THOUGHT&BOOK

July 19, 2020

Kritis Terhadap Diri Sendiri

by , in

Beberapa waktu yang lalu tiba-tiba saya terpikir untuk membolak-balik sudut pandang saya, (haha apaan ya istilahnya? merenung kali) :) Kenapa? gak tahu juga sih, mungkin dari beberapa bacaan, tontonan, atau obrolan sama suami, (dominannya sama suami kayaknya, soalnya temen diskusi), juga temen-temen kantor atau liat status-status di medsos, chit-chat sama temen-temen lama mungkin. Intinya reaksi dari apa yang dialami dari lingkungan sekitar gitu...

Mungkin karena lagi mood-nya bagus juga, pikiran jadi lebih fresh gitu :D

Emm, jadi begini... seringkali kan ya kita itu ketika ada pada posisi atau ketika melakukan sesuatu yang berbeda dari kebanyakan, (mau bilang pada batas tidak normal, tapi nanti jadinya malah generalisasi tentang sebuah kenormalan dong) ada aja tuh komentar yang agak mengganggu. Karena hal tersebut tadi berbeda. Sebetulnya kan mungkin memang wajar gitu, tiap orang kan beda-beda dan justru juga karena adanya pola yang sama tentang sudut pandang. Kebetulan nih misal kita ada di kutub yang berlawanan dari kebanyakan, maka akan timbul benturan-benturan pada dua sisi tadi.

Nah, sayangnya hal-hal semacam ini menjadi salah satu sebab kesenjangan dalam pergaulan. Kita jadi salah sangka trus menjauh dari orang-orang yang tadi beda dan menyebabkan situasi seperti itu yang mungkin bikin gak nyaman, terus ada namanya tesinggung, sakit hati, dan parahnya balas dendam dong.. heheee.

Ribet ya penggambaran saya seperti apa sih yang saya maksud, jadi misalnya gini nih... 

Saya bertanya pada diri saya sendiri, "kenapa kamu ingin punya anak? kamu siap punya anak? kamu udah merencanakan apa untuk anak kamu?" terus saya berpikir lagi beberapa alasan untuk itu, sejujur-jujurnya dan mengoreksi lagi alasan saya. "Karena malu udah beberapa tahun menikah gak punya anak? malu karena berbeda dari kebanyakan perempuan? atau memang suka sama anak kecil? atau memang seharusnya untuk memiliki keturunan karena nanti bisa ngurusin kita sewaktu tua? karena gak enak sama orang tua dan mertua, atau suami?" hemm, "iya ya, saya mikirin gak sih punya anak itu gimana dan apa yang harus saya siapin? masa melahirkan mereka untuk sesuatu yang malah nantinya akan menjadi beban buat mereka?" dan begini, "saya kebanyakan mikir yah, kalau udah takdirnya akan dikasih kapanpun Allah mau dong..."

Ya udah sih, kelar deh. Gak perlu ribet mungkin sebetulnya mikir udah kemana-mana gitu. Bukankah semua udah diatur, kenapa kita jadi protes dan nyalahin diri sendiri atau lingkungan sekitar. Kenapa harus tersinggung akan pendapat umum yang mungkin bikin kita gak nyaman. Toh, mereka bebas untuk berpendapat, itu urusan mereka dengan diri mereka sendiri. Kenapa pikiran kita harus mereka yang mengendalikan. Atau suatu kondisi, waktu dan tempat? 

Kenapa? 

Balik lagi ke diri sendiri, "eh saya mikir apaan sih? kok dibawa rumit sih? dan sebagainya dan sebagainya." Pokoknya gitulah, 

hal-hal yang tidak bersifat teknis dan sistematis yang kita terima harusnya gak berpotensi menjadi destruksi untuk diri sendiri. 

Nah, itu sih salah satu contoh masalah aja ya, dan banyak kasus-kasus serupa yang semestinya gak perlu menyita perhatian kita atau malah ya udah sih lewatin aja gitu, karena pasti sifatnya sama aja kayak masalah yang tadi saya ilustrasikan dan oleh karena pola pikir orang yang beda-beda jadi kita juga mesti punya cara pikir yang kuat. :)

Lagian kalau dipikir-pikir ya, kita akan lebih bersyukur ada di kondisi yang pada akhirnya dapat membuat kita lebih empati ketika suatu saat menemukan kondisi yang sama pada orang lain selain kita. Well, kenapa mesti tersinggung, kenapa mesti marah dan lain sebagainya. Untuk kondisi-kondisi tertentu sebetulnya emosi semacam itu bisa dikontrol kali ya, kalau kata suami saya sih, 

"kita tuh butuh jeda sebelum memberi respons atau memutuskan suatu tindakan ketika menerima tindakan."

Jeda.

Apapun yang kita pikirkan lalu menjadi perlakuan kita nanti, harusnya dapat kita kritisi terlebih dahulu pada tahap jeda ini. Hanya beberapa detik, itu sih kalau kita butuh respons yang cepet, Tapi, kalau sifatnya atau kita tahu nih hal yang akan terjadi itu repetitif, kita malah jadi bisa mengevaluasi diri kita sendiri. 

