THOUGHT&BOOK

August 14, 2019

Sastra atau Fiksi Populer?

by , in
Sebetulnya saya agak sedikit kebingungan memilah antara karya sastra dan fiksi populer. Tadinya saya hanya berpikir bahwa karya sastra memiliki diksi yang lebih rumit dengan mengangkat cerita yang lebih berat. 

Namun, ketika jalan-jalan ke toko buku saya menjadi tambah kebingungan.

Kenapa?

Karena buku-buku yang terpajang sudah beragam alirannya. Ada novel terjemahan, novel remaja, novel dewasa, novel metropop, puisi, fiksi religi, komik, fiksi dengan ilustrasi penuh, buku motivasi yang juga diikuti seni grafis, fiksi yang berbahasa Inggris dengan penulis Indonesia, dan lain sebagainya.

Apakah ini sebuah perkembangan? Ya, barangkali begitu.

Dulu semasa kuliah saya cukup mengenal chicklit dan teenlit, ceritanya ringan dengan bahasa yang mudah namun sangat menghibur. Sekarang mungkin berganti dengan novel metropop dan novel remaja.

Beranjak lebih dewasa, saya mulai diracuni oleh teman dengan bacaan yang lebih berat dan terkadang sulit saya pahami dan membuat saya bosan. Yaitu buku-buku yang bertema politik atau lainnya baik fiksi maupin non fiksi. Lama-kelamaan saya justru ketagihan mencari jenis fiksi serupa, saya menjadi lebih berpikir ketika harus memahami kata-kata yang tersusun, saya menemukan wawasan baru dan lebih luas.

Saya merasa dekat dengan peristiwa-peristiwa yang pernah terjadi pada suatu waktu, melalui fiksi para penulisnya mencoba menceritakan apa yang sebenarnya pernah terjadi dan membawa saya untuk lebih mendalami apa yang saya baca.
Sejak saat itu saya meninggalkan chicklit dan teenlit, ehm.

Mmh, kembali lagi pada apa yang ingin saya bahas disini, yaitu mana yang lebih menarik antara karya sastra atau fiksi populer? Nah, sebelum itu saya harusnya bisa dong membedakan keduanya.

Khususnya dalam bentuk tulisan, sastra meliputi karya-karya fiksi dan non fiksi. Namun dalam perkembangannya sastra pun mengalami periode dan melebur ke dalam beberapa bentuk. Prosa dan Puisi adalah bentuk yang familiar dalam karya populer.

Lalu, dimana posisi fiksi populer dalam dunia sastra?

  • Prosa Lama adalah prosa yang dibuat murni dengan bahasa Indonesia dan belum dipengaruhi oleh budaya Barat. 
  • Prosa Baru, justru kebalikannya. Prosa yang dikarang bebas tanpa aturan apapun dengan berbagai pengaruh budaya asing.
Jadi bisa dikatakan, fiksi populer merupakan bentuk Prosa Baru dalam sastra yang terdiri dari jenis-jenis novel  dan karangan lainnya yang berkembang pesat setelah era reformasi.

Dan beberapa tahun terakhir ini, menjamur karya prosa yang disandingkan dengan ilustrasi seni rupa. 

Kembali kepada fungsi sastra menurut saya, sastra memiliki sudut pandang sendiri dalam mencatat peristiwa dan waktu. Jadi, sekalipun perkembangan sastra serius kini melahirkan bentuk baru yaitu fiksi populer, haruslah tetap berpegang pada fungsi ini. Ada nilai yang berkembang dalam masyarakat, dan kita menangkapnya melalui pesan-pesan yang terkandung dalam setiap karya.

Yah, saya begitu mencintai 'kata-kata' yang mampu mendeskripsikan sesuatu, seakan-akan saya dapat melihat dan merasakan hanya dengan membaca rangkaian kata-kata. Hmm, mungkin ada literasi yang lebih tepat untuk hal ini? diskusiin yuk temen-temen...




*)source image: pinterest and canva. *)Referensi: wikipedia dan perenungan.




August 05, 2019

Imajinasi Sebuah Toko Buku

by , in
Namaku Freya Anaya, tak banyak yang menarik dariku yang bisa kukatakan. Tapi banyak hal yang menarik bagiku, seperti aroma teh melati pada pagi hari, hujan yang meninggalkan drama pada jendela kamarku yang berkabut, atau suara desau angin menyapa dedaunan. 

Yah, begitulah aku mencintai hari-hariku, tak ada yang lebih sempurna selain menghabiskan sepanjang waktu di toko buku warisan nenek. 

Tanpa rencana, bau musim gugur yang jauh membawaku ke suatu kota dan entah bagaimana, aku mau saja untuk membuka kembali toko buku ini. 

