THOUGHT&BOOK

September 18, 2019

Fiksi Kilat

by , in
Saya masih ingat ketika fiksi mini cukup populer menjadi topik di jagat twitter, dan sebetulnya 140 karakter di setiap cuitan inilah yang menjadi media untuk merangkai cerita-cerita yang sangat singkat, bernas, dan mencangkup unsur intrinsik penulisan sastra, seperti penokohan, latar, konflik, dan ceritanya memang benar-benar memiliki ending.

Tetapi, saya gak pernah berhasil membuat satu pun. Karena, menulis jenis fiksi kilat atau fiksi pendek betul-betul membutuhkan kepiawaian menggunakan kata-kata yang tepat. Sementara saya paling sulit untuk mempersingkat satu kalimat dengan hanya beberapa kata yang dianggap sudah mewakili pesan tulisan. 

For Sale: Baby shoes, never worn. Ernest Hemingway


Fiksi kilat ataupun juga fiksi mini, rupanya cukup menantang untuk dibaca dalam waktu singkat. Tidak heran jika salah satu dari jenis sastra ini mampu mempengaruhi generasi muda untuk tetap membaca, dan dalam beberapa tahun terakhir fiksi kilat menjadi pilihan para penulis muda Indonesia. Gayung bersambut, karya mereka pun berulang-ulang naik cetak.

Mereka juga sangat kreatif, buku fiksi menjadi lebih beragam; misalnya buku seni grafis yang dipadupadan dengan fiksi pendek. Seperti karya-karya Marchella FP. 

Ada beberapa hal mengenai fiksi kilat, yaitu: 
  • Ditulis hanya dengan 100-1000 kata saja.
  • Terfokus hanya pada tema dan alur cerita, dimana di dalamnya sudah mencakup prolog, konflik, dan epilog.
  • Tulisan fiksi kilat bukanlah sebuah kutipan namun terbangun dari satu cerita memiliki yang unsur kepenulisan sastra.
  • Sejarah singkat kemunculan fiksi kilat ini adalah di tahun 1920, oleh Ernest Hemingway. Namun sebenarnya jauh sebelum itu fiksi kilat sudah sangat dekat dengan dunia sastra.
Seperti yang tengah tumbuh di dunia literasi kita, dimana karya fiksi ditulis lebih ringan, dan menggunakan pemikiran yang lebih dekat dengan kehidupan dan permasalahan kita.

Hal ini membuat kita menjadi sangat berminat untuk memiliki buku dengan tampilan yang berbeda, misalnya dengan ilustrasi keren, cerita yang langsung to the point dan pesan yang mengena. Sehingga minat baca bisa terus meningkat meskipun di tengah gempuran berbagai kecanggihan teknologi.

Hm, mungkin lain kali saya akan membahasnya lebih panjang lagi, dengan referensi yang berbeda dan lebih spesifik. Topik yang sama tentang dunia kepenulisan dan buku, seperti sebelumnya saya menulis tentang Sastra atau Fiksi Populer? Atau barangkali teman-teman bisa share di 'comment' ya...  :)



*)Source Imange: Pinterest, *)Referensi: Google.

August 31, 2019

Review Buku: Rainbirds yang terkisah dari Clarissa Goenawan

by , in

Rainbirds yang ditulis oleh Clarissa Goenawan pernah meraih The Bath Novel Award 2015, sebuah prestasi yang membuat saya penasaran untuk membaca tulisannya.

Singkat cerita, saya mendapatkan buku ini pada tumpukan buku-buku di Gramedia. Tak sabar membacanya, tau-tau saya sudah menyelesaikannya dalam tiga hari nyambi ngantor dan mengurus rumah. Sebuah kejutan bagi saya yang biasanya paling tidak satu buku dalam dua minggu baru tamat,  untuk ketebalan buku seperti Rainbirds, hal ini tentu saja menarik.