Mana yang penting mana yang tidak, baper, mood bagus apa enggak secara ilmiah ternyata bisa kita atur. 

Kayaknya buku "Seni bersikap masa bodoh" ini cocok deh, hahha... saya belum baca sih bukunya, ada punya suami sih, cuman kayak malas gitu bacanya karena lebih banyak novel yang menarik ;D

Hal ini tentunya udah dibahas habis dalam psikologi, cuman belum sempat aja cari literaturnya. Yang pasti sih, udahlah hal-hal gak penting dan itu berkaitan dengan ego mending gak usah digubris atau direspons. Apalagi potensinya menghancurkan diri sendiri, orang-orang sih sekedar komentar atau berpikir sambil lalu tentang hal-hal yang terjadi pada kita. Eh malah terkadang jadi hiburan bagi mereka ketika mereka melakukannya, sementara itu kita jadi murung merasa yang tidak-tidak, nambah lagi deh unsur-unsur penuaan dini dan sebab-musabab tidak bahagianya kita.

Jadi, jangan biarin hal-hal sekutu itu menginterupsi fokus kita yang lebih penting. Segala hal itu luas, gak sebatas pada salah satu perspektif saja dan segala kemungkinan itu terbuka. So, belajarlah santai :)

Yah, gitu deh perenungan yang menjadi penemuan saya baru-baru ini. Bahagia sekali bisa menuliskannya, meskipun penjelasannya rada-rada gak jelas kali ya. Haahaaa... 

Dan ini adalah tip saya, "Yuk, mari kritis terhadap diri sendiri?"




*)Source Image: Ria Mega Sari



July 19, 2020

Review Buku: Greta Thunberg, Tak Ada Yang Terlalu Kecil Untuk Membuat Perbedaan

by , in
"Untuk anda semua yang tak pernah memperlakukan krisis ini sebagai krisis."

Buku kecil ini adalah buku yang sangat kecil serupa buku saku dengan 59 halaman saja. Yang isinya adalah terjemahan beberapa pidato Greta Thunberg mengenai krisis iklim dari September 2018 hingga April 2019 di beberapa Negara.

Greta Thunberg, gadis kelahiran Swedia yang berusia 16 tahun ini mengidap sindrom Asperger, yaitu gangguan neurologis atau saraf yang tergolong dalam spektrum autisme. Namun kondisi ini memiliki kelebihan yang membuat pengidapnya menjadi lebih cerdas dan memahami bahasa dengan mudah, serta kesulitan dalam bersosialisasi. Keadaan khusus inilah yang membuat Greta Thunberg menjadi berbeda dari kebanyakan remaja di usianya, ia menjadi lebih kritis akan lingkungan sekitar dan lebih fokus untuk hal-hal tertentu yang membuatnya tertarik dan lebih penting secara mendalam.

Greta Thunberg sendiri mengakui bahwa, ia terinspirasi melakukan pemogokan belajar pada jam sekolah untuk menunjukan protesnya terhadap kurangnya kesadaran umum pada krisis iklim ini, dari aksi pemogokan siswa di Parkland Florida Amerika Serikat ketika terjadi penembakan pada para siswa oleh salah satu siswanya sendiri di sekolah.

Ada beberapa pidato yang menyentuh dan saya sangat terpukul dengan kata-katanya, "kita tidak pernah memperlakukan krisis ini sebagai krisis". Harus kita akui atau terkhusus untuk diri saya sendiri, kesadaran yang rendah mengenai krisis iklim yang menurut para ilmuwan hanya dalam kurun waktu kurang lebih 11 tahun kedepan dampak berantai yang berkepanjangan dari efek rumah kaca ini sudah tidak dapat di tanggulangi lagi. 

Sekitar tahun 2030, 10 tahun, 259 hari dan 10 jam dari sekarang (16 April 2019), reaksi berantai dari efek rumah kaca dan kemungkinan dari berakhirnya peradaban. (IPCC).

Dimana kita tengah berada ditengah-tengah kepunahan massal ke-enam dengan 200 spesies akan punah setiap harinya. 10.000 kali lebih cepat dari yang dianggap normal. 

"Dan saya ingin membuat anda panik"

Ya, tentu saja Greta bisa meneriaki kita dengan cara demikian, mengingat efek dari rumah kaca ini tidak hanya akan menyebabkan pemanasan global, mencairnya es di kedua kutub di bumi, meningkatnya volume air di laut, pun laut menjadi semakin asam, dan menipisnya lapisan ozon. Artinya apa? kepunahan ekosistem di bumi, di seluruh bumi. Secara keseluruhan. Mungkin sekarang kita tidak terlalu menyadarinya atau kita merasa ini hal biasa yang terjadi, dan rentang waktu bencana itu masih lama?
Kondisi yang mungkin tak pernah benar-benar nyata kita bayangkan, seperti erosi tanah subur lapisan atas, deforestasi hutan, polusi udara beracun, hilangnya serangga dan marga satwa. Sedangkan di kutub utara akan terjadi titik kritis atau titik balik karena gas metana yang kuat dilepaskan dari pencairan permafrost.

