prosa dan Puisi adalah bentuk yang familiar dalam karya populer.

Lalu, dimana posisi fiksi populer dalam dunia sastra?

  • Prosa Lama adalah prosa yang dibuat murni dengan bahasa Indonesia dan belum dipengaruhi oleh budaya Barat. 
  • Prosa Baru, justru kebalikannya. Prosa yang dikarang bebas tanpa aturan apapun dengan berbagai pengaruh budaya asing.
Jadi bisa dikatakan, fiksi populer merupakan bentuk Prosa Baru dalam sastra yang terdiri dari jenis-jenis novel  dan karangan lainnya yang berkembang pesat setelah era reformasi.

Dan beberapa tahun terakhir ini, menjamur karya prosa yang disandingkan dengan ilustrasi seni rupa. 

Kembali kepada fungsi sastra menurut saya, sastra memiliki sudut pandang sendiri dalam mencatat peristiwa dan waktu. Jadi, sekalipun perkembangan sastra serius kini melahirkan bentuk baru yaitu fiksi populer, haruslah tetap berpegang pada fungsi ini. Ada nilai yang berkembang dalam masyarakat, dan kita menangkapnya melalui pesan-pesan yang terkandung dalam setiap karya.

Yah, saya begitu mencintai 'kata-kata' yang mampu mendeskripsikan sesuatu, seakan-akan saya dapat melihat dan merasakan hanya dengan membaca rangkaian kata-kata. Hmm, mungkin ada literasi yang lebih tepat untuk hal ini? diskusiin yuk temen-temen...




*)source image: pinterest and canva. *)Referensi: wikipedia dan perenungan.




July 23, 2019

Nayya Nayyu di Suatu Pagi

by , in
Aku bisa mendengar angin yang begitu lirih, membawa aroma segala musim. Ada alunan nada yang lembut seperti menari bersama angin yang menerpa wajahku, dan helai rambutku pun ikut meliuk-liuk ditingkahi sinar mentari pagi.

Aku menengadah membayangkan berkas-berkas cahaya, tampak ribuan kilau permata menyilaukan. Mataku menyipit, dalam pandangan yang terbatas aku masih mencari yang ingin kulihat, namun entahlah, aku hanya mendengar suara angin serupa tetesan hujan yang jatuh.

Kemudian pelan mataku membuka kedua kelopaknya, sebetulnya, aku sangat lelah setelah semalam larut terjaga. Ah, tiba-tiba saja rasanya aku ingin terisak. Kenapa rasanya begitu kacau, aku tak sanggup membayangkan hal itu, kepalaku berdenyut bagai ditusuk-tusuk jarum.

"Nayyaaaa! udah pagi, bangun dong." 

Suara itu sebenarnya biasa saja, namun cukup membuatku terlonjak dari tempat tidur. Lalu diiringi dengan ketukan di pintu, kuhela nafas dan bergegas menarik daun pintu yang tak terkunci. Sosok ibu berdiri di sana, wajah teduhnya membuatku tertunduk, ada nyeri seketika menghantam ulu hatiku.

"Kamu lupa ya Nay? hari ini katanya mau jalan-jalan pagi sama ibu."

Aku diam saja, kepalaku masih tertunduk. Kerongkonganku tak sanggup mengeluarkan suara, tak ingin kupaksa karena hanya akan membuat tangisanku pecah. 

"Ya sudah, mandi dulu terus sarapan. Tadi Nayyu telepon, nanya kamu berapa lama di rumah ibu."

Aku hanya mengangguk, ibu tak memprotes dan ia pun berlalu. Lekas-lekas kututup kembali pintu kamar, air mata mulai menetes dalam isak yang coba kuredam. Tenggorokanku terasa sakit, kuraih segelas air putih di atas meja tulis, seteguk saja sudah membuatku seakan menelan pecahan batu yang tajam.

Kukira harapan itu akan kembali setelah pagi ini, namun akupun tak mengerti mengapa pedih itu menyayat lebih kejam ketika aku sadar akan tujuan kepulangan  kali ini. 

Suara angin terdengar begitu kasar dan cahaya terik mulai menyibak tirai tipis di jendela kamar. Mengapa pagi begitu cepat beranjak. 
"Nayya, aku gak sanggup menghadapi bapak dan ibu. Aku sudah mencoba segala cara untuk mengatasi ketakutan ini," Nayyu menatapku kosong, wajahnya tak lagi terawat beberapa bulan terakhir. Entah bagaimana ia melewati hari-hari berat dengan penuh kecemasan. 