Baiklah, kita masuk dalam pembahasan buku yang ditulis oleh Clarissa Goenawan, Rainbirds. Tulisannya cukup ringan mudah dipahami dengan pilihan-pilihan kata yang menarik namun terangkai apik. Alur cerita yang maju-mundur terasa sangat mengalir, kita tidak akan kesulitan untuk mengikutinya. 

Jika sudah pernah membaca karya-karya penulis Jepang, seperti Haruki Murakami misalnya, kita akan langsung mengerti dari mana Clarissa Goenawan mendapat inspirasi dan bagaimana ia membalut kisah dalam Rainbirds. Meskipun ia seorang penulis Indonesia, saya rasa Clarissa Goenawan cukup piawai menggambarkan pendekatannya pada kehidupan Jepang, saya larut di dalamnya. Walaupun saya akui, Rainbirds ditulis tidak cukup mendalam sehingga tidak meninggalkan kesan seperti setiap kali saya membaca buku yang menarik bagi saya.
Namun, Rainbirds sangat menghibur dengan segala yang sederhana dan mudah dicerna di dalamnya. Misal saja kota imajiner Akakawa yang menjadi setting utama dalam cerita, poin ini yang menarik bagi saya. Bagaimana Clarissa Goenawan membangun kota dan kehidupannya melalui imajinasi, sungguh suatu hal yang patut membuat saya merekomendasikan buku ini untuk dibaca.

Clarissa Goenawan membuat banyak konflik-konflik kecil untuk menuju satu konflik utama, awalnya saya kira ini adalah tentang bagaimana kita akan digiring menuju pembunuh sesungguhnya, sebuah kronologi atau barangkali trik thriller yang mencengangkan, tapi ternyata Rainbirds adalah sebuah novel yang bisa dikatakan masuk kategori novel psikologis. 

Dari semua rentetan kisah, sebenarnya hanya terpusat pada Ren Ishida dan pergolakan dalam dirinya sendiri. Rasa sayang yang tak ia pahami terhadap kakaknya yang terbunuh secara misterius dan mendatangkan rasa bersalah kemudian menghantuinya.

Yah, gak banyak yang bisa saya cerikan tentang novel Rainbirds. Silahkan baca ya, sesuatu yang berbeda dari penulis baru Indonesia.



*)Source Image: Pinterest, Google Image
August 14, 2019

Sastra atau Fiksi Populer?

by , in
Sebetulnya saya agak sedikit kebingungan memilah antara karya sastra dan fiksi populer. Tadinya saya hanya berpikir bahwa karya sastra memiliki diksi yang lebih rumit dengan mengangkat cerita yang lebih berat. 

Namun, ketika jalan-jalan ke toko buku saya menjadi tambah kebingungan.

Kenapa?

Karena buku-buku yang terpajang sudah beragam alirannya. Ada novel terjemahan, novel remaja, novel dewasa, novel metropop, puisi, fiksi religi, komik, fiksi dengan ilustrasi penuh, buku motivasi yang juga diikuti seni grafis, fiksi yang berbahasa Inggris dengan penulis Indonesia, dan lain sebagainya.

Apakah ini sebuah perkembangan? Ya, barangkali begitu.

Dulu semasa kuliah saya cukup mengenal chicklit dan teenlit, ceritanya ringan dengan bahasa yang mudah namun sangat menghibur. Sekarang mungkin berganti dengan novel metropop dan novel remaja.

Beranjak lebih dewasa, saya mulai diracuni oleh teman dengan bacaan yang lebih berat dan terkadang sulit saya pahami dan membuat saya bosan. Yaitu buku-buku yang bertema politik atau lainnya baik fiksi maupin non fiksi. Lama-kelamaan saya justru ketagihan mencari jenis fiksi serupa, saya menjadi lebih berpikir ketika harus memahami kata-kata yang tersusun, saya menemukan wawasan baru dan lebih luas.

Saya merasa dekat dengan peristiwa-peristiwa yang pernah terjadi pada suatu waktu, melalui fiksi para penulisnya mencoba menceritakan apa yang sebenarnya pernah terjadi dan membawa saya untuk lebih mendalami apa yang saya baca.
Sejak saat itu saya meninggalkan chicklit dan teenlit, ehm.