Papa dan mama dengan berat hati mengijinkan ku tinggal di kota ini, sendirian. Mereka tak pernah menyangka aku akan tertarik akan gagasan itu, aku pikir, kita selalu butuh ruang sendiri dan merenung akan banyak hal tentang diri.
Aku seperti orang yang putus asa, kata mereka yang telah mengenalku begitu dekat. Keceriaan dan kegemaranku akan perjalanan sepertinya tidak mungkin akan membuatku bertahan di satu tempat dengan rutinitas yang sama, apalagi itu sendirian. Aku menyukai suasana yang meriah dan orang-orang yang menjadi tempat ku berbagi apa saja.

Semua itu berubah?

Entahlah, waktu dan perjalanan telah membawaku pada keputusan yang sulit dimengerti, bahkan oleh diriku sendiri. Aku hanya merasa harus berhenti, mungkin sesaat atau disinilah tempatku yang selama ini kucari dalam setiap perjalanan.

Book Shop, toko buku yang dibuka setelah perang dunia I oleh kakek dan nenek. Awalnya mereka hanya ingin menyediakan tempat untuk buku-buku yang mereka koleksi lalu dapat dibaca oleh banyak orang sambil menikmati teh dan kopi. Sesekali berdiskusi barangkali. 
Seiring waktu berganti, teman-teman kakek dan nenek justru menitipkan buku-buku mereka untuk dijual. Ekonomi saat itu memang belum kembali pulih, jadi apapun yang bisa dilakukan untuk menambah pemasukan, akan mereka lakukan.

Meskipun begitu, minat warga kota akan buku-buku tak pernah surut. Silih berganti pengunjung yang datang untuk sekedar membaca atau kemudian menawar buku yang mereka minati. Buku-buku tak pernah kehabisan cara untuk membangkitkan kembali semangat setelah begitu banyak luka di kota ini, bagi mereka yang ditinggalkan dan yang kehilangan. 

Banyak pula tulisan teman-teman kakek dan nenek yang mereka bundel dan dibiarkan di toko buku ini, karena tak sempat diterbitkan atau ditolak oleh penerbit.

Buku-buku dan jutaan kata di dalamnya adalah gairah paling murni yang menjaga kakek dan nenek untuk tetap hidup penuh harapan, mereka senang berkumpul dan mendiskusikan tulisan demi tulisan kala itu, dan lahirlah perkumpulan pecinta buku.

Book Shop akhirnya menjadi tempat berkumpul setiap akhir pekan, mereka dengan kritis dapat membahas sebuah buku hingga fajar dan itu hanya salah satu bagian dari bab-bab saja. Aku tak bisa membayangkan bagaimana berada diantara orang-orang yang menjadikan buku begitu penting. Dulu nenek kerap menceritakan kisah itu dengan matanya yang selalu cemerlang, sambil tertawa riang. Ada saja yang membuatnya bahagia setiap kali mengulang-ulang ingatannya akan hal itu, barangkali itu adalah kenangan terbaik yang ia jaga hingga akhir usianya.
***
"Anaya!"

Sebuah suara melengking memanggilku dari belakang, aku menoleh. Setengah terkejut kuletakan seikat bunga kering yang menarik perhatianku, setiap pagi aku senang berkunjung kemari. Kios bunga kecil yang menjadi favoritku.

"Hai, ini roti pesananmu."

Ia menyodorkan sekantong roti yang masih hangat, baunya meruap keluar. Sangat khas dan tentu saja kelezatannya tak usahlah diragukan lagi. Aku tersenyum lebar menerima roti itu dari Eddy, ia sungguh pembuat roti yang baik hati.

"Kupikir tadi kau tak keluar dari Book Shop,"
"Ya, aku terlalu siang keluar Ed. Aku hanya ingin membeli bunga-bunga kering."
"Hm. Oh ya, bagaimana toko buku mu? tak terasa kau sudah enam bulan disini An."
"Benar, waktu begitu cepat berlalu. Book Shop mulai menampakkan kuncup bunganya Ed, aku senang satu-dua pengunjung yang datang tiap harinya."
"Buku-bukumu mungkin perlu yang terbaru An, terlalu banyak buku yang cukup rumit disana."

Aku terdiam, Eddy sudah mengenal Book Shop sejak ia kecil walaupun tak sempat melihat Book Shop buka sebelum aku datang kemari. Beberapa kali ia mampir ke Book Shop dan melihat-lihat koleksi kakek dan nenek. Ia pun sangat mengerti tentang buku.