Bagaimana jika ternyata kita salah? bukankah hari-hari semakin terik dan suhu panas yang seringkali terasa membakar, mungkin sebagian dari kita hanya merasakan sebatas itu saja. Tanpa kita sadari bahwa ekosistem di laut mulai menyusut, hutan-hutan semakin habis, industri modern semakin pesat, lalu-lintas yang menggunakan bahan bakar fosil pun semakin umum. Sementara itu, limbah rumah tangga juga menjadi sumbangan yang signifikan menghasilkan gas metana. Itu semua berdampak pada terjadinya efek rumah kaca dan kembali memberi dampak yang semakin parah dari efek rumah kaca ini.

Dalam pidato-pidatonya, Greta dibantu oleh data-data dari para ilmuwan dan sesama aktivis yang bergerak dibidang yang sama. Walaupun Greta sebetulnya bergerak secara independen. 

Johan Rockstrom, seorang profesor asal Swedia menulis bahwa kita hanya memiliki 3 tahun untuk membalikan peningkatan emisi gas rumah kaca sesuai dengan Perjanjian Paris. Namun, hal itu belum terpenuhi. Yang mana seharusnya pemanasan global dijaga tetap pada kondisi dibawah 2 derajat celcius.

Swedia sendiri termasuk ke dalam 10 negara yang memiliki jejak karbon terburuk di dunia. Dan seharusnya negara-negara seperti Swedia dan Inggris mampu mengurangi emisi sebanyak 15% per tahun agar tetap menjaga pemanasan global 2 derajat celcius. 
Greta juga mengatakan negara-negara kaya harus menurunkan emisi ke titik nol dalam 6-12 tahun kedepan, sehingga negara-negara miskin dapat meningkatkan taraf hidup dan membangun infrastruktur. Karena, negara seperti India dan Nigeria yang merupakan negara miskin tak akan perduli pada krisis iklim melihat negara kaya saja pun tak perduli. Mungkin ini yang dimaksud Greta dengan aspek ekuitas.

"Kita mengorbankan biosfer, sehingga orang-orang di negara maju seperti negaraku dapat hidup mewah."

Sementara menurut IPCC (Intergovernmental Panel on Climate Change), atau panel ilmiah tentang perubahan iklim yang terdiri dari ilmuwan di seluruh dunia,

Deskrips

pemanasan global harus turun 1.5 derajat celcius dengan mengurangi emisi karbondioksida sebesar 50% pada 2030. EU (European Unite-Uni Eropa) sendiri merencanakan untuk menurunkan emisi gas rumah kaca hingga 45% dari tahun 1990-2030, namun hal tersebut menjadi sesuatu yang sangat ambisius di mata dunia. 

Sementara Greta mengatakan hal tersebut saja belum cukup, karena masa depan anak-anak perlu diperhitungkan sehingga penurunan yang seharusnya dilakukan adalah sebesar 2 kali lipatnya, 80% jika dihitung dari tahun 1990-2030.

"Semakin besar jejak karbon anda semakin besar tanggung jawab anda."

Apa yang dikatakan Greta diatas bikin saya jadi dilema mau traveling naik pesawat dan makan banyak daging. Greta sendiri sangat idealis untuk tidak menggunakan pesawat dan menjadi seorang vegan. Mungkin saya belum bisa total, tapi saya rasa wajib untuk mempetimbangkan segala bentuk tindakan dan pilihan produk atau apapun yang dapat bersinggungan dengan aspek lingkungan.
Ada lagi nih kata-kata Greta yang bikin saya berpikir, dan termenung. "Dimana selebritis, bintang film dan bintang pop yang menentang semua ketidak-adilan tidak akan membela lingkungan kita dan untuk keadilan iklim karena hal tersebut akan memberi hak pada mereka untuk terbang ke seluruh dunia mengunjungi restoran, pantai, dan regret yoga."

Yep, kira-kira begitulah yang dapat saya inget-inget dari buku kumpulan pidato Greta Thunberg ini, bukunya sih kecil aja tapi isinya membuat saya merenung dan terus merenung. Terjemahannya pun cukup asik kok oleh Penerbit Pustaka Osiris.


*)Source Image: Ria Mega Sari, Google. *)Referensi: Google.



June 21, 2020

Review Buku: The Cuckoo's Calling by Robert Galbraith

by , in
Setelah sebelumnya saya pernah membahas The Silkworm, karya dari penulis yang sama yaitu Robert Galbraith atau nama lain dari J.K Rowling. Masih dengan detektif yang sama, Cormoran Strike dan sekretarisnya, Robin Ellacott. 

Sebetulnya The Cuckoo's Calling atau judul dalam bahasa Indonesianya yaitu Dekut Burung Kukuk, adalah buku pertama serial detektif Cormoran Strike loh, tapi saya bacanya kebalik. Hahaha...
Karena waktu itu sebetulnya pengen nyoba aja baca karyanya J.K Rowling dengan tema yang berbeda dan kebetulan di buku The Silkworm itu mengangkat kasus pembunuhan seorang novelis, jadi saya lebih tertarik ke tema itu duluan deh.