Mmh, kembali lagi pada apa yang ingin saya bahas disini, yaitu mana yang lebih menarik antara karya sastra atau fiksi populer? Nah, sebelum itu saya harusnya bisa dong membedakan keduanya.

Khususnya dalam bentuk tulisan, sastra meliputi karya-karya fiksi dan non fiksi. Namun dalam perkembangannya sastra pun mengalami periode dan melebur ke dalam beberapa bentuk. Prosa dan Puisi adalah bentuk yang familiar dalam karya populer.

Lalu, dimana posisi fiksi populer dalam dunia sastra?

  • Prosa Lama adalah prosa yang dibuat murni dengan bahasa Indonesia dan belum dipengaruhi oleh budaya Barat. 
  • Prosa Baru, justru kebalikannya. Prosa yang dikarang bebas tanpa aturan apapun dengan berbagai pengaruh budaya asing.
Jadi bisa dikatakan, fiksi populer merupakan bentuk Prosa Baru dalam sastra yang terdiri dari jenis-jenis novel  dan karangan lainnya yang berkembang pesat setelah era reformasi.

Dan beberapa tahun terakhir ini, menjamur karya prosa yang disandingkan dengan ilustrasi seni rupa. 

Kembali kepada fungsi sastra menurut saya, sastra memiliki sudut pandang sendiri dalam mencatat peristiwa dan waktu. Jadi, sekalipun perkembangan sastra serius kini melahirkan bentuk baru yaitu fiksi populer, haruslah tetap berpegang pada fungsi ini. Ada nilai yang berkembang dalam masyarakat, dan kita menangkapnya melalui pesan-pesan yang terkandung dalam setiap karya.

Yah, saya begitu mencintai 'kata-kata' yang mampu mendeskripsikan sesuatu, seakan-akan saya dapat melihat dan merasakan hanya dengan membaca rangkaian kata-kata. Hmm, mungkin ada literasi yang lebih tepat untuk hal ini? diskusiin yuk temen-temen...




*)source image: pinterest and canva. *)Referensi: wikipedia dan perenungan.




July 23, 2019

Nayya Nayyu di Suatu Pagi

by , in
Aku bisa mendengar angin yang begitu lirih, membawa aroma segala musim. Ada alunan nada yang lembut seperti menari bersama angin yang menerpa wajahku, dan helai rambutku pun ikut meliuk-liuk ditingkahi sinar mentari pagi.

Aku menengadah membayangkan berkas-berkas cahaya, tampak ribuan kilau permata menyilaukan. Mataku menyipit, dalam pandangan yang terbatas aku masih mencari yang ingin kulihat, namun entahlah, aku hanya mendengar suara angin serupa tetesan hujan yang jatuh.

Kemudian pelan mataku membuka kedua kelopaknya, sebetulnya, aku sangat lelah setelah semalam larut terjaga. Ah, tiba-tiba saja rasanya aku ingin terisak. Kenapa rasanya begitu kacau, aku tak sanggup membayangkan hal itu, kepalaku berdenyut bagai ditusuk-tusuk jarum.

"Nayyaaaa! udah pagi, bangun dong." 

Suara itu sebenarnya biasa saja, namun cukup membuatku terlonjak dari tempat tidur. Lalu diiringi dengan ketukan di pintu, kuhela nafas dan bergegas menarik daun pintu yang tak terkunci. Sosok ibu berdiri di sana, wajah teduhnya membuatku tertunduk, ada nyeri seketika menghantam ulu hatiku.

"Kamu lupa ya Nay? hari ini katanya mau jalan-jalan pagi sama ibu."

Aku diam saja, kepalaku masih tertunduk. Kerongkonganku tak sanggup mengeluarkan suara, tak ingin kupaksa karena hanya akan membuat tangisanku pecah. 

"Ya sudah, mandi dulu terus sarapan. Tadi Nayyu telepon, nanya kamu berapa lama di rumah ibu."