Pernah suatu kali ia mengeluhkan minat baca para pemuda-pemudi kota yang semakin menurun, itu bukan tradisi kota ini, katanya. Mereka sudah kecanduan terhadap internet dan lebih banyak menghabiskan waktu dengan permainan online dari pada ke toko buku.
***
Pagi seperti biasa, sinar lembut matahari mulai membangunkan kota kecil ini, kota yang teduh di balik pegunungan. Aku mulai membuka semua tirai jendela, kain tile putih berbunga-bunga kecil melambai-lambai terembus angin yang juga membawa wewangian tumbuhan.

Hari ini Book Shop buka lebih pagi, aku ingin menyantap roti dan segelas teh melati sembari membaca satu buku lagi hari ini. Lambat laun aku mulai mencintai buku-buku dan aromanya, memang buku di sini adalah koleksi kakek dan nenek yang sama tuanya dengan toko ini, bahkan kukira lebih tua dari itu.

Buku-buku ini dirawat dengan baik oleh orang kepercayaan kakek nenek setelah toko ini mereka tinggalkan. Kata nenek, ia yakin suatu hari toko ini akan kembali menjadi tempat berkumpul para pecinta buku-buku. 


next...



Source Image by pinterest






July 30, 2019

Nayya (Sesaat Kabut Pagi)

by , in

Pagi berkabut, semburat cahaya mulai tampak dari ufuk timur, dan puncak-puncak bukit terlihat samar. Bagai kapas yang ringan menggantung dan terhampar menyentuh garis cakrawala, awan-gemawan serta kabut tipis melebur satu. 

Kukerjap-kerjapkan mata dan kantuk perlahan sirna oleh siraman air sedingin es, meskipun tidurku yang begitu pulas dengan letihnya sekujur tubuh, namun azan subuh yang dikumandangkan pak Wundaga dari ruang depan mampu membuatku bangkit melepaskan hangatnya sleeping bag.

"Nak, ini dicoba kopinya, sengaja ibu tambah sedikit gula." Bu Wundaga menghampiriku di balkon, akupun tersenyum lebar demi mendapati kepulan asap dari segelas kopi yang hitam pekat dan sepiring pisang goreng.

"Terima kasih bu, pasti kopi racikan ibu sendiri ini sangat istimewa." 
"Ya nak, ibu jarang meracik karena biasanya setelah panen ibu langsung menjual kopi-kopi ini."

"Jadi, ini benar-benar keberuntungan saya ya bu?"

Bu Wundaga tersenyum sambil mengangguk. Ia adalah wanita tua yang sangat lembut dan memiliki senyum begitu ramah. Mungkin usianya telah mencapai lebih dari enam-puluhan. Bapak dan bu Wundaga hanya tinggal berdua saja di rumah ini, rumah yang jauh di atas bukit, dimana lereng-lerengnya dipenuhi dengan perkebunan kopi.

Terkadang anak-anaknya yang tinggal di kota menjenguk
dan mengantarkan bahan-bahan makanan. Tinggal jauh begini adalah pilihan mereka sendiri, keinginan kuat itu tak bisa dibantah, jadi ya sudah. Selama bapak dan ibu berbahagia, anak-anak mereka hanya berusaha mendukung dengan apapun yang mereka mampu.

Kuhirup aroma kopi yang begitu lekat, meruak dari warnanya yang pekat. Kopi arabica yang lezat, jauh-jauh aku kemari nyatanya tak sia-sia dengan suguhan pagi yang sempurna seperti pagi ini.
Kopi ini seperti lengket di lidah, sungguh rasanya begitu kuat. Tak heran mengapa kopi Toraja menjadi favorit para pecandu kopi. Walaupun aku hanya sesekali menikmati kopi, namun cukup hanya sekedar menjadi penikmat biasa saja. Jadi tak banyak rasa-karsa kopi yang ku tahu dan ini merupakan kopi yang termewah yang pernah kucicipi.

Langit segera menjadi terang-menderang, kabut perlahan menghilang dan sinar kemerahan menerpa putihnya awan yang seakan menari-nari di pelataran langit. Aku kembali ke kamar membawa gelas kopi yang telah separuh tandas, hanya kusisakan pisang goreng untuk teman-temanku yang masih terlelap dalam dengkurnya.

Dari tirai jendela yang telah singkap dan kaca jendela yang terbuka, warna-warni indah memenuhi kamar. 

Kamar yang disediakan bapak dan ibu Wundaga berada di lantai bawah, dari jendela masih dapat kunikmati bentang alam yang indah, udara segar membawa bau-bau segala macam dedaunan masuk ke dalam kamar. 