Daaan, saya cukup klik dengan Cormoran Strike dan Robin Ellacot, karakter masing-masingnya unik dan berkesan buat saya. Alurnya lumayan banyak menyimpan teka-teki dan benang-benang tersembunyi yang sebetulnya sangat berkaitan erat.

Oh ya, The Cuckoo's Calling sepertinya diambil dari nama panggilan sayang dari salah satu sahabat dekat si model yang mati terbunuh oleh kakak angkatnya. Yaitu si cuckoo.

Lula Landry, model yang sedang populer di Inggris, menghebohkan seluruh London ketika pada dini hari mayatnya diketemukan terjatuh begitu saja dari balkon apartemen mewahnya. Tidak ada spekulasi apapun yang mencurigakan, polisi pun mempublikasikan bahwa kasus tersebut adalah kasus bunuh diri.

Yah, tulisan saya agak-agak spoiler sih... hehe, karena saya ingin membahas setiap buku yang saya baca dari sudut pandang saya aja sih...
serial TV-nya nih
Siapa kira yang keukeuh bahwa itu adalah kasus pembunuhan dan melaporkannya tiga bulan setelah kejadian, John Bristow. Kakak angkat dari Lula Landry ini mendatangi detektif partikelir di jalan Denmark Street dan meminta Cormoran Strike menyelidikinya, ia rela membayarnya mahal. Dan ya, siapa kira bahwa justru dialah pembunuhnya. John Bristow.

Aneh kan, seperti yang Cormoran Strike katakan, mungkia John Bristow merasa dirinya pintar dan tak akan pernah tertangkap setelah dia pun menantang dengan pembunuhan salah satu sahabat lainnya dari Lula Landry, Rochell Onifade. Karena ia menjadi saksi wasiat terakhir dari Lula Landry, sayangnya gadis yang sedikit bermasalah kejiwaan ini pun memanfaatkan hal itu untuk memeras John Bristow. Ketika Cormoran Strike semakin dekat dengan bukti-bukti pembunuhan, Rochell terbunuh.

Dan sebetulnya lebih seru baca langsung deh, daripada menceritakannya kembali. Heheee...

Memang kemampuan Induksi dan deduksi Cormoran Strike dalam melihat suatu kasus patut diacungkan jempol, tak percuma ia mantan penyelidik cabang investigasi polisi militer kerajaan yang pernah bertugas di Afghanistan.

Novel-novel tentang detektif Cormoran Strike ini tidak hanya mencerikan alur mendebarkan setiap kasus-kasus yang ia selidiki, namun juga menceritakan konflik-konflik pribadi masing-masing tokoh penting dalam setiap bukunya. Begitupun dengan kehidupan pribadi Cormoran Strike, yang baru saja putus dari tunangannya yang cantik tapi mungkin saja mengidap Mythomania atau keadaan seseorang yang seneng banget berbohong sampe-sampe kebohongan itu ia anggap fakta.

Hubungan Cormoran Strike dan Robin Ellacot juga bikin gemes sih, tapi keliatan dikit di serial selanjutnya di the silkworm. Padahal Robin sudah tunangan dan sebentar lagi menikah dengan Matthew. Tapi kayaknya hubungan mereka gitu-gitu ajadeh di serial selanjutnya.

Nah, gitu doang sih yang bisa saya ceritain. Yang menarik adalah, kecerdasan si Robert Galraith kali ya dalam mengolah cerita misteri dan mengulasnya cukup dalam lewat karakter Cormoran Strike. Kalau soal kepenulisannya sih jangan diragukan lagi, seorang J.K Rowling imajinasinya memang luar biasa hingga bisa menulis begitu tebal.



*)Source Image: Pinterest, Reff: Google


June 21, 2020

Review Buku: Dengarlah Nyanyian Angin, Haruki Murakami

by , in
"Tidak ada kalimat yang sempurna. Sama seperti tidak ada keputusasaan yang sempurna."
Cerita ini dimulai tanggal 8 Agustus 1970, dan berakhir delapan belas hari kemudian, yakni tanggal 26 Agustus di tahun yang sama. (hal, 6).

Aku, seorang mahasiswa yang berkuliah di Tokyo begitu menggemari Derek Heartfield, sorang penulis yang bunuh diri. Namun, Derek Heartfield ini hanya sosok imajinasi dari Haruki Murakami. Aku, begitu ia membawakan narasinya dalam cerita ini, mengisahkan bagaimana ia tumbuh dewasa di kota kecil kelahirannya itu, sebuah kota kecil di tepi laut. Ia tumbuh dari seorang anak kecil yang sangat pendiam hingga menjadi seorang dewasa yang memiliki karakter tenang atau, apatis ya? entahlah, saya cuman ngerasa gak cukup hangat ketika berkenalan dengan tokoh 'aku' ini sebagai seorang pria, dia nyaris tanpa emosi yang dramatik. Tapi, cukup simpatik sebetulnya, ketika bagaimana ia memperlakukan Nezumi, sahabatnya di kota itu. Atau ketika ia menceritakan tentang kekasih-kekasihnya dan seorang teman kencan ketika ia liburan kuliah dalam delapan belas hari itu.
Mungkin, pertumbuhannya dipengaruhi oleh perkembangan masa ketika itu. Dimana Jepang baru tumbuh diantara dua budaya, yaitu tradisional dan budaya barat yang menjadi perkembangan modern setelah perang dunia II, dan ia pun mengidap penyakit saraf tulang belakang.