Seperti hatinya yang hancur, dan perasaanku pun seolah menjadi lautan yang tenang namun arus deras berputar jauh di dalamnya. Ia tak punya pilihan untuk memilih satu-satunya pilihan, menyerah pada penderitaan dan kebingungan. Sementara aku di sisi lain, terluka teramat kelam, seharusnya ia tak begini jika saja aku benar-benar selalu ada sebagaimana seharusnya seorang kakak.

"Semua akan baik-baik saja Yyu..." 

Aku tak hanya mencoba menguatkannya, namun juga berusaha menegarkan hatiku. Kupejamkan kedua mataku, mencari-cari suara angin di sekitar kami, dan suara itu begitu samar justru membawaku pada ingatan suatu pagi lainnya.

Berganti-ganti bayangan wajah Nayyu dan detak jantung yang terekam dalam layar berkelebatan di depan mataku. Aku terperanjat dan nafasku memburu pelan, "aku yang akan pulang dan ngomongin semua ini sama bapak dan ibu."

Pandangan kami beradu dalam kehampaan, pagi itu tak terasa telah berganti terik. Bagaimanapun, hidup harus berlanjut dengan atau tanpa rencana. 
"Pak, bu... maafkan Nayyu, dan maafkan juga Nayya..." mataku berkaca-kaca, kukerahkan seluruh kekuatan untuk tak menangis, meskipun tak lagi jelas apa yang kurasakan. 

Melihat wajah bapak dan ibu tenggelam dalam kekecewaan yang tertahan, kegetiran hidup telah menempa mereka. Dan kali ini, mereka kembali pada kesedihan yang menganga, namun kulihat cinta mereka begitu jernih.
***




*)Source image by pinterest



July 21, 2019

Virginia Woolf dan Karya Novelnya

by , in
Bagi saya penulis-penulis klasik selalu membuat penasaran, terlebih pada penulis wanitanya. Nama dan karya mereka yang melampaui zaman, tak jarang menjadi pionir dan karya rujukan. 

Mereka terlahir dengan cemerlang di tengah keterbatasan bagi perempuan pada masa itu, mereka menulis dengan sepenuh hati dan jiwa mewakili suara-suara yang tak memiliki kesempatan yang sama untuk menyuarakannya.

Salah satu penulis hebat itu adalah Virginia Woolf, penulis berkebangsaan Inggris ini hidup antara tahun 1882-1941. Ia lahir di London dengan nama Adeline Virginia Stephen.

Karya-karyanya ketika itu menjadi yang paling inovatif dalam literatur abad ke-20. Woolf merupakan sosok yang sangat jenius dan menonjol pada masa itu.

Latar belakang keluarga menjadi pengaruh besar atas perkembangan Woolf, terutama dalam bidang sastra. Ayahnya, Sir Leslie Stephen adalah seorang penulis esai, editor, serta kritikus sastra dan ibunya, Julia Prinsep Duckworth Stephen adalah seorang model cantik yang terkenal. Keluarga ini menjadi salah satu keluarga terkemuka yang membawa mereka ke dalam lingkaran tertinggi kehidupan budaya Inggris, orang tua Woolf mengenal banyak tokoh intelektual dari era Victoria akhir seperti Thomas Hardy dan Henry James.

Sedangkan salah satu bibi buyut Woolf, Julia Margaret Cameron adalah seorang fotografer yang pernah membuat potret tokoh-tokoh terkenal seperti Charles Darwin dan Alfred Tennyson.

Perpustakaan Mammoth milik ayahnya menjadi tempat yang sangat penting bagi Woolf untuk memenuhi hasrat membaca. Ia menulis sebuah esai tentang ayahnya yang kerap melantunkan puisi ketika berjalan atau menaiki tangga. 

Pada masa mudanya, Woolf sangat aktif dalam setiap kegiatan kepenulisan terutama di bidang sastra. Ia mempelajari dan memeriksa buku-buku untuk Times Literary Supplement, menulis sejumlah artikel, kritik dan esai.

Woolf juga sempat mengajar bahasa inggris dan sejarah di Morley College London, meskipun ia tidak memiliki gelar sarjana.
Dengan reputasinya yang terus meningkat, Woolf menjadi penulis wanita yang paling sering menjadi subjek teori sastra, dimana teori-teorinya begitu menarik untuk dibahas. Tulisannya sendiri pun diminati semua kalangan dalam sastra modern.

Banyak komentar para penulis besar mengenai kepiawaian serta kepekaan Woolf dalam mengolah kata, betapa kritisnya pandangan Woolf terhadap setiap karya tulis yang ia tinjau.

Melalui tulisan-tulisannya Woolf disebut-sebut sebagai salah satu tokoh feminis, mungkin karena Woolf selalu berusaha meleburkan unsur-unsur sastra ke dalam materi fisik dan sensasi, melalui pandangannya terhadap segala hal yang bersinggungan dengan wanita. 