Betah rasanya jika harus berlama-lama di sini, namun tujuanku tentu tak mengijinkan hal semacam itu bagiku. Aku hanya singgah sebentar untuk kemudian pergi lagi, dan selalu saja demikian, entah seberapa jauh lagi pelarian ini akan berakhir.

Aku duduk di tepi ranjang yang menghadap ke jendela, untuk sesaat kurasa semua baik-baik saja. Untuk sesaat, aku bisa terbangun tanpa rasa gundah yang membuatku muak. Untuk sesaat, aku dengan lahap menyantap sarapanku bersama pagi. Untuk sesaat, aku tertawa lepas sembari memejamkan mata dan membiarkan kabut tipis mengusap semua letihku. Untuk sesaat, aku merasa larut dalam keheningan yang menenangkan.

Kamar ini telah benar-benar berlimpah cahaya matahari, akupun langsung meneguk sisa kopi toraja tadi, tersadar bahwa pagi kian susut. Suara-suara burung dan ayam menjadi sangat ramai membentuk melodi mereka sendiri. Kunikmati sekali lagi kehangatan kamar ini, mataku terpejam dan ingatanku jauh mengembara menelusuri setiap perjalanan. Ada sekelebat ingatan yang segera ku hadang, jika sudah begini, aku akan mencoba mengingat sebanyak mungkin hal yang menyenangkan bagiku.

***








*)Source Image: Koleksi pribadi dan pinterest

July 23, 2019

Nayya Nayyu di Suatu Pagi

by , in
Aku bisa mendengar angin yang begitu lirih, membawa aroma segala musim. Ada alunan nada yang lembut seperti menari bersama angin yang menerpa wajahku, dan helai rambutku pun ikut meliuk-liuk ditingkahi sinar mentari pagi.

Aku menengadah membayangkan berkas-berkas cahaya, tampak ribuan kilau permata menyilaukan. Mataku menyipit, dalam pandangan yang terbatas aku masih mencari yang ingin kulihat, namun entahlah, aku hanya mendengar suara angin serupa tetesan hujan yang jatuh.

Kemudian pelan mataku membuka kedua kelopaknya, sebetulnya, aku sangat lelah setelah semalam larut terjaga. Ah, tiba-tiba saja rasanya aku ingin terisak. Kenapa rasanya begitu kacau, aku tak sanggup membayangkan hal itu, kepalaku berdenyut bagai ditusuk-tusuk jarum.

"Nayyaaaa! udah pagi, bangun dong." 

Suara itu sebenarnya biasa saja, namun cukup membuatku terlonjak dari tempat tidur. Lalu diiringi dengan ketukan di pintu, kuhela nafas dan bergegas menarik daun pintu yang tak terkunci. Sosok ibu berdiri di sana, wajah teduhnya membuatku tertunduk, ada nyeri seketika menghantam ulu hatiku.

"Kamu lupa ya Nay? hari ini katanya mau jalan-jalan pagi sama ibu."

Aku diam saja, kepalaku masih tertunduk. Kerongkonganku tak sanggup mengeluarkan suara, tak ingin kupaksa karena hanya akan membuat tangisanku pecah. 

"Ya sudah, mandi dulu terus sarapan. Tadi Nayyu telepon, nanya kamu berapa lama di rumah ibu."

Aku hanya mengangguk, ibu tak memprotes dan ia pun berlalu. Lekas-lekas kututup kembali pintu kamar, air mata mulai menetes dalam isak yang coba kuredam. Tenggorokanku terasa sakit, kuraih segelas air putih di atas meja tulis, seteguk saja sudah membuatku seakan menelan pecahan batu yang tajam.

Kukira harapan itu akan kembali setelah pagi ini, namun akupun tak mengerti mengapa pedih itu menyayat lebih kejam ketika aku sadar akan tujuan kepulangan  kali ini. 

Suara angin terdengar begitu kasar dan cahaya terik mulai menyibak tirai tipis di jendela kamar. Mengapa pagi begitu cepat beranjak. 
"Nayya, aku gak sanggup menghadapi bapak dan ibu. Aku sudah mencoba segala cara untuk mengatasi ketakutan ini," Nayyu menatapku kosong, wajahnya tak lagi terawat beberapa bulan terakhir. Entah bagaimana ia melewati hari-hari berat dengan penuh kecemasan. 

Seperti hatinya yang hancur, dan perasaanku pun seolah menjadi lautan yang tenang namun arus deras berputar jauh di dalamnya. Ia tak punya pilihan untuk memilih satu-satunya pilihan, menyerah pada penderitaan dan kebingungan. Sementara aku di sisi lain, terluka teramat kelam, seharusnya ia tak begini jika saja aku benar-benar selalu ada sebagaimana seharusnya seorang kakak.