Ada juga cerita tentang Jay's bar, tempat minum yang biasa menjadi tempat bertemu 'aku' dan Nezumi. Di sana pula lah awal pertemuannya dengan seorang gadis misterius penjaga toko piringan hitam, yang gak sengaja menjadi teman wanitanya ketika itu.

Namun, kisah itu gak berlanjut. Gadis yang patah hati itu setelah menggugurkan kandungannya entah dengan siapa, menghilang begitu saja.

Sedangkan Nezumi adalah anak seorang hartawan yang entahlah, seperti muak dengan kehidupannya sendiri. Uniknya, Nezumi justru menjadi seorang novelis di kemudian hari, pada awalnya ia hanya terpengaruh dengan kebiasaan 'aku' yang senang membaca dan membawa-bawa buku.
Sebetulnya saya hampir lupa sih kisah dalam buku ini, karena udah beberapa bulan lalu bacanya, jadi mungkin yang saya ulas ini hanya potongan-potongan yang masih diragukan akurasinya hahaha... yah, ini hanya berdasar ingatan saya aja sih. Dan ngintip-ngintip lagi bukunya, tapi males juga ngebaca lagi ya.

Tapi, novel ini cukup tipis loh hanya 119 halaman. Yah, sedikit membosankan memang, karena ceritanya begitu hening dan terasa kosong, konfliknya sebetulnya gak ada yang harus diselesaikan atau mungkin delapan belas hari itu adalah konflik yang menjadi titik balik dalam diri 'aku'.

Seperti tulisan Haruki Murakami lainnya,  dengan gaya yang sama, selalu berhasil membuat kekosongan dan jeda hening dalam diri pembaca. Namun, selalu ada informasi yang keren dalam tulisan-tulisannya, dan saya sangat mengagumi gaya bercerita karena membuat saya larut merasakan masing-masing karakternya. Dan juga terbang jauh ke tempat yang ia ceritakan.

:)

*)source image: pribadi
April 05, 2020

Review Buku: The Geography Of Genius by Eric Weiner

by , in
Ah buku ini selesai terlalu lama, lebih dari 3 minggu. Ini menjadi buku ke 3 yang saya baca di tahun ini, hmm saya gak memenuhi target baca bulanan di awal tahun. Tadinya terjadwal 4 buku yang harus dibaca, tapi yah begitulah kesibukan selalu menjadi sebuah alasan yang sebetulnya kalau dicermati kembali, saya gak sibuk-sibuk amat kok. Hehehee.

Okay, balik lagi ke buku terakhir yang saya baca yaitu The Geography Of  Genius  yang ditulis oleh Eric Weiner seorang penulis berkebangsaan Amerika Serikat. Dalam buku ini ia menceritakan tentang serangkaian perjalanannya ke beberapa kota di beberapa negara yang pernah tercatat sebagai tempat-tempat yang melahirkan para Jenius yang terkemuka dalam sejarah.

Dimulai dari negara Yunani,  yaitu kota Athena kuno. Perpaduan kemewahan publik dan kemelaratan pribadi. Karena mereka sangat peduli akan kepentingan publik terutama negaranya ketimbang urusan pribadi, sampai-sampai ada ungkapan Thucydides bahwa, "orang yang tidak berminat pada masalah negara bukanlah orang yang memikirkan urusannya sendiri, melainkan orang yang tak punya kepentingan menjadi warga negara Athena."

Siapa yang tidak kenal Plato, Aristotle, dan Socrates? Hmm, bangsa Yunani mewariskan demokrasi, sains, dan filsafat. Dan juga banyak hal lainnya seperti; kontrak tertulis, koin perak dan perunggu, pajak, tulisan, sekolah, pinjaman komersial, buku panduan teknis, kapal layar besar, investasi berbagi resiko, dan sistem tuan tanah absente, juga inspirasi.

Bangsa Yunani percaya bahwa di mana kita berada akan mempengaruhi bagaimana kita berpikir. Dahulu Socrates menemukan ide selalu ketika ia berjalan kaki, seperti kebiasaan warga Athena , mereka suka berjalan kaki. Dan Homer adalah penulis pertama di dunia dan orang yang pertama pula mengalami kebuntuan ide, karyanya yaitu Odyssey.