Aku hanya mengangguk, ibu tak memprotes dan ia pun berlalu. Lekas-lekas kututup kembali pintu kamar, air mata mulai menetes dalam isak yang coba kuredam. Tenggorokanku terasa sakit, kuraih segelas air putih di atas meja tulis, seteguk saja sudah membuatku seakan menelan pecahan batu yang tajam.

Kukira harapan itu akan kembali setelah pagi ini, namun akupun tak mengerti mengapa pedih itu menyayat lebih kejam ketika aku sadar akan tujuan kepulangan  kali ini. 

Suara angin terdengar begitu kasar dan cahaya terik mulai menyibak tirai tipis di jendela kamar. Mengapa pagi begitu cepat beranjak. 
"Nayya, aku gak sanggup menghadapi bapak dan ibu. Aku sudah mencoba segala cara untuk mengatasi ketakutan ini," Nayyu menatapku kosong, wajahnya tak lagi terawat beberapa bulan terakhir. Entah bagaimana ia melewati hari-hari berat dengan penuh kecemasan. 

Seperti hatinya yang hancur, dan perasaanku pun seolah menjadi lautan yang tenang namun arus deras berputar jauh di dalamnya. Ia tak punya pilihan untuk memilih satu-satunya pilihan, menyerah pada penderitaan dan kebingungan. Sementara aku di sisi lain, terluka teramat kelam, seharusnya ia tak begini jika saja aku benar-benar selalu ada sebagaimana seharusnya seorang kakak.

"Semua akan baik-baik saja Yyu..." 

Aku tak hanya mencoba menguatkannya, namun juga berusaha menegarkan hatiku. Kupejamkan kedua mataku, mencari-cari suara angin di sekitar kami, dan suara itu begitu samar justru membawaku pada ingatan suatu pagi lainnya.

Berganti-ganti bayangan wajah Nayyu dan detak jantung yang terekam dalam layar berkelebatan di depan mataku. Aku terperanjat dan nafasku memburu pelan, "aku yang akan pulang dan ngomongin semua ini sama bapak dan ibu."

Pandangan kami beradu dalam kehampaan, pagi itu tak terasa telah berganti terik. Bagaimanapun, hidup harus berlanjut dengan atau tanpa rencana. 
"Pak, bu... maafkan Nayyu, dan maafkan juga Nayya..." mataku berkaca-kaca, kukerahkan seluruh kekuatan untuk tak menangis, meskipun tak lagi jelas apa yang kurasakan. 

Melihat wajah bapak dan ibu tenggelam dalam kekecewaan yang tertahan, kegetiran hidup telah menempa mereka. Dan kali ini, mereka kembali pada kesedihan yang menganga, namun kulihat cinta mereka begitu jernih.
***




*)Source image by pinterest



July 21, 2019

Virginia Woolf dan Karya Novelnya

by , in
Bagi saya penulis-penulis klasik selalu membuat penasaran, terlebih pada penulis wanitanya. Nama dan karya mereka yang melampaui zaman, tak jarang menjadi pionir dan karya rujukan. 

Mereka terlahir dengan cemerlang di tengah keterbatasan bagi perempuan pada masa itu, mereka menulis dengan sepenuh hati dan jiwa mewakili suara-suara yang tak memiliki kesempatan yang sama untuk menyuarakannya.

Salah satu penulis hebat itu adalah Virginia Woolf, penulis berkebangsaan Inggris ini hidup antara tahun 1882-1941. Ia lahir di London dengan nama Adeline Virginia Stephen.

Karya-karyanya ketika itu menjadi yang paling inovatif dalam literatur abad ke-20. Woolf merupakan sosok yang sangat jenius dan menonjol pada masa itu.

Latar belakang keluarga menjadi pengaruh besar atas perkembangan Woolf, terutama dalam bidang sastra. Ayahnya, Sir Leslie Stephen adalah seorang penulis esai, editor, serta kritikus sastra dan ibunya, Julia Prinsep Duckworth Stephen adalah seorang model cantik yang terkenal. Keluarga ini menjadi salah satu keluarga terkemuka yang membawa mereka ke dalam lingkaran tertinggi kehidupan budaya Inggris, orang tua Woolf mengenal banyak tokoh intelektual dari era Victoria akhir seperti Thomas Hardy dan Henry James.