"Semua akan baik-baik saja Yyu..." 

Aku tak hanya mencoba menguatkannya, namun juga berusaha menegarkan hatiku. Kupejamkan kedua mataku, mencari-cari suara angin di sekitar kami, dan suara itu begitu samar justru membawaku pada ingatan suatu pagi lainnya.

Berganti-ganti bayangan wajah Nayyu dan detak jantung yang terekam dalam layar berkelebatan di depan mataku. Aku terperanjat dan nafasku memburu pelan, "aku yang akan pulang dan ngomongin semua ini sama bapak dan ibu."

Pandangan kami beradu dalam kehampaan, pagi itu tak terasa telah berganti terik. Bagaimanapun, hidup harus berlanjut dengan atau tanpa rencana. 
"Pak, bu... maafkan Nayyu, dan maafkan juga Nayya..." mataku berkaca-kaca, kukerahkan seluruh kekuatan untuk tak menangis, meskipun tak lagi jelas apa yang kurasakan. 

Melihat wajah bapak dan ibu tenggelam dalam kekecewaan yang tertahan, kegetiran hidup telah menempa mereka. Dan kali ini, mereka kembali pada kesedihan yang menganga, namun kulihat cinta mereka begitu jernih.
***




*)Source image by pinterest



July 21, 2019

Virginia Woolf dan Karya Novelnya

by , in
Bagi saya penulis-penulis klasik selalu membuat penasaran, terlebih pada penulis wanitanya. Nama dan karya mereka yang melampaui zaman, tak jarang menjadi pionir dan karya rujukan. 

Mereka terlahir dengan cemerlang di tengah keterbatasan bagi perempuan pada masa itu, mereka menulis dengan sepenuh hati dan jiwa mewakili suara-suara yang tak memiliki kesempatan yang sama untuk menyuarakannya.

Salah satu penulis hebat itu adalah Virginia Woolf, penulis berkebangsaan Inggris ini hidup antara tahun 1882-1941. Ia lahir di London dengan nama Adeline Virginia Stephen.

Karya-karyanya ketika itu menjadi yang paling inovatif dalam literatur abad ke-20. Woolf merupakan sosok yang sangat jenius dan menonjol pada masa itu.

Latar belakang keluarga menjadi pengaruh besar atas perkembangan Woolf, terutama dalam bidang sastra. Ayahnya, Sir Leslie Stephen adalah seorang penulis esai, editor, serta kritikus sastra dan ibunya, Julia Prinsep Duckworth Stephen adalah seorang model cantik yang terkenal. Keluarga ini menjadi salah satu keluarga terkemuka yang membawa mereka ke dalam lingkaran tertinggi kehidupan budaya Inggris, orang tua Woolf mengenal banyak tokoh intelektual dari era Victoria akhir seperti Thomas Hardy dan Henry James.

Sedangkan salah satu bibi buyut Woolf, Julia Margaret Cameron adalah seorang fotografer yang pernah membuat potret tokoh-tokoh terkenal seperti Charles Darwin dan Alfred Tennyson.

Perpustakaan Mammoth milik ayahnya menjadi tempat yang sangat penting bagi Woolf untuk memenuhi hasrat membaca. Ia menulis sebuah esai tentang ayahnya yang kerap melantunkan puisi ketika berjalan atau menaiki tangga. 

Pada masa mudanya, Woolf sangat aktif dalam setiap kegiatan kepenulisan terutama di bidang sastra. Ia mempelajari dan memeriksa buku-buku untuk Times Literary Supplement, menulis sejumlah artikel, kritik dan esai.

Woolf juga sempat mengajar bahasa inggris dan sejarah di Morley College London, meskipun ia tidak memiliki gelar sarjana.
Dengan reputasinya yang terus meningkat, Woolf menjadi penulis wanita yang paling sering menjadi subjek teori sastra, dimana teori-teorinya begitu menarik untuk dibahas. Tulisannya sendiri pun diminati semua kalangan dalam sastra modern.

Banyak komentar para penulis besar mengenai kepiawaian serta kepekaan Woolf dalam mengolah kata, betapa kritisnya pandangan Woolf terhadap setiap karya tulis yang ia tinjau.

Melalui tulisan-tulisannya Woolf disebut-sebut sebagai salah satu tokoh feminis, mungkin karena Woolf selalu berusaha meleburkan unsur-unsur sastra ke dalam materi fisik dan sensasi, melalui pandangannya terhadap segala hal yang bersinggungan dengan wanita. 

Banyak foto profil Woolf yang diambil dari arah tatapannya ke samping, dalam sorot matanya yang penuh intensitas tersebut menggambarkan dengan jelas tentang kedalamannya berpikir, baik dalam percakapan maupun tulisan. Yaitu, tidak hanya melihat subjek namun lebih jauh lagi menggali kesimpulan dan implikasi dalam berbagai hal.