Mereka hidup dengan sederhana dan menyederhanakan hidup, jadi gak heran tidak ada kuliner yang memanjakan di kota  ini. Mungkin ribuan tahun yang lalu Yunani terkenal akan kejeniusannya, cara mereka berpikir dan bertindak, namun kini? seperti yang di katakan oleh seorang Antropolog bernama Alfred Kroeber, bahwa kebudayaan tidak genetis. Sama halnya dengan kejeniusan bukanlah faktor genetik yang diwariskan.

Kemudian kita di ajak ke kota Hangzhou, Cina. Ada kutipan yang menarik, "yang membedakan orang genius dari orang gagal sebenarnya bukan berapa kali dia berhasil, tapi berapa kali dia memulai dari awal."

Kebiasaan orang Cina adalah minum teh, mereka begitu menikmati minuman ini seperti bagaimana mereka mendalami apa saja yang mereka tekuni. Pada abad ke-11 seorang genius bernama Shen Kuo menuliskan semua ide-idenya dalam sebuah buku catatan, layaknya Leonardo Da Vinci. Salah satu yang telah ia temukan adalah kompas magnetik. Sementara masa moderen ini, kita mengenal Jack Ma, yang dapat menyangi star up di dunia barat.

Apa yang menyebabkan mereka dikenal sebagai salah satu Negara yang memiliki kegeniusan? Salah satunya adalah habit yang ditularkan oleh kalangan atas, para penguasa-penguasa yang ada ketika itu, mereka sangat mencintai membaca, menulis, dan melukis.
Florence, kota yang dalam sejarahnya dikenal dengan peradapannya yang tinggi di daratan Eropa, melahirkan Leonardo Da Vinci, Michelangelo, Botticelli, Rosseli, Filippino Lippi, Cosimo de' Medici dan banyak lagi.

Cosimo adalah patron seni terkemuka yang memiliki bank Medici, pada masanya mungkin ia bisa disamakan dengan Bill Gates pada masa kini. Bangunan yang terkenal adalah Duomo karya Brunelleschi. Namun, kejayaan Florence masa lampau runtuh oleh materialistik dan konsumeristik. Pada akhirnya kegeniusan Florence kini hanya menjadi kenangan sejarah.

Edinburg, Scotlandia. Apa yang akan kita temui di kota ini bersama Eric? hm, Adam Smith adalah filsuf yang membawa pemikiran Kapitalisme. Dan begitu termasyur dalam bidang sastra di seluruh Eropa pada masanya.

Jadi apa kesimpulan untuk kegeniusan bangsa Skotlandia ini? mereka lebih fokus pada perbaikan.Yah, hal itu juga membuat mereka lebih kreatif dan praktis. Aturan baku bisa mereka langgar untuk tujuan yang lebih penting dan memudahkan. Misalnya saja kulkas dan sepeda, atau anestasi? Selain itu mereka juga sangat menyukai buku-buku yang berkualitas.

Kolkata, India. Negara ini adalah negara jajahan Inggris, namun mereka menyerap dan menyulap kegeniusan negara Eropa itu dengan baik, dengan situasi yang semrawut, orang-orang di Kolkata sudah terbiasa fokus di tengah-tengah distraksi. Atau "kemampuan melihat keteraturan dalam kekacauanlah yang mencirikan semua orang hebat." Karena setiap orang di sana sangat cuek dengan urusannya sendiri meskipun ia di tengah kesibukan kelompok-kelompok sosial yang lain atau keadaan hingar-bingar lainnya. Misalnya saja, seseorang bisa sangat fokus membaca atau menulis novel di tengah keriuhan pasar dan bau pipis orang yang sembarangan.

Kita akan bisa menikmati Scotlandia rasa India di sini, seperti ungkapan Eric. "Sejarah India adalah sejarah akulturasi tanpa asimilasi, merespons pengaruh asing dengan tidak menolaknya maupun menyerapnya dengan membabi buta, tapi sebagai gantinya, mereka meng-india-kannya." Misalnya saja India punya Bollywood sementara di barat punya Hollywood :D

Sebut saja, Rabindranath Tagore, seorang penyair, penulis esai, penggubah drama, dan pemenang hadiah nobel. Namun, bagi Eric masa-masa genius itu hanya menjadi pembicaraan lampau seperti karya-karya Tagore yang senantiasa wajib mereka baca.
Wina, Austria.  Di sini kita akan mengenal Beethoven, Mozart, dan Freud? Ada yang lain? banyak tentunya. Genius itu tentang selera, tentang arus budaya yang saling membaur dan menciptakan lingkungannya. Pada masa itu, Wina adalah arus budaya karena merupakan persimpangan Internasiobal, bangsa lain-lain membaur di sini. Seperti dari bangsa Slavia, Hungaria, Spayol, Italia, Prancis, dan Flemish.

Ada yang menarik, dalam buku ini seorang warga Wina menggambarkan bahwa Wina adalah seperti Hedonisme yang lembut. Pada hari jum'at diatas jam dua siang mereka tak ada yang terlihat begitu sibuk bekerja, selain itu pekerjaan atau bagaimana seseorang mendapatkan sumber nafkah bukanlah urusan orang lain. Mereka tidak akan membicarakannya, karena hal tersebut bukan hal yang akan dibicarakan. Menarik lainnya adalah, mereka tetap memainkan musik dengan indah.             