Sedangkan salah satu bibi buyut Woolf, Julia Margaret Cameron adalah seorang fotografer yang pernah membuat potret tokoh-tokoh terkenal seperti Charles Darwin dan Alfred Tennyson.

Perpustakaan Mammoth milik ayahnya menjadi tempat yang sangat penting bagi Woolf untuk memenuhi hasrat membaca. Ia menulis sebuah esai tentang ayahnya yang kerap melantunkan puisi ketika berjalan atau menaiki tangga. 

Pada masa mudanya, Woolf sangat aktif dalam setiap kegiatan kepenulisan terutama di bidang sastra. Ia mempelajari dan memeriksa buku-buku untuk Times Literary Supplement, menulis sejumlah artikel, kritik dan esai.

Woolf juga sempat mengajar bahasa inggris dan sejarah di Morley College London, meskipun ia tidak memiliki gelar sarjana.
Dengan reputasinya yang terus meningkat, Woolf menjadi penulis wanita yang paling sering menjadi subjek teori sastra, dimana teori-teorinya begitu menarik untuk dibahas. Tulisannya sendiri pun diminati semua kalangan dalam sastra modern.

Banyak komentar para penulis besar mengenai kepiawaian serta kepekaan Woolf dalam mengolah kata, betapa kritisnya pandangan Woolf terhadap setiap karya tulis yang ia tinjau.

Melalui tulisan-tulisannya Woolf disebut-sebut sebagai salah satu tokoh feminis, mungkin karena Woolf selalu berusaha meleburkan unsur-unsur sastra ke dalam materi fisik dan sensasi, melalui pandangannya terhadap segala hal yang bersinggungan dengan wanita. 

Banyak foto profil Woolf yang diambil dari arah tatapannya ke samping, dalam sorot matanya yang penuh intensitas tersebut menggambarkan dengan jelas tentang kedalamannya berpikir, baik dalam percakapan maupun tulisan. Yaitu, tidak hanya melihat subjek namun lebih jauh lagi menggali kesimpulan dan implikasi dalam berbagai hal.

Woolf mungkin saja menggunakan laut--begitu menonjol dalam fiksinya--sebagai metafora tentang kedalaman makna yang melebihi subjek yang tampak. Ia pun tampak tak begitu tertarik pada pembicaraan yang remeh-temeh, ia selalu tampak begitu serius. Bahkan semenjak ia kecil, Woolf tak pernah betah ketika bermain.

Karya Novel Virginia Woolf

Woolf memulai novel pertamanya "Melymbrosia" pada tahun 1907, namun kemudian diterbitkan pada tahun 1915 dengan judul "The Voyage Out."

 
Pada tahun 1919, karya Woolf yang berjudul "Nigth and Day" diterbitkan. 
Menyusul kemudian, "Jacob's Room" tahun 1922. Dalam novel ini ia menerapkan bentuk tulisan yang disebut dengan stream of consciousness atau aliran kesadaran, sebuah gagasan besar yang diperkenalkan oleh Woolf dalam dunia sastra. 

Tahun 1925, aliran tulisan consciousness Woolf berikutnya diterbitkan dalam bentuk novel "Dalloway." Ini adalah karya Woolf yang paling terkenal, menceritakan rangkaian peristiwa yang terjadi dalam satu hari. 

Tahun 1927, Woolf melalui tulisannya yang mengeksplorasi tentang konsep waktu dan perubahan yang berkaitan dengan kepribadian, dan menerbitkannya "To The Lighthouse."

"Orlando" ditulis dengan karakter yang terinspirasi dari seorang teman kecilnya, Vita Sackville-West. Dimana tokoh utama diceritakan bergerak melewati beberapa waktu dan kehidupan lalu mengubah jenis kelamin. Woolf menerbitkan novel ini pada tahun 1928.