Woolf mungkin saja menggunakan laut--begitu menonjol dalam fiksinya--sebagai metafora tentang kedalaman makna yang melebihi subjek yang tampak. Ia pun tampak tak begitu tertarik pada pembicaraan yang remeh-temeh, ia selalu tampak begitu serius. Bahkan semenjak ia kecil, Woolf tak pernah betah ketika bermain.

Karya Novel Virginia Woolf

Woolf memulai novel pertamanya "Melymbrosia" pada tahun 1907, namun kemudian diterbitkan pada tahun 1915 dengan judul "The Voyage Out."

 
Pada tahun 1919, karya Woolf yang berjudul "Nigth and Day" diterbitkan. 
Menyusul kemudian, "Jacob's Room" tahun 1922. Dalam novel ini ia menerapkan bentuk tulisan yang disebut dengan stream of consciousness atau aliran kesadaran, sebuah gagasan besar yang diperkenalkan oleh Woolf dalam dunia sastra. 

Tahun 1925, aliran tulisan consciousness Woolf berikutnya diterbitkan dalam bentuk novel "Dalloway." Ini adalah karya Woolf yang paling terkenal, menceritakan rangkaian peristiwa yang terjadi dalam satu hari. 

Tahun 1927, Woolf melalui tulisannya yang mengeksplorasi tentang konsep waktu dan perubahan yang berkaitan dengan kepribadian, dan menerbitkannya "To The Lighthouse."

"Orlando" ditulis dengan karakter yang terinspirasi dari seorang teman kecilnya, Vita Sackville-West. Dimana tokoh utama diceritakan bergerak melewati beberapa waktu dan kehidupan lalu mengubah jenis kelamin. Woolf menerbitkan novel ini pada tahun 1928.

Tahun 1931, terbit karya Woolf yang paling stylized, "The Waves."

Tahun 1937, dalam buku ini "The Year" ia mengadopsi struktur tulisan yang lebih tradisional dan mengurangi struktur-struktur internal seperti pada kebanyakan karya-karya fiksi sebelumnya.

Tahun 1941, "Between The Acts" diterbitkan tak lama setelah kematiannya pada usia 59 tahun.

Virginia Woolf dan suaminya Leonard Woolf, mendirikan sebuah percetakan dan penerbit yang banyak menerbitkan novel Woolf. Mereka pun tercatat sebagai anggota aktif Bloomsbury yaitu suatu perkumpulan intelektual Inggris, yang termasuk penulis, seniman, dan kritikus.

Woolf menyebut dirinya 'gila' dan seringkali mendengar suara-suara halusinasi, kondisi mentalnya terganggu berawal dari kehilangan ibunya dan beberapa peristiwa lain. Kelelahan dan depresi membuat ia menarik diri dari kehidupan sosial dan berakhir dengan menenggelamkan diri di sungai Ouse.

Menulis adalah terapi bagi Woolf, dimana ia mencoba memahami dan mengatasi kondisi mentalnya. Ia mengatakan bahwa menulis adalah kesenangan terkuat untuk menghadapi hidup. Pada saat menulis, ia tampak bersemangat dan stabil. 
Sebetulnya banyak yang ingin saya tuliskan tentang Virginia Woolf, dan ini hanya sebagian kecil mengenai dirinya. Banyak hal yang menarik tentang penulis klasik ini, membahas Stream of Consciousness misalnya, mmh... 

"Kata-kata seperti halnya kita, untuk dapat hidup dalam ketenangannya, membutuhkan wilayah pribadi mereka. Tak diragukan mereka menginginkan kita untuk berpikir, mereka menginginkan kita untuk merasa, sebelum kita menggunakannya." Virginia Woolf







Referensi: www.literaryladiesguide.com, galeribukujakarta.com, wikipedia.&Source Image: Ria Mega Sari, Pinterest, Canva, Google










July 13, 2019

10 Tip Menyelesaikan Sebuah Novel

by , in
Menulis adalah kegiatan kreatif untuk menghasilkan karya-DEE

Salah satu cara paling simpel menentukan ide cerita adalah dengan menuliskan ide itu sebagai kejadian dalam satu kalimat-Sitta Karina.

Ide tak ditunggu dan tak dicari, tapi disusun-Agus Noor




Saya agak kebingungan nih, gimana menuangkan ide-ide yang berkelebatan di benak saya untuk dijadikan sebuah novel yang selesai. Se-le-sai. 