Silicon Valley, California. Yang terjadi di Silicon Valley pun sama, genius itu menular. Tahun 1971, seorang jurnalis memberi nama satu kawasan dalam jurnal Electronic News, dengan nama Silicon Valley.
Di sinilah hidup industri-industri modern, siapa yang tidak kenal Apple dan Google? pemuda-pemuda kreatif dan inovatif tumbuh di sini, sejauh ini mereka begitu mapan dan menjadi spotlight bagi dunia teknologi masa kini.
***

Nah, gitu deh sekilas yang bisa saya review dari buku yang lumayan tebal ini. Dua bulan lalu saya bacanya, jadi banyak yang terlupa. Tulisan-tulisan Eric selalu menarik, perjalanannya yang selalu berisi dan membawa wawasan baru bagi pembaca, dengan bahasa yang sangat ringan dan mudah dipahami. Ia memiliki cara bercerita yang santai dan mengalir, saya merasa seperti mengikuti perjalananya kemana saja :)

See yaa...


*)Source Image: Doc.Pribadi&Google.
April 02, 2020

PLOT

by , in
"Plot adalah peta bagi seorang penulis ketika mengembara dalam belantara kata-kata." Mengutip dari seorang DEE Lestari, salah satu penulis terbaik yang dimiliki Indonesia. 

Plot yang saya maksudkan di sini adalah plot cerita dalam karya sastra. Dimana, plot atau alur cerita adalah serangkaian peristiwa yang runtut sesuai hubungan sebab-akibat. Dalam hal ini, rangkaian plot dapat disusun secara detil atau secara garis besar saja, seperti kata DEE, 70% kita dapat menulis cerita sesuai plot yang telah disusun, selanjutnya 30% adalah kejutan yang dapat ditemukan ketika proses menulis .

Penulis besar seperti DEE saja sangat membutuhkan Plot atau menyusun kerangka terlebih dahulu ketika akan menulis cerita yang cukup panjang, untuk menghindari tersesat ketika di tengah kepenulisan atau writer's block secara teknis. Lagi-lagi saya mengutip apa yang DEE katakan, dan sebetulnya saya menulis ini karena terinspirasi dari obrolan DEE ketika live di akun Instagramnya bersama Mizan tadi sore.

Ada yang cukup menggelitik saya tentang plot yang berantakan, apa itu plot yang berantakan? dan kenapa ya bisa begitu? 

Em, mungkin kira-kira begini, apa saja yang dapat dan seharusnya ada di dalam plot? barangkali fakta-fakta dari peristiwa yang akan ada dalam cerita, bagaimana cerita itu dimulai. Secara bertahap, apa saja yang harus kita tulis di dalam cerita nantinya, sudah tertuang di dalam plot tadi. 

Pendek kata, semua bahan untuk seluruh cerita yang akan kita garap sudah ada dalam plot cerita. Baik alurnya akan mundur maupun sebaliknya atau alur campuran dari keduanya, yang paling penting adalah hubungan sebab-akibat dari awal kepenulisan hingga akhir.

Bagaimana membuka cerita, mengenalkan para tokoh, meletakkan latar tempat dan waktu, menampilkan konflik hingga menggiring konflik tersebut, dan menyelesaikan konflik. 
Lalu bagaimana plot bisa dikatakan berantakan? gak tahu juga sih ya, saya belum pernah membaca cerita dengan plot yang membuat saya bingung dan merasa seperti ada yang gak beres. Tapi, khawatirnya justru ketika saya menulis, saya akan menulis dengan plot yang berantakan.

Oke, saya tarik kesimpulan, suatu plot cerita dikatakan berantakan ketika hubungan sebab-akibat terputus di beberapa bagian cerita. Atau ada beberapa konflik yang tidak saling terhubung dan membuat kebingungan bagi pembaca, ini yang mana konflik utama sih? atau, kok gak nyambung?

Pembaca tidak mendapatkan apa-apa dari yang ingin disampaikan oleh penulis, akhirnya sama-sama pada tersesat kan? ya penulis apalagi pembaca.

Ada 3 unsur penting dalam menyusun plot cerita, yaitu:

1. Tahap Awal

Umumnya pada tahap ini penulis akan mengenalkan berbagai latar cerita dan pengenalan tokoh. Memuat informasi-informasi penting yang mungkin saja akan menjadi garis hubung untuk penceritaan selanjutnya.

2. Tahap Tengah

Di sini penulis akan menyuguhkan konflik dan klimaks yang tentunya sangat berkaitan. Pada bagian ini pula akan menjadi semacam nyawa bagi cerita, di mana cerita akan digali sedalam-dalamnya melalui konflik yang terjadi dan tokoh-tokoh yang terlibat. 

Penulis akan menulis lebih panjang pada tahan ini.