Banyak foto profil Woolf yang diambil dari arah tatapannya ke samping, dalam sorot matanya yang penuh intensitas tersebut menggambarkan dengan jelas tentang kedalamannya berpikir, baik dalam percakapan maupun tulisan. Yaitu, tidak hanya melihat subjek namun lebih jauh lagi menggali kesimpulan dan implikasi dalam berbagai hal.

Woolf mungkin saja menggunakan laut--begitu menonjol dalam fiksinya--sebagai metafora tentang kedalaman makna yang melebihi subjek yang tampak. Ia pun tampak tak begitu tertarik pada pembicaraan yang remeh-temeh, ia selalu tampak begitu serius. Bahkan semenjak ia kecil, Woolf tak pernah betah ketika bermain.

Karya Novel Virginia Woolf

Woolf memulai novel pertamanya "Melymbrosia" pada tahun 1907, namun kemudian diterbitkan pada tahun 1915 dengan judul "The Voyage Out."

 
Pada tahun 1919, karya Woolf yang berjudul "Nigth and Day" diterbitkan. 
Menyusul kemudian, "Jacob's Room" tahun 1922. Dalam novel ini ia menerapkan bentuk tulisan yang disebut dengan stream of consciousness atau aliran kesadaran, sebuah gagasan besar yang diperkenalkan oleh Woolf dalam dunia sastra. 

Tahun 1925, aliran tulisan consciousness Woolf berikutnya diterbitkan dalam bentuk novel "Dalloway." Ini adalah karya Woolf yang paling terkenal, menceritakan rangkaian peristiwa yang terjadi dalam satu hari. 

Tahun 1927, Woolf melalui tulisannya yang mengeksplorasi tentang konsep waktu dan perubahan yang berkaitan dengan kepribadian, dan menerbitkannya "To The Lighthouse."

"Orlando" ditulis dengan karakter yang terinspirasi dari seorang teman kecilnya, Vita Sackville-West. Dimana tokoh utama diceritakan bergerak melewati beberapa waktu dan kehidupan lalu mengubah jenis kelamin. Woolf menerbitkan novel ini pada tahun 1928.

Tahun 1931, terbit karya Woolf yang paling stylized, "The Waves."

Tahun 1937, dalam buku ini "The Year" ia mengadopsi struktur tulisan yang lebih tradisional dan mengurangi struktur-struktur internal seperti pada kebanyakan karya-karya fiksi sebelumnya.

Tahun 1941, "Between The Acts" diterbitkan tak lama setelah kematiannya pada usia 59 tahun.

Virginia Woolf dan suaminya Leonard Woolf, mendirikan sebuah percetakan dan penerbit yang banyak menerbitkan novel Woolf. Mereka pun tercatat sebagai anggota aktif Bloomsbury yaitu suatu perkumpulan intelektual Inggris, yang termasuk penulis, seniman, dan kritikus.

Woolf menyebut dirinya 'gila' dan seringkali mendengar suara-suara halusinasi, kondisi mentalnya terganggu berawal dari kehilangan ibunya dan beberapa peristiwa lain. Kelelahan dan depresi membuat ia menarik diri dari kehidupan sosial dan berakhir dengan menenggelamkan diri di sungai Ouse.

Menulis adalah terapi bagi Woolf, dimana ia mencoba memahami dan mengatasi kondisi mentalnya. Ia mengatakan bahwa menulis adalah kesenangan terkuat untuk menghadapi hidup. Pada saat menulis, ia tampak bersemangat dan stabil. 
Sebetulnya banyak yang ingin saya tuliskan tentang Virginia Woolf, dan ini hanya sebagian kecil mengenai dirinya. Banyak hal yang menarik tentang penulis klasik ini, membahas Stream of Consciousness misalnya, mmh... 

"Kata-kata seperti halnya kita, untuk dapat hidup dalam ketenangannya, membutuhkan wilayah pribadi mereka. Tak diragukan mereka menginginkan kita untuk berpikir, mereka menginginkan kita untuk merasa, sebelum kita menggunakannya." Virginia Woolf







Referensi: www.literaryladiesguide.com, galeribukujakarta.com, wikipedia.&Source Image: Ria Mega Sari, Pinterest, Canva, Google










July 13, 2019

10 Tip Menyelesaikan Sebuah Novel

by , in
Menulis adalah kegiatan kreatif untuk menghasilkan karya-DEE

Salah satu cara paling simpel menentukan ide cerita adalah dengan menuliskan ide itu sebagai kejadian dalam satu kalimat-Sitta Karina.