Dee Lestari sendiri memiliki suatu formula, yaitu untuk menyelesaikan tulisan, sebagai seorang penulis harus memiliki sensitivitas dalam mengumpulkan ide, menangkap ide, dan mampu melakukan riset. 

Ini nih beberapa tip yang saya rangkum dari beberapa penulis Indonesia, bagaimana menggarap ide menjadi sebuah tulisan utuh yang terstruktur;
  1. Memilih ide yang paling kuat. Ide yang dapat dikembangkan hingga selesai dalam sebuah tulisan. Membangun ide ke dalam bentuk tulisan awal-tengah-akhir, menjadi sebuah premis.
  2. Memiliki kemampuan visual dramatik. Bagaimana seorang penulis mampu membayangkan hal yang sederhana menjadi luar biasa, sisi dramatik dalam setiap kejadian dan tindakan yang terjadi.
  3. Riset. Informasi yang dapat membuat ide-ide seorang penulis tampak nyata dan hidup, yang dapat digambarkan dimana pembaca pun seolah masuk dalam cerita yang dituliskan. Baik dalam penggambaran latar tempat dan waktu, maupun karakter-karakter tokoh.
  4. Penokohan. Merupakan titik tentu keberhasilan sebuah tulisan fiksi, dan tokoh pun memiliki tugas utama yaitu menyampaikan pesan sang penulis kepada pembaca. Jadi, penggambaran tokoh haruslah dekat dan terjangkau oleh indera pembaca.
  5. Identifikasi permasalahan penitng yang dialami oleh tokoh utama. Penulis harus memahami persoalan yang signifikan dan mengganggu kehidupan si tokoh utama.
  6. Gali latar belakang kehidupan si tokoh utama. Hal-hal yang pernah terjadi pada tokoh utama, yang mempengaruhi dalam pengambilan keputusan, pola pikir, dan sudut pandang. Tentunya hal ini tidak lepas dari latar belakang si tokoh utama.
  7. Gabungkan masalah utama dan latar belakang diatas. Dari penggabungan ini, maka akan muncul konflik. Dan konflik diibaratkan jantung sebuah cerita. Konflik ditandai dengan munculnya pertentangan antara tokoh dengan lingkungan atau masalah yang terjadi.
  8. Kuasai awal cerita dengan tokoh protagonis cerita. Hal ini akan membuat kesan yang kuat tentang siapa tokoh utama yang akan memerankan cerita hingga selesai, buatlah perkenalan dalam 300 kata.
  9. Membangun latar waktu dan tempat. Ini merupakan hal yang sangat penting, dimana kita menetapkannya dari awal dan dengan konsisten, bagaimana cerita berlangsung pada suatu ketika dan disuatu tempat. Kendalikan pembaca dengan latar yang kita ciptakan, misalnya dengan penanda-penanda latar, suatu kejadian atau ciri yang mendukung. Dan dalam hal ini penulis membutuhkan riset yang mendalam.
  10. Susunlah draft cerita. Setelah ide matang dan digodok dengan tip-tip diatas, maka sudah saatnya menyusun draft cerita yang akan ditulis, sehingga penulis akan lebih terbantu dengan memilki acuan dan dapat menulis dengan lebih rapi untuk setiap babnya. 
Namun seringkali kita merasa, menulis fiksi adalah pekerjaan yang bebas, seharusnya tak memerlukan draft baku yang justru akan membatasi imajinasi. 

Ya, itu betul. Imajinasi manusia sungguh tak terbatas dan karena itulah kita perlu membuat batas, yang sebenarnya hanyalah batasan maya. Penulis tentu boleh melanggarnya ketika sudah menemukan navigasi yang jelas untuk luapan imajinasi tersebut. 

Jadi, jangan merasa semua aturan dalam kepenulisan baik fiksi maupun non fiksi akan membatasi kreatifitas kita dalam berkarya. 

Seperti seorang pelaut di lautan lepas, ia tentu memerlukan panduan arah untuk mengarungi lautan tersebut. Begitupun imajinasi, kita butuh navigasi, ya navigasi. Tentu saja kita masih akan menemukan kejutan-kejutan dalam setiap detil perjalanan kreatifitas yang kita kerjakan.

Seperti saya, ide begitu banyak menari-nari di benak saya. Namun, saya butuh trik untuk menangkap salah satunya dan bagaimana mengarahkan ide tersebut lebih jauh lagi menjadi karya yang se-le-sai.