3. Tahap Akhir
Bagaimana penulis akan mengakhiri konflik cerita, di mana penulis bisa membuat kejutan-kejutan untuk pembaca. Kepuasan pembaca akan di uji pada bagaimana seorang penulis menyelesaikan konflik yang ia ciptakan. Pada tahap ini, penulis harus menyusun dengan baik plotnya, karena ini akan menjadi acuan penting untuk menghindari kebablasan ketika menulis akhir cerita.

Ya, seperti itulah unsur klasik dalam penyusunan plot yang masih relevan hingga kini. Dan sebetulnya ada beberapa macam bentuk alur cerita, tapi lain kali ya saya bahas. :)




*)Source image: Pinterest&RiaMegaSariIllustration, Referensi: Google&Jurnal http://digilib.unila.ac.id/14686/7/II.pdf

January 21, 2020

Review Buku: Dua Dini Hari, oleh Chandra Bientang

by , in
Apa yang kamu bayangkan ketika mengetahui pembunuhan terhadap anak-anak yang mereka sebut 'anak jalanan,' yang mereka lakukan di sebelah kamar kos mu? "Ternyata selama ini aku bertetangga dengan mayat?"

Beneran deh novel ini bikin saya teringat-ingat untuk beberapa hari, dan sampe kebawa mimpi dong. Gak sampe mengguncang banget sih, cuman kejutan-kejutan dalam cerita ini bikin saya sakit hati. Dan kayaknya saya gak cocok deh sama akhir ceritanya, karena bagi saya akhir sebuah cerita yang sempurna adalah kisah yang memberi harapan dan semangat baru pada pembaca. Namun, kisah dalam novel ini sungguh pesimis. Bukan hal yang buruk sebenarnya, karena jenis akhir cerita kan macem-macem ya, cuman saya-nya aja kurang berkenan. Hehehee

Karena keburaman dari novel ini, saya berhenti dulu untuk baca fiksi dan beralih ke non fiksi. Karena 2 buku yang ada di waiting list saya selanjutnya juga tentang misteri dan penderitaan hidup seorang anak kecil. Nanti yah saya ceritain lagi. Karena gak mau shock-nya beruntun haha, bagi saya setiap cerita ada unsur-unsur yang melekat di alam bawah sadar saya dan seringkali mempengaruhi sudut pandang atau cara saya bersikap. Hihi, tapi gak seserius itu kok :)

Tapi, suami saya masih menunda ijin ngebaca The Catcher In The Rye, JD Salinger. Gegara suka kebawa mimpi dan hal-hal absurd lainnya :D. Berlebihan ya sayanya.

Chandra Bientang. Penulis novel ini, dia adalah salah satu pemenang penulis emerging di UWRF 2019 kemarin, jadi itulah yang membuat saya tertarik dan penasaran 'gimana sih tulisan si mbak Bientang ini?" Tapi, pada even itu Chandra Bientang menulis sebuah cerita pendek atau beberapa cerita pendek ya, lupa sih. Yang pasti bukan karya yang ia terbitkan ini. Saya pun menyusuri jejak karya si mbak Bientang, yang ternyata juga seorang penulis di Wattpad, wuhuuu :) Walaupun novelnya bukan terbitan Gramedia, tapi sudah beredar di toko  buku Gramedia dan juga sudah ada dalam bentuk ebook-nya.

Novel ini gak tebal sih, cuman sekitar 200-an lebih halaman aja. Karena cukup seru, sehari pun sebetulnya sudah selesai. Ngomong-ngomong, ini adalah novel pertama Chandra Bientang, dengan gendre Urban Thriller dia berhasil dapat beberapa penghargaan dari penerbit atau dari media online. Kalau gak salah sih begitu.

Dua Dini Hari, kepenulisannya cukup bagus untuk penulis pemula dengan novel pertamanya yang ia terbitkan. Ide ceritanya juga berbeda, dengan setting yang cukup dekat dengan kehidupan kita sekarang, deskripsinya menarik, mudah untuk di visualisasikan. Namun, ada juga yang saya sulit ngebayanginnya gimana.
Mungkin, kalau misal editornya agak ketat dan jeli, novel ini bisa lebih digali lagi. Kayak misal siapa sih dalang utama di balik rencana keji pembunuhan, kalau pun di sini kita dapat menebak-nebak, cuman harusnya lebih gamblang dari itu dengan alasan yang lebih politis mungkin. Kalau untuk ketertiban kota, rasanya terlalu sederhana aja gitu kenapa pembunuhan harus dilakukan. Atau barangkali deskripsinya yang terlalu ringan.

Intinya menurut saya, novel ini bisa bercerita lebih jauh lagi dan mengguncang. Denger-denger sih waktunya cukup singkat untuk menyelesaikan tulisan ini, mungkin itu salah satu sebab kenapa novel ini di beberapa bagian seperti terburu-buru.

Selamat ya mbak Chandra Bientang! Karyanya cukup bagus dan menambah variasi novel-novel karya penulis Indonesia. :)

Pilihan yang bagus untuk di baca, dan kamu akan kaget terus bertanya-tanya "Kenapa?"


*)source image: Google.