Tahun 1931, terbit karya Woolf yang paling stylized, "The Waves."

Tahun 1937, dalam buku ini "The Year" ia mengadopsi struktur tulisan yang lebih tradisional dan mengurangi struktur-struktur internal seperti pada kebanyakan karya-karya fiksi sebelumnya.

Tahun 1941, "Between The Acts" diterbitkan tak lama setelah kematiannya pada usia 59 tahun.

Virginia Woolf dan suaminya Leonard Woolf, mendirikan sebuah percetakan dan penerbit yang banyak menerbitkan novel Woolf. Mereka pun tercatat sebagai anggota aktif Bloomsbury yaitu suatu perkumpulan intelektual Inggris, yang termasuk penulis, seniman, dan kritikus.

Woolf menyebut dirinya 'gila' dan seringkali mendengar suara-suara halusinasi, kondisi mentalnya terganggu berawal dari kehilangan ibunya dan beberapa peristiwa lain. Kelelahan dan depresi membuat ia menarik diri dari kehidupan sosial dan berakhir dengan menenggelamkan diri di sungai Ouse.

Menulis adalah terapi bagi Woolf, dimana ia mencoba memahami dan mengatasi kondisi mentalnya. Ia mengatakan bahwa menulis adalah kesenangan terkuat untuk menghadapi hidup. Pada saat menulis, ia tampak bersemangat dan stabil. 
Sebetulnya banyak yang ingin saya tuliskan tentang Virginia Woolf, dan ini hanya sebagian kecil mengenai dirinya. Banyak hal yang menarik tentang penulis klasik ini, membahas Stream of Consciousness misalnya, mmh... 

"Kata-kata seperti halnya kita, untuk dapat hidup dalam ketenangannya, membutuhkan wilayah pribadi mereka. Tak diragukan mereka menginginkan kita untuk berpikir, mereka menginginkan kita untuk merasa, sebelum kita menggunakannya." Virginia Woolf







Referensi: www.literaryladiesguide.com, galeribukujakarta.com, wikipedia.&Source Image: Ria Mega Sari, Pinterest, Canva, Google










July 13, 2019

10 Tip Menyelesaikan Sebuah Novel

by , in
Menulis adalah kegiatan kreatif untuk menghasilkan karya-DEE

Salah satu cara paling simpel menentukan ide cerita adalah dengan menuliskan ide itu sebagai kejadian dalam satu kalimat-Sitta Karina.

Ide tak ditunggu dan tak dicari, tapi disusun-Agus Noor




Saya agak kebingungan nih, gimana menuangkan ide-ide yang berkelebatan di benak saya untuk dijadikan sebuah novel yang selesai. Se-le-sai. 

Dee Lestari sendiri memiliki suatu formula, yaitu untuk menyelesaikan tulisan, sebagai seorang penulis harus memiliki sensitivitas dalam mengumpulkan ide, menangkap ide, dan mampu melakukan riset. 