Ide tak ditunggu dan tak dicari, tapi disusun-Agus Noor




Saya agak kebingungan nih, gimana menuangkan ide-ide yang berkelebatan di benak saya untuk dijadikan sebuah novel yang selesai. Se-le-sai. 

Dee Lestari sendiri memiliki suatu formula, yaitu untuk menyelesaikan tulisan, sebagai seorang penulis harus memiliki sensitivitas dalam mengumpulkan ide, menangkap ide, dan mampu melakukan riset. 

Ini nih beberapa tip yang saya rangkum dari beberapa penulis Indonesia, bagaimana menggarap ide menjadi sebuah tulisan utuh yang terstruktur;
  1. Memilih ide yang paling kuat. Ide yang dapat dikembangkan hingga selesai dalam sebuah tulisan. Membangun ide ke dalam bentuk tulisan awal-tengah-akhir, menjadi sebuah premis.
  2. Memiliki kemampuan visual dramatik. Bagaimana seorang penulis mampu membayangkan hal yang sederhana menjadi luar biasa, sisi dramatik dalam setiap kejadian dan tindakan yang terjadi.
  3. Riset. Informasi yang dapat membuat ide-ide seorang penulis tampak nyata dan hidup, yang dapat digambarkan dimana pembaca pun seolah masuk dalam cerita yang dituliskan. Baik dalam penggambaran latar tempat dan waktu, maupun karakter-karakter tokoh.
  4. Penokohan. Merupakan titik tentu keberhasilan sebuah tulisan fiksi, dan tokoh pun memiliki tugas utama yaitu menyampaikan pesan sang penulis kepada pembaca. Jadi, penggambaran tokoh haruslah dekat dan terjangkau oleh indera pembaca.
  5. Identifikasi permasalahan penitng yang dialami oleh tokoh utama. Penulis harus memahami persoalan yang signifikan dan mengganggu kehidupan si tokoh utama.
  6. Gali latar belakang kehidupan si tokoh utama. Hal-hal yang pernah terjadi pada tokoh utama, yang mempengaruhi dalam pengambilan keputusan, pola pikir, dan sudut pandang. Tentunya hal ini tidak lepas dari latar belakang si tokoh utama.
  7. Gabungkan masalah utama dan latar belakang diatas. Dari penggabungan ini, maka akan muncul konflik. Dan konflik diibaratkan jantung sebuah cerita. Konflik ditandai dengan munculnya pertentangan antara tokoh dengan lingkungan atau masalah yang terjadi.
  8. Kuasai awal cerita dengan tokoh protagonis cerita. Hal ini akan membuat kesan yang kuat tentang siapa tokoh utama yang akan memerankan cerita hingga selesai, buatlah perkenalan dalam 300 kata.
  9. Membangun latar waktu dan tempat. Ini merupakan hal yang sangat penting, dimana kita menetapkannya dari awal dan dengan konsisten, bagaimana cerita berlangsung pada suatu ketika dan disuatu tempat. Kendalikan pembaca dengan latar yang kita ciptakan, misalnya dengan penanda-penanda latar, suatu kejadian atau ciri yang mendukung. Dan dalam hal ini penulis membutuhkan riset yang mendalam.
  10. Susunlah draft cerita. Setelah ide matang dan digodok dengan tip-tip diatas, maka sudah saatnya menyusun draft cerita yang akan ditulis, sehingga penulis akan lebih terbantu dengan memilki acuan dan dapat menulis dengan lebih rapi untuk setiap babnya. 
Namun seringkali kita merasa, menulis fiksi adalah pekerjaan yang bebas, seharusnya tak memerlukan draft baku yang justru akan membatasi imajinasi. 

Ya, itu betul. Imajinasi manusia sungguh tak terbatas dan karena itulah kita perlu membuat batas, yang sebenarnya hanyalah batasan maya. Penulis tentu boleh melanggarnya ketika sudah menemukan navigasi yang jelas untuk luapan imajinasi tersebut. 

Jadi, jangan merasa semua aturan dalam kepenulisan baik fiksi maupun non fiksi akan membatasi kreatifitas kita dalam berkarya. 

Seperti seorang pelaut di lautan lepas, ia tentu memerlukan panduan arah untuk mengarungi lautan tersebut. Begitupun imajinasi, kita butuh navigasi, ya navigasi. Tentu saja kita masih akan menemukan kejutan-kejutan dalam setiap detil perjalanan kreatifitas yang kita kerjakan.

Seperti saya, ide begitu banyak menari-nari di benak saya. Namun, saya butuh trik untuk menangkap salah satunya dan bagaimana mengarahkan ide tersebut lebih jauh lagi menjadi karya yang se-le-sai.






Referensi: Dee Lestari, Sitta Karina, ellenconny dan Agus Noor.&Source Image: Ria Mega Sari