Referensi: Dee Lestari, Sitta Karina, ellenconny dan Agus Noor.&Source Image: Ria Mega Sari







July 13, 2019

Review Buku: Tetsuko Kuroyanagi dan Totto-chan Gadis Cilik di Jendela

by , in
Kisah yang berlatar ketika perang dunia 2 sedang berkobar, jauh di sudut Tokyo ada kehidupan anak-anak yang sangat sederhana dan menyenangkan. Bagaimana mereka belajar bersama Mr. Kobayashi, dengan kurikulum sekolah yang berbeda dari kebanyakan sekolah konvensional, di balik jendela-jendela kelas bekas gerbong kereta.

Hingga Totto-chan memulai dan melalui semua hari-harinya disana, di sekolah Tomoe Gakuen. Tomoe sendiri memiliki arti khusus, yaitu merupakan simbol kuno yang berbentuk koma, dua buah koma berwarna hitam dan putih yang menyatu membentuk sebuah lingkaran. Simbol suatu keseimbangan.

Totto-chan adalah anak yang menggemaskan dengan rasa ingin tahu yang berbeda dari kebanyakan anak seusianya. Mengingatkan saya pada keponakan, cerdas dan lincah. Namun, karena banyak ulah Totto-chan yang unik dan sulit dipahami, ia dikeluarkan dari sekolah dasar. Sekolah dasar lho... dan itu baru kelas satu. Kebayang kan betapa repotnya para guru menanganinya.

Mama akhirnya menemukan sekolah yang cocok untuk Totto-chan tanpa memberi tahu alasan kenapa ia harus pindah ke sekolah yang baru. Karena dampaknya mungkin saja akan membawa trauma buruk untuk anak seusianya, Mama hanya mengatakan ada sekolah yang sangat bagus.

Tomoe Gakuen memang sekolah yang luar biasa, tak ada anak yang tak betah disana kecuali ada beberapa orang tua murid yang merasa cemas akan sistem pengajaran yang diterapkan oleh Mr. Kobayashi. Padahal kepala sekolah hanya ingin anak-anak mampu berkembang dengan selaras antara tubuh dan pikiran mereka. 

Banyak hal menarik yang diajarkan oleh sekolah Tomoe Gakuen, seperti kemandirian dan sopan-santun saling menghargai. Tanpa menimbang perbedaan. Kepala sekolah sangat baik, ia menanamkan pada anak-anak didiknya tentang kepercayaan diri serta tanggung jawab, membuat mereka paham akan hal-hal sulit yang terjadi pada orang dewasa tanpa kehilangan kepolosan anak-anak.
Saya jadi mengenal apa itu euritmik yang diciptakan oleh Emile Jaques Dalcroze atau puisi yang disebut Haiku. 

Tetapi, sangat disayangkan sekolah yang terbuat dari gerbong-gerbong kereta api ini akhirnya terbakar habis oleh bom yang dijatuhkan oleh pesawat pembom B29 Amerika. Warga-warga diungsikan, begitu pula dengan Totto-chan.

Buku Totto-chan Gadis Cilik di Jendela yang ditulis oleh Tetsuko Kuroyanagi (nama asli Totto-chan) menceritakan masa kecilnya dan kenangan tentang sekolah Tomoe Gakuen. Buku ini mulai ditulis tahun 1979 dan awal terbit di tahun 1981. Edisi terjemahan bahasa Indonesianya bagus sekali dan bahasanya mudah dipahami. Saya bisa merasakan bagaimana kultur orang Jepang semasa itu, yang tak banyak berubah hingga kini.

Ada satu kalimat yang mengesankan saya,

"setiap anak dilahirkan dengan watak yang baik, yang dengan mudah bisa rusak karena lingkungan mereka atau karena pengaruh-pengaruh buruk orang dewasa. Mr. Kobayashi berusaha menemukan watak baik setiap anak dan mengembangkannya, agar anak-anak tumbuh menjadi orang dewasa dengan kepribadian yang khas."


Mr. Kobayashi selalu mengucapkan hal-hal baik kepada muridnya, seperti kepada Totto-chan, "kau benar-benar anak yang baik" lalu menekankan pada kata "benar-benar." Kalimat-kalimat baik sangat berpengaruh bagi tumbuh-kembang anak, sesuai yang ada dalam ajaran Islam, tentang bagaimana seharusnya orang tua bersikap dan berkata pada anak-anaknya.

Buku ini menjadi sangat laris ketika itu di Jepang, dan diterjemahkan pertama kali kedalam bahasa Inggris. Sementara Totto-chan (Tetsuko Kuroyanagi) menjadi begitu populer setelah mengangkat buku ini.

Buku ini sungguh mengesankan, saya jadi mengerti bagaimana pendidikan usia dini sangat mempengaruhi tumbuh-kembang pada anak. Seperti pada Totto-chan, layaknya kupu-kupu cantik yang mengalami metamorfosis sempurna.

Selamat membaca.