Ini nih beberapa tip yang saya rangkum dari beberapa penulis Indonesia, bagaimana menggarap ide menjadi sebuah tulisan utuh yang terstruktur;
  1. Memilih ide yang paling kuat. Ide yang dapat dikembangkan hingga selesai dalam sebuah tulisan. Membangun ide ke dalam bentuk tulisan awal-tengah-akhir, menjadi sebuah premis.
  2. Memiliki kemampuan visual dramatik. Bagaimana seorang penulis mampu membayangkan hal yang sederhana menjadi luar biasa, sisi dramatik dalam setiap kejadian dan tindakan yang terjadi.
  3. Riset. Informasi yang dapat membuat ide-ide seorang penulis tampak nyata dan hidup, yang dapat digambarkan dimana pembaca pun seolah masuk dalam cerita yang dituliskan. Baik dalam penggambaran latar tempat dan waktu, maupun karakter-karakter tokoh.
  4. Penokohan. Merupakan titik tentu keberhasilan sebuah tulisan fiksi, dan tokoh pun memiliki tugas utama yaitu menyampaikan pesan sang penulis kepada pembaca. Jadi, penggambaran tokoh haruslah dekat dan terjangkau oleh indera pembaca.
  5. Identifikasi permasalahan penitng yang dialami oleh tokoh utama. Penulis harus memahami persoalan yang signifikan dan mengganggu kehidupan si tokoh utama.
  6. Gali latar belakang kehidupan si tokoh utama. Hal-hal yang pernah terjadi pada tokoh utama, yang mempengaruhi dalam pengambilan keputusan, pola pikir, dan sudut pandang. Tentunya hal ini tidak lepas dari latar belakang si tokoh utama.
  7. Gabungkan masalah utama dan latar belakang diatas. Dari penggabungan ini, maka akan muncul konflik. Dan konflik diibaratkan jantung sebuah cerita. Konflik ditandai dengan munculnya pertentangan antara tokoh dengan lingkungan atau masalah yang terjadi.
  8. Kuasai awal cerita dengan tokoh protagonis cerita. Hal ini akan membuat kesan yang kuat tentang siapa tokoh utama yang akan memerankan cerita hingga selesai, buatlah perkenalan dalam 300 kata.
  9. Membangun latar waktu dan tempat. Ini merupakan hal yang sangat penting, dimana kita menetapkannya dari awal dan dengan konsisten, bagaimana cerita berlangsung pada suatu ketika dan disuatu tempat. Kendalikan pembaca dengan latar yang kita ciptakan, misalnya dengan penanda-penanda latar, suatu kejadian atau ciri yang mendukung. Dan dalam hal ini penulis membutuhkan riset yang mendalam.
  10. Susunlah draft cerita. Setelah ide matang dan digodok dengan tip-tip diatas, maka sudah saatnya menyusun draft cerita yang akan ditulis, sehingga penulis akan lebih terbantu dengan memilki acuan dan dapat menulis dengan lebih rapi untuk setiap babnya. 
Namun seringkali kita merasa, menulis fiksi adalah pekerjaan yang bebas, seharusnya tak memerlukan draft baku yang justru akan membatasi imajinasi. 

Ya, itu betul. Imajinasi manusia sungguh tak terbatas dan karena itulah kita perlu membuat batas, yang sebenarnya hanyalah batasan maya. Penulis tentu boleh melanggarnya ketika sudah menemukan navigasi yang jelas untuk luapan imajinasi tersebut. 

Jadi, jangan merasa semua aturan dalam kepenulisan baik fiksi maupun non fiksi akan membatasi kreatifitas kita dalam berkarya. 

Seperti seorang pelaut di lautan lepas, ia tentu memerlukan panduan arah untuk mengarungi lautan tersebut. Begitupun imajinasi, kita butuh navigasi, ya navigasi. Tentu saja kita masih akan menemukan kejutan-kejutan dalam setiap detil perjalanan kreatifitas yang kita kerjakan.

Seperti saya, ide begitu banyak menari-nari di benak saya. Namun, saya butuh trik untuk menangkap salah satunya dan bagaimana mengarahkan ide tersebut lebih jauh lagi menjadi karya yang se-le-sai.






Referensi: Dee Lestari, Sitta Karina, ellenconny dan Agus Noor.&Source Image: Ria Mega Sari







July 13, 2019

Review Buku: Tetsuko Kuroyanagi dan Totto-chan Gadis Cilik di Jendela

by , in
Kisah yang berlatar ketika perang dunia 2 sedang berkobar, jauh di sudut Tokyo ada kehidupan anak-anak yang sangat sederhana dan menyenangkan. Bagaimana mereka belajar bersama Mr. Kobayashi, dengan kurikulum sekolah yang berbeda dari kebanyakan sekolah konvensional, di balik jendela-jendela kelas bekas gerbong kereta.

Hingga Totto-chan memulai dan melalui semua hari-harinya disana, di sekolah Tomoe Gakuen. Tomoe sendiri memiliki arti khusus, yaitu merupakan simbol kuno yang berbentuk koma, dua buah koma berwarna hitam dan putih yang menyatu membentuk sebuah lingkaran. Simbol suatu keseimbangan.

Totto-chan adalah anak yang menggemaskan dengan rasa ingin tahu yang berbeda dari kebanyakan anak seusianya. Mengingatkan saya pada keponakan, cerdas dan lincah. Namun, karena banyak ulah Totto-chan yang unik dan sulit dipahami, ia dikeluarkan dari sekolah dasar. Sekolah dasar lho... dan itu baru kelas satu. Kebayang kan betapa repotnya para guru menanganinya.

Mama akhirnya menemukan sekolah yang cocok untuk Totto-chan tanpa memberi tahu alasan kenapa ia harus pindah ke sekolah yang baru. Karena dampaknya mungkin saja akan membawa trauma buruk untuk anak seusianya, Mama hanya mengatakan ada sekolah yang sangat bagus.

Tomoe Gakuen memang sekolah yang luar biasa, tak ada anak yang tak betah disana kecuali ada beberapa orang tua murid yang merasa cemas akan sistem pengajaran yang diterapkan oleh Mr. Kobayashi. Padahal kepala sekolah hanya ingin anak-anak mampu berkembang dengan selaras antara tubuh dan pikiran mereka. 

Banyak hal menarik yang diajarkan oleh sekolah Tomoe Gakuen, seperti kemandirian dan sopan-santun saling menghargai. Tanpa menimbang perbedaan. Kepala sekolah sangat baik, ia menanamkan pada anak-anak didiknya tentang kepercayaan diri serta tanggung jawab, membuat mereka paham akan hal-hal sulit yang terjadi pada orang dewasa tanpa kehilangan kepolosan anak-anak.
Saya jadi mengenal apa itu euritmik yang diciptakan oleh Emile Jaques Dalcroze atau puisi yang disebut Haiku. 

Tetapi, sangat disayangkan sekolah yang terbuat dari gerbong-gerbong kereta api ini akhirnya terbakar habis oleh bom yang dijatuhkan oleh pesawat pembom B29 Amerika. Warga-warga diungsikan, begitu pula dengan Totto-chan.

Buku Totto-chan Gadis Cilik di Jendela yang ditulis oleh Tetsuko Kuroyanagi (nama asli Totto-chan) menceritakan masa kecilnya dan kenangan tentang sekolah Tomoe Gakuen. Buku ini mulai ditulis tahun 1979 dan awal terbit di tahun 1981. Edisi terjemahan bahasa Indonesianya bagus sekali dan bahasanya mudah dipahami. Saya bisa merasakan bagaimana kultur orang Jepang semasa itu, yang tak banyak berubah hingga kini.

Ada satu kalimat yang mengesankan saya,

"setiap anak dilahirkan dengan watak yang baik, yang dengan mudah bisa rusak karena lingkungan mereka atau karena pengaruh-pengaruh buruk orang dewasa. Mr. Kobayashi berusaha menemukan watak baik setiap anak dan mengembangkannya, agar anak-anak tumbuh menjadi orang dewasa dengan kepribadian yang khas."


Mr. Kobayashi selalu mengucapkan hal-hal baik kepada muridnya, seperti kepada Totto-chan, "kau benar-benar anak yang baik" lalu menekankan pada kata "benar-benar." Kalimat-kalimat baik sangat berpengaruh bagi tumbuh-kembang anak, sesuai yang ada dalam ajaran Islam, tentang bagaimana seharusnya orang tua bersikap dan berkata pada anak-anaknya.

Buku ini menjadi sangat laris ketika itu di Jepang, dan diterjemahkan pertama kali kedalam bahasa Inggris. Sementara Totto-chan (Tetsuko Kuroyanagi) menjadi begitu populer setelah mengangkat buku ini.

Buku ini sungguh mengesankan, saya jadi mengerti bagaimana pendidikan usia dini sangat mempengaruhi tumbuh-kembang pada anak. Seperti pada Totto-chan, layaknya kupu-kupu cantik yang mengalami metamorfosis sempurna.

Selamat membaca.